Sejenak aku
menghela nafas ketika membaca novel Koala Kumal karangan Raditya Dika.
Ada satu paragraf
yang membuatku aku terhenyak,
Kira-kira, begini
bunyinya,
Nyokap lalu bertanya, "Dik, kamu tahu gak
istilah Mama untuk orang yang sudah pernah merasakan patah hati ?"
"Apa, Ma ?"
Nyokap menatap mata gue, lalu bilang, "Dewasa".
"Apa, Ma ?"
Nyokap menatap mata gue, lalu bilang, "Dewasa".
Iya, satu paragraf itu benar.
Mungkin dewasa tidak selalu kelihatan nyata.
Bahkan justru ketika kita patah hati, kita akan merasa
bahwa Tuhan tidak adil memberikan ending cerita yang tidak sesuai dengan
keinginan kita.
Dari yang nangis semalaman, merasa semua lagu patah hati
itu ditujukan khusus buat kita, curhat sana-sini, dan berbagai cara lain untuk
“menenangkan.”
Wajar dan sangat manusiawi.
Dengan begitu, kita jadi tahu, ternyata kita masih punya
“perasaan” untuk merasakan sakit.
Tapi, sebenarnya, dari situlah kita berproses menjadi
dewasa.
Sekali lagi, mungkin memang tidak nampak.
Coba perhatikan detail-detail kecil.
Mungkin, setelah masa-masa sulit itu, kita akan masuk ke
proses penerimaan.
Menerima, karena tidak semua yang kita inginkan harus
kita dapatkan.
Dari situlah kita belajar bagaimana ikhlas.
Walaupun mungkin untuk menuju ikhlas itu, kita harus
membuat orang yang menyakiti kita terlihat jelek setidaknya di mata kita.
Lalu, kita akan punya banyak waktu untuk mencintai diri
kita sendiri.
Berhenti menangis, membesarkan hati, meluangkan banyak
waktu untuk memberi penghargaan pada diri sendiri, adalah satu bentuk dewasa
untuk mencintai diri sendiri.
Terkadang kita lupa untuk mencintai diri sendiri ketika
kita sibuk mencintai orang lain yang mematahkan hati kita.
Setelah proses menerima dan berdamai dengan diri sendiri,
setidaknya akan ada banyak pandangan baru tentang kehidupan kita.
Kita mendewasa dengan sendirinya melalui proses patah
hati itu.
Kita akan lebih tahu sosok seperti apa yang seharusnya
kita pilih nantinya agar kita tidak lagi terjebak pada patah hati yang sama.
Kita akan lebih memahami, masa lalu memang baik untuk
dikenang, tapi tidak untuk disinggahi kembali dengan “pribadi” yang sama di
masa lalu, tanpa perubahan.
Kita akan lebih menghargai orang-orang di samping kita,
yang mungkin sebenarnya dia selalu ada, tapi tidak pernah kita sadari, karena
kita terlalu fokus dengan patah hati.
Dan satu yang tidak boleh kita lupakan, percayalah, Tuhan
menyelamatkanmu dari orang-orang yang salah dengan mematahkan hatimu.
Selamat menjadi dewasa, kaum yang pernah patah hati.
Berterima kasihlah pada masa lalu yang menguatkanmu. Dan
beruntunglah mereka yang menemukanmu setelah proses patah hatimu, karena kamu
menjadi pribadi yang baru, yang jauh lebih baik.
Dewasalah.
0 komentar:
Posting Komentar