Senin, 29 Juni 2015

Beranjak Tidur


Satu teguk lagi, susu cokelat hangat malam itu, aku habiskan,
Dan setelahnya, usai membersihkan badan lengkap dengan tetek bengeknya, aku pun beranjak tidur
Lampu kumatikan, berdoa pun sudah aku selesaikan, memejamkan mata.
Sepuluh menit, berlalu.
Dua puluh menit, berlalu.
Tiga puluh menit, berlalu.
Ternyata malam mengajakku bercanda, mungkin dia ingin mengajakku melihat aku, lima tahun ke depan. Lucu ya.

Iseng, aku ikuti alur permainan malam itu. Sembari sesekali menahan nafas, atau tertawa sendiri, di balik selimut biru, kekasih malamku yang selalu menghangatkanku.

Umurku, dua puluh empat hari ini.
Lima tahun lagi ?
Aku tersenyum simpul.

Subuh, aku terbangun. Di sampingku nampak laki-laki masih tertidur dengan pulasnya. Kecupanku di keningnya, membangunkannya. “Selamat pagi, Sayang.” Sapaku seperti biasanya.
Bergegas kami memulai pagi dengan doa panjang, dan aku pun mulai berkutat di dapur lengkap dengan celemek kesayangan. Ah, lucunya, dua dino juniorku pun sepertinya juga sudah bersiap mengawali hari itu.
Semua sudah siap di meja makan. Peraturan penting di sini, jangan lewatkan sarapan di pagi hari. Sesibuk apapun.

Menjadi Ibu rumah tangga yang bekerja menjadi pilihanku saat itu, dengan catatan, aku harus sudah ada di rumah, sebelum anak dan ayahnya anak-anakku sampai di rumah. Satu catatan lagi, semua pekerjaan “Ibu” tidak boleh ada yang terbengkelai. Dan aku mencintai pilihanku.
Setelah bercakap singkat di meja makan, kami bergegas beraktifitas, iya, masing-masing, saling mengejar mimpi. Sampai nanti saatnya semua aktifitas luar usai, dan pulang ke rumah adalah tujuan mengakhiri hari.

Mungkin anakku akan menghabiskan sore harinya di halaman depan rumah, atau membaca buku di ruang baca rumah, atau asyik ikut bermain gitar dengan ayahnya.

Selalu saja ada cerita setiap harinya, selalu ada piknik di setiap akhir minggunya. Aku memiliki keluarga kecil yang menyenangkan. Sempurna.
Aku tersenyum simpul.

Ah, malam ini lucu sekali. Dengan membayangkannya saja aku bisa se-bahagia ini. Sepertinya, sudah tidak sabar lagi aku menghabiskan hidupku dengan mereka yang akan datang.

Sedikit terkejut ketika aku tersadar waktu menunjukkan pukul 23.00.
Cukup lama aku terbuai cerita malam ternyata. Kalau saja paginya aku tidak bergegas ke kantor, mungkin akan lebih lama lagi aku menghabiskan malam itu dengan cerita yang akan datang.

Aku menarik kembali selimutku, berdoa, dan tak lupa, mengirimkan satu pesan singkat untuknya di sana, “Selamat tidur, Sayang.”




0 komentar:

Posting Komentar