Kamis, 12 November 2015

Bulan Basah Kala Itu


Aku kumpulkan sebanyak mungkin
Novel-novel tebal , setebal mungkin

Aku ambil handphone,
Sebanyak mungkin sahabat di luar sana aku hubungi
Aku sambangi satu per satu
Bergiliran, menunggu malam

Aku lahap pekerjaan siapapun
Hingga jam kerja melebihi waktu biasa

Bulan basah kala itu
Ada yang ingin aku singkirkan dari pikiran
Tak ingin ada sedikitpun jeda ia bisa memasuki duniaku
Harus aku sibukkan
Dengan novel-novel tebal, setebal mungkin
Dengan sahabat di luar sana, sebanyak mungkin
Dengan pekerjaan tak biasa, sesibuk mungkin

Bulan basah kala itu
Aku bukan lagi si pencinta hujan, kala itu
Karena tiap tetesnya mengandung sendu
Bau hujan yang tajam, tak lagi semerbak wangi

Aku rampungkan satu cerita sendu
Dalam satu helaan nafas,
Di bulan basah hari ini
Dengan senyum simpul
Bersyukur,
Karena tanpa bulan basah sendu kala itu,
Aku tidak akan bertemu denganmu

Di bulan basah hangat hari ini 

Selasa, 22 September 2015

Karena Waktu Tuhan adalah Waktu Terbaik


Mengapa semua ini tidak terjadi sejak dulu ?
Jadi, aku tidak perlu menata ulang hati untuk bertemu denganmu.
Tidak juga perlu merasakan jatuh sebelum bertemu denganmu.

Mengapa semua ini tidak terjadi sejak dulu ?
Jadwal-jadwal konser memadati jadwal kencan kita.
Degupan jantung cepat yang aku rindukan, pun sesering apapun kita bertemu.
Senandung ceria bersama, ataupun tarian-tarian-yang entah kamu dapat darimana- memenuhi hari kita.

Mengapa semua ini tidak terjadi sejak dulu ?
Tidak kehabisan kata ketika bercerita panjang lebar dengan orangtuamu.
Atau kamu yang mulai perlahan menjadi bahan pembicaraan di rumahku.
melihat Sheila on 7 dengan adik ataupun kakakku.
Dan kamu akan menjadi salah satu orang penting di acara keluargaku.

Mengapa semua ini tidak terjadi sejak dulu ?
Bisa menghabiskan waktu dengan sahabatku, pun denganmu.
Sesekali menengok alam, menguatkan langkah, mengusir penat pekerjaan, 
tanpa takut apa-apa.

Mengapa semua ini tidak terjadi sejak dulu ?
Karena waktu Tuhan adalah waktu terbaik.
Mungkin, jika kita bertemu, bukan pada hari itu, 
mungkin saja kita tidak bergandeng tangan saat ini.
Aku masih sibuk berkutat dengan dia, mungkin kamu pun begitu.

Karena waktu Tuhan adalah waktu terbaik.
Mungkin jika kita bertemu sebelumnya, 
kamu tidak akan menemukan aku yang seperti saat ini.
Mungkin aku pun begitu,
Tuhan mempertemukan kita setelah kita berproses,
Setelah Tuhan mematahkan hatiku, menjadikan aku dewasa karena penerimaan masa lalu.
Setelah Tuhan menghentikanmu, dari semua yang lalu dan terlalu. 
Dan kemudian kita bertemu.
Saling menguatkan.

Karena waktu Tuhan adalah waktu terbaik.
Ketika pada akhirnya, Tuhan mempertemukan kita,
Yang sudah sama-sama berhenti mencari.
Dan merasa menjadi dua sisi berbeda yang disatukan Tuhan, di waktuNya yang tepat.

Mengapa semua ini tidak terjadi sejak dulu ?
Karena waktu Tuhan adalah yang terbaik.


Sabtu, 15 Agustus 2015

Mereka, yang Pergi


“Memutuskan bertahan di Jogja seringkali adalah kesiapan untuk selalu ditinggal orang-orang terbaik yang pernah kita kenal. Bertemu di Jogja, berkomunitas, berkegiatan, dan pada saatnya dia akan pergi, entah setelah lulus kuliah, entah setelah merasa bahwa Jogja kota yang tidak cocok untuk mengejar impian, entah setelah merasa bosan dengan kelambanan kota Jogja yang melenakan. Begitu terus, selalu berulang.”

Iya. Jogja yang penuh kenangan, begitu katanya.
Dan, aku merasa kehilangan, mereka.

