Satu teguk lagi,
susu cokelat hangat malam itu, aku habiskan,
Dan setelahnya,
usai membersihkan badan lengkap dengan tetek bengeknya, aku pun beranjak tidur
Lampu kumatikan,
berdoa pun sudah aku selesaikan, memejamkan mata.
Sepuluh menit,
berlalu.
Dua puluh menit,
berlalu.
Tiga puluh menit,
berlalu.
Ternyata malam
mengajakku bercanda, mungkin dia ingin mengajakku melihat aku, lima tahun ke
depan. Lucu ya.
Iseng, aku ikuti
alur permainan malam itu. Sembari sesekali menahan nafas, atau tertawa sendiri,
di balik selimut biru, kekasih malamku yang selalu menghangatkanku.
Umurku, dua puluh
empat hari ini.
Lima tahun lagi ?
Aku tersenyum
simpul.
Subuh, aku
terbangun. Di sampingku nampak laki-laki masih tertidur dengan pulasnya.
Kecupanku di keningnya, membangunkannya. “Selamat pagi, Sayang.” Sapaku seperti
biasanya.
Bergegas kami
memulai pagi dengan doa panjang, dan aku pun mulai berkutat di dapur lengkap
dengan celemek kesayangan. Ah, lucunya, dua dino juniorku pun sepertinya juga
sudah bersiap mengawali hari itu.
Semua sudah siap
di meja makan. Peraturan penting di sini, jangan lewatkan sarapan di pagi hari.
Sesibuk apapun.
Menjadi Ibu rumah
tangga yang bekerja menjadi pilihanku saat itu, dengan catatan, aku harus sudah
ada di rumah, sebelum anak dan ayahnya anak-anakku sampai di rumah. Satu
catatan lagi, semua pekerjaan “Ibu” tidak boleh ada yang terbengkelai. Dan aku
mencintai pilihanku.
Setelah bercakap
singkat di meja makan, kami bergegas beraktifitas, iya, masing-masing, saling
mengejar mimpi. Sampai nanti saatnya semua aktifitas luar usai, dan pulang ke
rumah adalah tujuan mengakhiri hari.
Mungkin anakku
akan menghabiskan sore harinya di halaman depan rumah, atau membaca buku di
ruang baca rumah, atau asyik ikut bermain gitar dengan ayahnya.
Selalu saja ada
cerita setiap harinya, selalu ada piknik di setiap akhir minggunya. Aku
memiliki keluarga kecil yang menyenangkan. Sempurna.
Aku tersenyum
simpul.
Ah, malam ini
lucu sekali. Dengan membayangkannya saja aku bisa se-bahagia ini. Sepertinya, sudah
tidak sabar lagi aku menghabiskan hidupku dengan mereka yang akan datang.
Sedikit terkejut
ketika aku tersadar waktu menunjukkan pukul 23.00.
Cukup lama aku
terbuai cerita malam ternyata. Kalau saja paginya aku tidak bergegas ke kantor,
mungkin akan lebih lama lagi aku menghabiskan malam itu dengan cerita yang akan
datang.
Aku menarik
kembali selimutku, berdoa, dan tak lupa, mengirimkan satu pesan singkat
untuknya di sana, “Selamat tidur, Sayang.”
0 komentar:
Posting Komentar