Rabu, 17 Desember 2014

Bagaimana Jika ?


Bagaimana jika, di suatu malam tak sedetikpun aku bisa memejamkan mata,
Kantuk terasa kuat, matapun sulit untuk terbuka,
Tetapi tak sedetikpun aku bisa tertidur,
Yang biasanya hanya dengan memejamkan mata sekejap, aku bisa merengkuh duniaku dalam mimpi

Bagaimana jika, di suatu pagi, sesegar apapun udara yang aku hirup, terasa sesak di dada
Pagi yang baru, seakan masih pagi yang kemarin
Ingin melangkah, tapi ada yang tertinggal
Ingin terjaga, tetapi tidurpun tidak

Bagaimana jika, di suatu senja aku tak lagi merasakan empat puluh tujuh detik yang menakjubkan saat matahari menari di orange-nya langit
Semua berlalu begitu saja,
Terang tiba-tiba menjadi gelap, terik tiba-tiba menjadi gelap, tanpa aku merasakan senja

Bagaimana jika, semua itu aku hancurkan saja ?
Malam tanpa memejamkan mata
Pagi dengan sesak di dada
Senja tanpa empat puluh tujuh detik yang menakjubkan.

Bagaimana jika,
Aku melangkah tanpa ada yang tertinggal
Aku terjaga setelah tidurku yang nyenyak

Bukankah bahagia itu pilihan ?
Apakah kita ingin berbahagia ? Atau membiarkan kebahagiaan kita pergi karena kita memilih untuk tidak bahagia ?

Bagaimana jika, aku memilih untuk berbahagia ?
Mudah kan ?
Hanya memejamkan mata, menerima, memaafkan, dan tidak melupakan.

Bukankah Tuhan menjanjikan langkah ke depan yang baik ?
Dan sesulit apapun kita mengembalikannya, nafasku satu detik yang lalu tidak akan pernah kembali ?

Bagaimana jika, aku memilih untuk mengakhiri tulisan ini,
Dan membiarkan Tuhan menjalankan tugasNya untuk membahagiakanku dengan caranya ?

Mudah, bukan ? 

Selasa, 18 November 2014

All of Me by John Legend


What would I do without your smart mouth
Drawing me in, and you kicking me out
You got my head spinning, no kidding, I can't pin you down
What's going on in that beautiful mind
I'm on your magical mystery ride
And I'm so dizzy, don't know what hit me, but I'll be alright

My head's underwater
But I'm breathing fine
You're crazy and I'm out of my mind

'Cause all of me
Loves all of you
Love your curves and all your edges
All your perfect imperfections
Give your all to me
I'll give my all to you
You're my end and my beginning
Even when I lose I'm winning
Cause I give you all of me
And you give me all of you, oh

How many times do I have to tell you
Even when you're crying you're beautiful too
The world is beating you down, I'm around through every mood
You're my downfall, you're my muse
My worst distraction, my rhythm and blues
I can't stop singing, it's ringing in my head for you

My head's underwater
But I'm breathing fine
You're crazy and I'm out of my mind

'Cause all of me
Loves all of you
Love your curves and all your edges
All your perfect imperfections
Give your all to me
I'll give my all to you
You're my end and my beginning
Even when I lose I'm winning
Cause I give you all of me
And you give me all of you, oh
Give me all of you, oh oh

Cards on the table, we're both showing hearts
Risking it all though it's hard

Cause all of me
Loves all of you
Love your curves and all your edges
All your perfect imperfections
Give your all to me
I'll give my all to you
You're my end and my beginning
Even when I lose I'm winning
Cause I give you all of me
And you give me all of you

I give you all of me
And you give me all, of you, oh oh oh.