Mereka, sosok yang menemani enam tahun berproses di kota Jogja.
Mereka, keluarga yang tidak akan pernah tergantikan.
Merekalah yang tahu bagaimana buta-nya aku akan kota Jogja.
Merekalah yang tahu bagaimana aku menjadi gila saat jatuh cinta dengan laki-laki di Jogja.
Merekalah yang tahu bagaimana jatuhnya aku dan terpuruknya aku saat patah hati kala itu.

Dengan merekalah aku bisa tertawa hingga menangis dan perut melilit, pun tubuh lemas.
Dengan merekalah aku bisa menangis tersedu-sedu tan pa tahu malu berantakannya aku saat itu.
Dengan merekalah aku bisa menjadi sangat bodoh dan menjadi bahan cemoohan, pun aku menerimanya tanpa pernah tersinggung.

Mereka, bahkan lebih tahu dari keluargaku, bagaimana jatuhnya aku saat itu.
Mereka, bahkan lebih tahu dari keluargaku, bagaimana aku menjadi kuat seperti saat ini.
Mereka, bahkan lebih tahu dari keluargaku, bagaimana Jogja menjadi kota yang tidak ingin aku tinggalkan, hingga saat ini.

Dan, mungkin benar adanya.
Aku, salah satu dari mereka yang memilih untuk tetap bertahan di Jogja.
Melihat mereka, orang-orang terbaik yang pernah aku miliki enam tahun ini, satu persatu pergi meninggalkan Jogja.
Mereka, memilih untuk mengejar masa depan di luar kota yang melenakan ini.
Mereka, memilih untuk kembali ke pelukan kota kelahiran.
Dan aku, melihatnya, mereka pergi.

Tidak ada lagi kos mereka yang aku kunjungi saat pikiran gundah.
Tidak ada lagi keramaian di kos, berteriak sana-sini, tertawa lepas tanpa takut Ibu kos mengamuk.
Tidak ada lagi nonton film bajakan di kos, sampai akhirnya tertidur tanpa tahu ending filmnya.

Aku pun, sebenarnya tidak akan pernah siap menjadi seseorang yang melihat mereka pergi.
Sampai kapanpun, mereka yang pergi, tidak akan pernah terganti.
Walaupun, pasti terjadi, akan ada teman, ataupun orang baik baru lainnya yang akan berada di sisi.
Karena bagiku, mereka keluarga, bukan teman.
Dan keluarga, tidak akan pernah “pergi” dari hati.
Dan tidak akan pernah terganti.

Sabtu, 01 Agustus 2015

Ia


Ia menghimpitku.
Perlahan.
Jengkal demi jengkal menelanjangi pikiranku.
Kuhempaskan ia, hingga tembok retak oleh kuatnya.
Semakin kuat ia mencoba merenggut pikiranku.
Dan semakin kuat pula nafasku terengah-engah.
Mencoba melepaskan diri.

Badanku semakin mengurus, karena ia datang setiap malam tiba.
Membawa ketakutan yang sama, pun bahkan lebih kuat dari malam ke malam.
Aku harus memejamkan mata, aku harus tertidur, karena ia tak mampu menggapaiku ketika aku tertidur. Ia tak akan mampu mengejarku ketika aku mulai sibuk menjelajahi mimpi.
Tapi sialnya, semakin aku memaksa, yang datang hanya menguap sana-sini.

Salahkan ia, karena aku jadi perempuan yang sangat membenci malam.
Aku takut, ia akan semakin menghancurkanku, menelanjangiku, dan hanya menyisakan kebodohan yang baru aku sadari ketika pagi datang.

Akankah ada seseorang yang membuatku mencintai malam ?
Membunuh ia yang tiap malamnya selalu aku cemaskan ?

Cepatlah, kemari.

Aku bosan takut.

Sabtu, 11 Juli 2015

Beruntungnya Aku


Based on Beruntungnya Aku – Sheila on 7.

meminta perhatian namun jarang menghiraukan
inginkan kesetiaan namun sering menduakan
semua itu salahku, aku di masa lalu tak cukup menyesalinya, jangan lagi mengulanginya

mengenal dirimu ku jalani denganmu
saat marah aku lupa semua kelebihanmu
mengingat awal kita memulai sebuah cerita
ada saat terluka hiasi masa bahagia

kau menyadarkan aku kita bukan makhluk sempurna mendekati pun tidak tanpa kau melengkapiku harus berkaca, hanya beginilah aku beruntungnya aku memiliki dirimu

akan ku bawa cermin ini kalau perlu sampai mati agar aku tak lagi lupa
selalu mensyukuri hari ini, denganmu aku berbagi beruntungnya aku


Terlalu asyik mencari yang sempurna, membuat kita terkadang lupa bersyukur atas apa yang telah kita miliki.
Menginginkan yang terbaik, tapi kita sendiri tidak pernah memperbaiki diri sendiri.

