Sabtu, 15 Agustus 2015

Mereka, yang Pergi


“Memutuskan bertahan di Jogja seringkali adalah kesiapan untuk selalu ditinggal orang-orang terbaik yang pernah kita kenal. Bertemu di Jogja, berkomunitas, berkegiatan, dan pada saatnya dia akan pergi, entah setelah lulus kuliah, entah setelah merasa bahwa Jogja kota yang tidak cocok untuk mengejar impian, entah setelah merasa bosan dengan kelambanan kota Jogja yang melenakan. Begitu terus, selalu berulang.”

Iya. Jogja yang penuh kenangan, begitu katanya.
Dan, aku merasa kehilangan, mereka.

Mereka, sosok yang menemani enam tahun berproses di kota Jogja.
Mereka, keluarga yang tidak akan pernah tergantikan.
Merekalah yang tahu bagaimana buta-nya aku akan kota Jogja.
Merekalah yang tahu bagaimana aku menjadi gila saat jatuh cinta dengan laki-laki di Jogja.
Merekalah yang tahu bagaimana jatuhnya aku dan terpuruknya aku saat patah hati kala itu.

Dengan merekalah aku bisa tertawa hingga menangis dan perut melilit, pun tubuh lemas.
Dengan merekalah aku bisa menangis tersedu-sedu tan pa tahu malu berantakannya aku saat itu.
Dengan merekalah aku bisa menjadi sangat bodoh dan menjadi bahan cemoohan, pun aku menerimanya tanpa pernah tersinggung.

Mereka, bahkan lebih tahu dari keluargaku, bagaimana jatuhnya aku saat itu.
Mereka, bahkan lebih tahu dari keluargaku, bagaimana aku menjadi kuat seperti saat ini.
Mereka, bahkan lebih tahu dari keluargaku, bagaimana Jogja menjadi kota yang tidak ingin aku tinggalkan, hingga saat ini.

Dan, mungkin benar adanya.
Aku, salah satu dari mereka yang memilih untuk tetap bertahan di Jogja.
Melihat mereka, orang-orang terbaik yang pernah aku miliki enam tahun ini, satu persatu pergi meninggalkan Jogja.
Mereka, memilih untuk mengejar masa depan di luar kota yang melenakan ini.
Mereka, memilih untuk kembali ke pelukan kota kelahiran.
Dan aku, melihatnya, mereka pergi.

Tidak ada lagi kos mereka yang aku kunjungi saat pikiran gundah.
Tidak ada lagi keramaian di kos, berteriak sana-sini, tertawa lepas tanpa takut Ibu kos mengamuk.
Tidak ada lagi nonton film bajakan di kos, sampai akhirnya tertidur tanpa tahu ending filmnya.

Aku pun, sebenarnya tidak akan pernah siap menjadi seseorang yang melihat mereka pergi.
Sampai kapanpun, mereka yang pergi, tidak akan pernah terganti.
Walaupun, pasti terjadi, akan ada teman, ataupun orang baik baru lainnya yang akan berada di sisi.
Karena bagiku, mereka keluarga, bukan teman.
Dan keluarga, tidak akan pernah “pergi” dari hati.
Dan tidak akan pernah terganti.

0 komentar:

Posting Komentar