Ia menghimpitku.
Perlahan.
Jengkal demi jengkal menelanjangi pikiranku.
Kuhempaskan ia, hingga tembok retak oleh kuatnya.
Semakin kuat ia mencoba merenggut pikiranku.
Dan semakin kuat pula nafasku terengah-engah.
Mencoba melepaskan diri.
Badanku semakin mengurus, karena ia datang setiap malam
tiba.
Membawa ketakutan yang sama, pun bahkan lebih kuat dari
malam ke malam.
Aku harus memejamkan mata, aku harus tertidur, karena ia
tak mampu menggapaiku ketika aku tertidur. Ia tak akan mampu mengejarku ketika
aku mulai sibuk menjelajahi mimpi.
Tapi sialnya, semakin aku memaksa, yang datang hanya
menguap sana-sini.
Salahkan ia, karena aku jadi perempuan yang sangat
membenci malam.
Aku takut, ia akan semakin menghancurkanku,
menelanjangiku, dan hanya menyisakan kebodohan yang baru aku sadari ketika pagi
datang.
Akankah ada seseorang yang membuatku mencintai malam ?
Membunuh ia yang tiap malamnya selalu aku cemaskan ?
Cepatlah, kemari.
Aku bosan takut.
0 komentar:
Posting Komentar