Beruntungnya aku, mengingatkan kita untuk selalu bersyukur, betapa beruntungnya kita memiliki seseorang, seperti yang saat ini ada di sisi kita, bagaimanapun keadaannya.

Mungkin memang tak sempurna.
Tak tampan rupawan, tak cantik jelita, tak tinggi semampai, tak berberat badan ideal, tak pintar beradu argumen, tak bergelimang harta, dan tak “sempurna” lainnya.

Beruntungnya kita.
Memiliki dia yang selalu ada di sisi. 
Dia yang memberikan banyak waktu untuk kita, hanya sekedar beradu argumen tak penting atau bersenandung lagu yang random.
Dia yang bersedia berbagi cerita pada kita atau bersedia mendengarkan cerita kita yang tak berjeda.
Dia yang menenangkan emosi sesaat kita atau menghapuskan air mata kita.
Dia yang memijat lembut tubuh kita saat aktivitas di luar menggerogoti tubuh kita.
Dia yang mengomel saat tubuh sakit tetapi masih saja keras kepala untuk beraktivitas berat.
Dia yang mengecup manis kening kita saat akhirnya harus pulang.
Dia yang selalu memaklumi dan memaafkan kesalahan kita, ataupun kita yang selalu bisa memaafkan kesalahannya.
Dan dia dengan segala yang terbaik dari dirinya.

Waktu. Sejatinya akan membuat kita semakin tersadar, bukan lagi yang sempurna yang kita cari.

Masa lalu. Sejatinya akan memberikan kita pelajaran, bahwa kesalahan lalu ada untuk kita sebagai proses menjadi seseorang yang jauh lebih baik.

Kita. Sejatinya adalah dua insan yang dipertemukan di waktu yang menurutNya tepat, berproses bersama dengan “saling”, dan memiliki satu mimpi yang sedang sama-sama diperjuangkan.

Beruntungnya aku, bertemu denganmu, pada masa saat ini.
Beruntungnya aku, dipertemukan denganmu, setelah masa-masa laluku, yang membentukku hingga seperti ini.

Beruntungnya aku, memiliki dirimu.

Senin, 29 Juni 2015

Beranjak Tidur


Satu teguk lagi, susu cokelat hangat malam itu, aku habiskan,
Dan setelahnya, usai membersihkan badan lengkap dengan tetek bengeknya, aku pun beranjak tidur
Lampu kumatikan, berdoa pun sudah aku selesaikan, memejamkan mata.
Sepuluh menit, berlalu.
Dua puluh menit, berlalu.
Tiga puluh menit, berlalu.
Ternyata malam mengajakku bercanda, mungkin dia ingin mengajakku melihat aku, lima tahun ke depan. Lucu ya.

Iseng, aku ikuti alur permainan malam itu. Sembari sesekali menahan nafas, atau tertawa sendiri, di balik selimut biru, kekasih malamku yang selalu menghangatkanku.

Umurku, dua puluh empat hari ini.
Lima tahun lagi ?
Aku tersenyum simpul.

Subuh, aku terbangun. Di sampingku nampak laki-laki masih tertidur dengan pulasnya. Kecupanku di keningnya, membangunkannya. “Selamat pagi, Sayang.” Sapaku seperti biasanya.
Bergegas kami memulai pagi dengan doa panjang, dan aku pun mulai berkutat di dapur lengkap dengan celemek kesayangan. Ah, lucunya, dua dino juniorku pun sepertinya juga sudah bersiap mengawali hari itu.
Semua sudah siap di meja makan. Peraturan penting di sini, jangan lewatkan sarapan di pagi hari. Sesibuk apapun.

Menjadi Ibu rumah tangga yang bekerja menjadi pilihanku saat itu, dengan catatan, aku harus sudah ada di rumah, sebelum anak dan ayahnya anak-anakku sampai di rumah. Satu catatan lagi, semua pekerjaan “Ibu” tidak boleh ada yang terbengkelai. Dan aku mencintai pilihanku.
Setelah bercakap singkat di meja makan, kami bergegas beraktifitas, iya, masing-masing, saling mengejar mimpi. Sampai nanti saatnya semua aktifitas luar usai, dan pulang ke rumah adalah tujuan mengakhiri hari.

Mungkin anakku akan menghabiskan sore harinya di halaman depan rumah, atau membaca buku di ruang baca rumah, atau asyik ikut bermain gitar dengan ayahnya.

Selalu saja ada cerita setiap harinya, selalu ada piknik di setiap akhir minggunya. Aku memiliki keluarga kecil yang menyenangkan. Sempurna.
Aku tersenyum simpul.

Ah, malam ini lucu sekali. Dengan membayangkannya saja aku bisa se-bahagia ini. Sepertinya, sudah tidak sabar lagi aku menghabiskan hidupku dengan mereka yang akan datang.

Sedikit terkejut ketika aku tersadar waktu menunjukkan pukul 23.00.
Cukup lama aku terbuai cerita malam ternyata. Kalau saja paginya aku tidak bergegas ke kantor, mungkin akan lebih lama lagi aku menghabiskan malam itu dengan cerita yang akan datang.

Aku menarik kembali selimutku, berdoa, dan tak lupa, mengirimkan satu pesan singkat untuknya di sana, “Selamat tidur, Sayang.”




Senin, 22 Juni 2015

Teruntuk Trio Dobo dan Cung-cung yang Terhormat


Ini mungkin udah sekitar tiga tahun lalu, Ramadhan tahun 2012. Tapi buat aku, Ramadhan tahun itu benar-benar jadi Ramadhan yang berkesan. At least, Ramadhan ber-lima, di tempat KKN-an, Berenan, Wates, Yogyakarta.

Iya, kangen banget Ramadhan pas jaman itu. Tapi tolong ya, di-skip buat bagian Perang Dunia ke-III versi kelompok kami. Haha. Iya, Perang Dunia ala lempar-lemparan kursi, lempar-lemparan kelapa (bisa bayangin ngerinya KKN-ku ? ), adu mulut, adu tangis, dan adu adu lainnya. Haha. Skip, please, skip.

Terus, bagian mana dong yang dikangenin ?

Bagian KKN pas kami ber-lima pindah ke basecamp baru. Berlima ? Siapa aja ?
Sebut saja ada Putra sang Ketua yang Terpojokkan, Cung-cung teman tidurku yang sempurna, Amin si Alim yang jadi khilaf pas KKN, dan Anang, makhluk yang tak terdefinisi.

Apa sih yang dikangenin ?
Kangen gimana dinginnya Wates pas sahur. Sial. Kelemahanku teridentifikasi setelah kejadian aku menggigil hebat cuma gara-gara keramas pagi-pagi.
Sahur pas di KKN-an mungkin mending nggak usah nyentuh air sama sekali. Beruntungnya kami pake catering, jadi nggak perlu ribet di dapur pas sahur :D
Subuhpun berjamaah di musholla. Walaupun aku harus rela menggerutukkan gigi, tangan, dan kaki buat jalan sampai musholla. Terima kasih cung-cung, untuk pelukan hangatnya setiap aku kedinginan (halah..)

Hari akan terasa sangat baik-baik saja sampai pada akhirnya waktu menunjukkan pukul 15.00. Itu berasa kami bakal masuk tantangan terberat seumur hidup. Tahu kenapa ? Karena.........kami harus mengajar anak-anak TPA. Haha...
Bukan, bukan. Bukan karena kami malas, bukan. Tapi lebih karena beringasnya anak-anak di sana. Fiuh. Itu mungkin membutuhkan Dopping Obat Kuat banyak buat menghadapi mereka selama sekitar dua jam, sampai waktunya adzan Magrib.
Tapi, hal beringas mereka justru bikin kangen sekarang. Mereka yang suka tiba-tiba naik ke atas punggung, minta gendong, mengeluarkan cakaran maut, lari sana-sini, main petasan, nemenin sampai nyebokin pipis, teriak sana-sini, ah, berarti umur mereka sekarang lebih tiga tahun dari saat itu.

Cerita yang menyenangkan ya setelah kami berlima benar-benar pindah basecamp. Di rumah Mas Kelik, gubuk seadanya, tapi jauh lebih menyenangkan dibandingkan tinggal bersepuluh dalam rumah “mewah” itu.
Aku, Cung-cung, dan Trio Dobo melakukan semua kegiatan KKN di gubuk itu. Dari bikin laporan, bikin matriks, makan bareng, nonton TV, tidur pun berlima kayak ikan dijejer-jejer dikeringin. Masih ingat gimana suksesnya bikin Cung-cung harus nyemplung kolam ikan yang mengerikan dan super bau itu ? Haha. Itu juga terjadi di basecamp kami yang baru.

Dari situ, keluarga kami jadi banyak. Nggak Cuma keluarganya Mas Kelik yang senantiasa masakin kami makanan macam-macam, tapi sampe pemuda-pemudi yang jadi saudara kami sampai sekarang ini.
Puncaknya pas malam perpisahan yang kami ber-lima kumpul sama pemuda-pemuda Berenan. Itu benar-benar jauh dari kata KKN. Kuliah Kerja Nyata. Lebih ke istilah “main-main bareng” kalau saat itu, walaupun imbasnya ke buruknya hubungan internal antartemen satu kelompok KKN dan nilai KKN kami.
Tapi, untuk apa nilai A kalau hubungan sama warga sana buruk ? J

Aku kangen KKN yang ber-lima. Kangen.
Kangen dikelonin cung-cung pas tidur, kangen curhat sama cung-cung, kangen tiba-tiba menghilang sama cung-cung, kangen Trio Dobo yang nggak pernah sepi, kangen Trio Dobo yang suka saling mengejek, aku kangen kalian :D

Hai Putra, Anang, Amin, Cung-cung ? Nyanyi soundtrack lagu kita Long Live My Family-nya Endank Soekamti atau Sebuah Kisah Klasik-nya Sheila on 7 dong :D

Teruntuk Trio Dobo dan Cung-cung yang Terhormat.
Suatu kebanggaan bagi saya meletakkan kalian berempat menjadi satu tempat di dalam otak kenangan saya. Tidak akan pernah saya merasa rugi menghabiskan dua bulan bersama kalian  berlima (kecuali bagian-bagian tertentu yang pada akhirnya hanya bisa kita tertawakan) .
Semoga, kita, bisa bercerita panjang lebar pada anak kita, jika suatu saat anak kita yang kuliah semester enam menanyakan ke kita "Pak/Bu, KKN itu kayak gimana ?"
Jadi, bagian KKN mana yang akan kalian ceritakan ? haha.


Rabu, 20 Mei 2015

Yang Lalu.


Pagi hari kala itu, aku menghela nafas cukup panjang, ada yang sedang ingin aku pikirkan.
Di setiap helaannya, aku bersyukur untuk apa yang sedang terjadi saat ini.
Berterima kasih, untuk semua yang telah terjadi.

Satu detik yang lalu, bukankah itu juga masa lalu ?
Apa yang bisa kita lakukan selain bersyukur pada masa lalu ?

Iya, berterima kasihlah.
Tuhan menempa kita, mendekatkan kita padaNya dengan ujian.
Tanpa pelajaran, mau jadi apa hidup kita ?
Semua yang telah terjadi, membentuk kita menjadi seperti saat ini.

Masa lalu, mau dipikir sedemikian rupa, tidak akan pernah berubah, dan tidak akan pernah kembali.
Yang berlalu, sudahlah.
Kita punya ribuan detik di masa depan, yang harus kita jaga.

Lalu, harus kita letakkan dimana masa lalu kita ?
Tetap letakkan disitu, sebagai kenangan. Sebagai pembentuk. Indah untuk disinggahi tapi tidak untuk ditempati kembali.

Berterima kasihlah pada masa lalu.
Dan, biarkan ia tetap berada disitu. Jangan diusik. Karena ia tidak akan berubah. Karena sekarang dan nanti, lebih berhak kita genggam dan kita jaga.

Dan kamu, yang lalu.
Kamu sudah berlalu, kisahmupun sudah terganti.
Buat cerita barumu, dengan sekarangmu dan nantimu.

Berbahagialah dengan caramu.
dan terima kasih untuk ceritamu.

Senin, 11 Mei 2015

Aku (Bukan) Perempuan Biasa


Aku, perempuan biasa .
Bukan perempuan perkasa yang mampu menaklukkan gunung.
Menempuh jarak berkilo-kilometer untuk mencapai puncak tinggi

Akupun perempuan biasa,
Pintar memasakpun tidak
Sekalipun berkutat di dapur, setengah jam untuk menyiapkan bahan, limabelas menit untuk memasak, setengah jam berikutnya untuk membersihkan berantakannya dapur setelah aku pakai.

Akupun bukan perempuan dengan karir kerja sangat cemerlang,
Laporan keuangan bulanan terkadang tidak tepat waktu, mencari selisih angkapun harus aku bawa pulang ke kos untuk lebih aku cermati
Tidak banyak ide yang aku sampaikan dalam rapat Dinas.

Aku, perempuan biasa.
Yang masih merengek minta kerik Bapak karena angin begitu mudah masuk tubuhku.
Yang masih bergelut manja dengan Mama saat Sabtu-Minggu, kesempatan yang saat ini sangat sulit aku temukan.
Yang masih menangis melihat dari kaca jendela kereta ketika Bapak menunggui kereta keberangkatanku ke Jogja berangkat,
Yang masih memaksa senyum padahal sangat ingin menangis ketika berpamitan dengan Mama untuk kembali ke perantauan.

Akupun hanya perempuan biasa,
Bergelayut manja di lengan terkasih, yang mampu membuatku merasa sangat nyaman
Beradu argumen tak mau kalah, bahkan untuk hal-hal kecil tidak penting, yang terselesaikan dengan pelukan manja

Akupun perempuan biasa,
Tidak tinggi semampai, cenderung kurus dan kuning langsat.
Bukan tipikal cantik dengan rambut terurai, ataupun badan aduhai dambaan laki-laki.

Aku perempuan biasa,
Terlalu sering eyeliner berantakan, lipstickpun tidak merah merona.
Tak banyak heels atau wedges yang aku punya.
Sneaker anti-cuci yang selalu aku andalkan, atau flatshoes nyaman yang baru aku ganti jika sekiranya sudah benar-benar belel.

Seperti inilah aku,
Yang mungkin jauh dari tipikal perempuan dambaan.
Tidak perkasa, masakpun hanya sekedarnya, pakaianpun jauh dari terlihat feminim.

Satu yang aku pastikan bahwa aku bukan perempuan biasa.
Aku sangat mencintai keluarga.
Teruntuk itulah, sebiasa apapun aku sebagai perempuan, sekuat kemampuanku, aku akan menjadi perempuan luar biasa untuk keluargaku.

Tidak usah risaukan anakmu nanti.
Nyawapun, akan aku relakan untuk membahagiakannya.

Jangan takut kehabisan pakaian, ataupun stock makanan harian.
Jangan takut rumah kita berantakan, atau kotoran kucing peliharaan dimana-mana.
Jangan takut anak kita kekurangan ciuman atau pelukan.
Jangan takut pendidikan anak kita tidak lebih tinggi dari kita.
Jangan takut anak kita tidak sering melihat alam.
Aku, perempuan biasa yang akan menjadi luar biasa, untuk kehidupan kita nantinya.
Percayakan padaku.
Aku akan menjadi luar biasa untuk kita.

Selasa, 14 April 2015

Selamat Datang


Dia,
Seseorang yang aku tahu pernah ada, tapi aku biarkan berlalu, dulu.

Dia,
Tempat dimana aku bercerita tentangnya yang dahulu,

Dia,
Yang tertawa saat aku bersedih,
Yang menari saat aku tertawa lepas,

Dia,
Yang fasih menari ala-ala spongebob, atau shinchan

Dia,
Seseorang yang antusias bercerita Kazao salah potong rambut, Mail yang pintar, atau bersenandung kecil lagu kartun tahun sembilan puluhan

Dia,
Yang mampu bercerita panjang lebar tanpa jeda, dan yang membuat kita tidak pernah kehabisan bahan bercerita dan tertawa

Dia,
Membuatku lupa aku alergi dingin, sehingga mampu berlama-lama melihat Banda Neira outdoor ditemani hujan deras.
Membuatku lupa aku takut keramaian, sehingga mampu berteriak lantang saat Sheila on 7 menyanyikan lagu Tunjukkan Padaku yang sepertinya memang hanya untukku.
Membuatku lupa aku yang mudah lelah, sehingga mampu membawaku bermotor-motoran hanya untuk menikmati Candi.

Dia,
Yang tak peduli pakaian apa yang aku pakai, kerudung apa yang cocok untuk aku pakai, atau sepatu apa yang seharusnya aku pakai.

Dia,
yang mampu membuatku betah berlama-lama sms, hanya dengan adu emoticon.

Dia,
Yang mampu mengikuti ritme hidupku dengan mood yang berubah-ubah.

Dia,
Seseorang yang datang saat hujan reda.


"Selamat Datang."

Rabu, 11 Maret 2015

Kalau Kamu Mengerti, Aku akan Tenang Mempercayakan Putriku Padamu


Menemukan artikel, sebuah surat dari Ayah untuk calon suami putrinya.

Untuk orang yang akan menemani putriku, yang akan menua bersama hingga maut datang menjemput.

Halo, nak. Sebelumnya aku tidak pernah bertemu denganmu, tapi aku tahu bagaimana efek kehadiranmu di hidup putriku karena aku melihat ada perubahan di diri putriku. Tahukah kamu kalau dia jadi lebih lama ketika mandi? Aku tahu setiap kali ia membawa berbagai produk kecantikannya masuk ke kamar mandi, dia pasti akan menghabiskan waktu yang lama di kamar mandi. Tahukah kamu dia menghabiskan waktunya di depan laptop untuk belajar membuat masakan kesukaanmu? Satu kali, dua kali, tiga kali dia mencoba dan aku-serta istriku-dan seisi keluarga sering jadi kelinci percobaannya. Tahukah kamu bahwa dia sering grogi sebelum pergi bersamamu? Dia menghabiskan waktu berjam-jam di kamarnya cuma memilih baju terbaik dan dandan secantik mungkin. Padahal menurutku, apapun yang dipakai putriku, ia selalu terlihat cantik. Tahukah kamu bahwa dia sering pulang, masuk ke rumah dengan senyum yang sangat lebar setiap kali pulang dari pergi bersamamu? Senyum itu dulu cuma jadi milikku dan istriku, ketika kami membelikannya boneka kesukaannya. Senyum itu cuma jadi milikku dan istriku ketika ia tampil di pentas sekolah dan berhasil menemukan kami di tengah keramaian.

Aku tidak marah, aku juga tidak iri. Aku tahu suatu hari, momen ini akan datang. Momen dimana aku akan memegang tangannya untuk yang terakhir kali dan menyerahkannya kepadamu. Momen dimana aku akan pensiun jadi pahlawannya dan kamu yang akan menggantikan peranku itu. Walau aku tahu, dia akan selalu menganggapku sebagai pahlawan nomor satu dalam hidupnya. Tapi, percayalah, nak. Dia juga akan mengandalkan dirimu.
Jadi, aku cuma ingin berpesan. Maafkan kalau aku memang cerewet, tapi percayalah, istriku bisa menulis sebuah novel 1.000 halaman dan aku mungkin hanya akan menulis dua sampai tiga halaman saja. Nak, putriku mungkin bukan perempuan paling sempurna yang akan kamu temui di dunia, dia juga bukan perempuan paling cantik yang mungkin hadir di hidupmu. Tapi kamu harus yakin dan percaya sebelum menghabiskan sisa hidupmu bersama dirinya, dia lah satu-satunya perempuan yang memang pas dan cocok untuk hidup bersamamu setiap hari. Yakinkan dirimu bahwa dia satu-satunya perempuan yang bisa membantumu menjadi lelaki yang lebih kuat, lebih baik dan lebih dewasa setiap hari. Aku tahu, hidup kalian nanti tidak akan selalu penuh dengan tawa seperti yang kalian jalani sekarang, tapi aku ingin kalian berdua tetap memegang erat tangan satu sama lain, jangan pernah lepaskan, sehebat apapun badai yang menerpa kalian.

Tolong pertahankan senyum lebar yang selalu ia pasang setelah bertemu dirimu, karena aku dan istriku tidak akan selalu di sana untuk membuatnya tersenyum.
Tolong bantu dia untuk berdiri dan berjalan, bahkan berlari ketika dia terjatuh seperti yang aku dan istriku lakukan ketika dia masih jadi putri kecil kami.
Tolong tegur dan peringati putriku kalau dia memang berjalan ke arah yang salah, seperti yang aku dan istriku lakukan ketika dia salah mengambil jalan dalam hidup.

Yang terpenting, buat putriku selalu merasa dia berada di rumah ketika bersamamu. Tidak ada yang lebih penting selain rumah karena di sana tempat kalian berteduh, berlindung dan berkumpul bersama. Rumah adalah tempat pelarian terakhirmu. Buat dia nyaman, buat dia bahagia karena aku dan istriku tidak akan selalu di sini untuk membahagiakannya. Aku tidak bisa memberikan cinta seperti yang kamu berikan kepadanya, jadi aku yakin kamu punya kemampuan untuk mengerti dirinya.
Baiklah, aku sekarang sudah terdengar seperti istriku. Terima kasih sudah mendengarkan pesan panjangku ini. Aku sudah lebih lega sekarang seraya melihat kalian berdua menua bersama-sama.

Ditulis penuh rasa syukur dan bahagia,
Calon Ayah Mertuamu.



Mungkin semua Ayah akan merasakan hal seperti di atas,
Pak, siapapun yang akan mendampingi aku kelak,
Engkaulah cinta pertamaku,
laki-laki yang tidak akan pernah menyakitiku.
laki-laki yang sangat aku cintai.
You're always be my first love, pak :)

Link artikel di atas : http://www.idntimes.com/relationship/dating/248/Nak-Sebelum-Kamu-Hidup-Bersama-Putriku-di-Masa-Depan-Mau-Kah-Kamu-Membaca-Pesanku-Ini

Senin, 02 Maret 2015

Patah Hati


Sejenak aku menghela nafas ketika membaca novel Koala Kumal karangan Raditya Dika.
Ada satu paragraf yang membuatku aku terhenyak,

Kira-kira, begini bunyinya,
Nyokap lalu bertanya, "Dik, kamu tahu gak istilah Mama untuk orang yang sudah pernah merasakan patah hati ?" 
"Apa, Ma ?"
Nyokap menatap mata gue, lalu bilang, "Dewasa".

Iya, satu paragraf itu benar.
Mungkin dewasa tidak selalu kelihatan nyata.
Bahkan justru ketika kita patah hati, kita akan merasa bahwa Tuhan tidak adil memberikan ending cerita yang tidak sesuai dengan keinginan kita.
Dari yang nangis semalaman, merasa semua lagu patah hati itu ditujukan khusus buat kita, curhat sana-sini, dan berbagai cara lain untuk “menenangkan.”
Wajar dan sangat manusiawi.
Dengan begitu, kita jadi tahu, ternyata kita masih punya “perasaan” untuk merasakan sakit.

Tapi, sebenarnya, dari situlah kita berproses menjadi dewasa.
Sekali lagi, mungkin memang tidak nampak.
Coba perhatikan detail-detail kecil.
Mungkin, setelah masa-masa sulit itu, kita akan masuk ke proses penerimaan.
Menerima, karena tidak semua yang kita inginkan harus kita dapatkan.
Dari situlah kita belajar bagaimana ikhlas.
Walaupun mungkin untuk menuju ikhlas itu, kita harus membuat orang yang menyakiti kita terlihat jelek setidaknya di mata kita.

Lalu, kita akan punya banyak waktu untuk mencintai diri kita sendiri.
Berhenti menangis, membesarkan hati, meluangkan banyak waktu untuk memberi penghargaan pada diri sendiri, adalah satu bentuk dewasa untuk mencintai diri sendiri.
Terkadang kita lupa untuk mencintai diri sendiri ketika kita sibuk mencintai orang lain yang mematahkan hati kita.

Setelah proses menerima dan berdamai dengan diri sendiri, setidaknya akan ada banyak pandangan baru tentang kehidupan kita.
Kita mendewasa dengan sendirinya melalui proses patah hati itu.
Kita akan lebih tahu sosok seperti apa yang seharusnya kita pilih nantinya agar kita tidak lagi terjebak pada patah hati yang sama.
Kita akan lebih memahami, masa lalu memang baik untuk dikenang, tapi tidak untuk disinggahi kembali dengan “pribadi” yang sama di masa lalu, tanpa perubahan.
Kita akan lebih menghargai orang-orang di samping kita, yang mungkin sebenarnya dia selalu ada, tapi tidak pernah kita sadari, karena kita terlalu fokus dengan patah hati.
Dan satu yang tidak boleh kita lupakan, percayalah, Tuhan menyelamatkanmu dari orang-orang yang salah dengan mematahkan hatimu.

Selamat menjadi dewasa, kaum yang pernah patah hati.
Berterima kasihlah pada masa lalu yang menguatkanmu. Dan beruntunglah mereka yang menemukanmu setelah proses patah hatimu, karena kamu menjadi pribadi yang baru, yang jauh lebih baik.


Dewasalah.

Rabu, 11 Februari 2015

Apa Kabar ?


Hei, apa kabar ? aku ingin bercerita, banyak.
Tentang apa yang mungkin sekarang sama sekali tidak kamu ketahui.
Hehe.. iya.
Dahulu, bahkan hari yang sangat membosankan pun bisa aku ceritakan padamu.
Tentang kebodohan-kebodohan yang terjadi, walaupun kamu menanggapinya dengan sekenanya.

Aku pencerita yang punya banyak bahan untuk diceritakan.
Kamu pasti tahu itu.
Tapi sayangnya, sekarang, banyak cerita yang mungkin kamu lewatkan.

Apakah kamu merindukan saat-saat kita duduk berdua,
Menceritakan apapun yang terjadi hari itu.

Bahkan tidak saat kita bertatap, aku bercerita denganmu hingga aku tertidur lelap.

Kamu, teman penceritaku.

Sepertinya, aku merindukanmu.
Bukan.. bukan,

Sepertinya, aku merindukan cerita kita.