Selasa, 04 November 2014

Empat November Dua Ribu Empat Belas


Tanggal empat bulan kesebelas dua ribu empat belas.
Tanggal empat setiap bulannya menjadi tanggal yang tidak biasa dari tanggal-tanggal lainnya semenjak dua tahun lalu,
Empat Oktober dua ribu dua belas
Walaupun sebenarnya, untuk ukuran angka aku lebih mencintai angka delapan ketimbang angka empat

Dan tahun ini, tahun kedua, tanggal empat di bulan November.
Tuhan MahaUnik dengan segala bantuan semestaNya yang tidak kalah menakjubkan.
Pagiku tidak biasa.
Ada perasaan lega, setelah dua bulan terakhir aku membangun penjara-penjara tersendiri, yang di dalamnya terbentuk ribuan ketakutan

Cinta itu, bukankah tentang ikhlas dan menerima, pun tentang melepaskan
Seharusnya, sesederhana itu, semudah aku mengetikkan kata-kata itu
Tapi ternyata itu jauh rumit dari rumus fisika yang menyebalkan itu

Ah, Tuhan bukankah Dia adalah penulis skenario yang hebat ? Kisah cinta di dongeng-dongeng, semua pun ada penulisnya.
Berakhir dengan melegakan ataupun dengan helaan nafas panjang menerima bahwa akhir cerita tidak seperti yang dibayangkan saat kita membaca judul ceritanya.

Sedangkan kisah cinta kita ? Tuhan adalah penulisnya. Pemilik cerita paling sempurna di muka bumi ini. Dan yang harus kita yakini, teruntuk kita, Tuhan sudah menuliskan cerita yang terbaik, jauh sebelum kita bisa melihat rupa ayah dan ibu kita. Bukankah begitu ?

Tuhan, terima kasih, untuk memberi jawaban-jawaban atas pertanyaan-pertanyaan yang aku sampaikan padaMu setiap malamnya. Kau memudahkannya, membuatku tidak perlu terlalu sibuk mencari .

Terima kasih, Kau pernah mengirimkan dia untukku. Yang seandainya bisa, aku untuk memilih untuk tidak pergi dan tetap di sini. Setiap orang ditempatkan dalam kehidupan kita tidak pernah ada yang kebetulan. Bukankah begitu ?

Terima kasih, Kau (sekali lagi) membentukku menjadi perempuan yang belajar untuk ikhlas dan tentunya sabar. Setidaknya, Kau selalu menguatkanku, jauh lebih kuat dibandingkan saat-saat aku terjatuh dahulu.

Terima kasih, sudah memberikanku kesempatan untuk mencintai dengan cara dan kemampuan terbaikku. Itu sudah lebih dari cukup, mungkin.

Terima kasih sudah menjadikanku perempuan pilihan. Dengan semua ini, aku yakin Engkau memilihku karena aku kuat. Iya, aku perempuan yang kuat, dan Engkau mempercayaiku kalau aku bisa melewatinya.

Dan kini, semua satu persatu aku tata lagi,
Tidak mudah memang. Tapi, Engkau satu-satunya yang tidak akan pernah mengingkari janji untuk selalu menemaniku.

Semua ini, akupun tidak tahu, bagaimana akan terjadi, esok hari.
Tetapi aku tahu, Engkau mencintaiku dengan sangat, maka akupun memiliki keyakinan, bahwa Kau akan memberikanku akhir cerita yang terbaik, yang luar biasa.

Teruntuk empat November dua ribu empat belas,
Entah, inilah akhir ataupun awal.
Sekali lagi, karena hanya Tuhan-lah MahaMengetahui segala urusan yang akan datang.

Teruntuk kamu,
Entahlah, ternyata sulit untuk mengungkapkannya lagi,
Setidaknya di tengah-tengah kita berpeluk, kita tahu apa yang sebenar-benarnya kita rasakan.

Teruntuk semesta,
Bantulah orang-orang baik mengabulkan doa-doa terbaik, doa apapun itu, yang terbaik
Bekerjalah, semesta, untuk membahagiakan, entah bagaimanapun akhirnya, yang kutuju hanyalah jalan yang bahagia,
Memaafkan, melupakan. Karena kita berhak atas kedamaian dalam hati.

Empat November dua ribu empat belas, kita bertemu lagi dengan tanggal empat di setiap bulannya, dengan cara yang berbeda.

Dan pada akhirnya, kita hanya perlu menemukan seseorang yang sama keras kepalanya memintamu untuk tetap tinggal saat kau terpikir untuk pergi.


Selasa, 28 Oktober 2014

The Falling Leaf doesn't Hate The Wind


Daun jatuh tak pernah membenci angin,
Dia membiarkan dirinya jatuh begitu saja,
Tak melawan, mengikhlaskan semuanya

Bahwa hidup harus menerima, penerimaan yang indah
Bahwa hidup harus mengerti, pengertian yang benar
Bahwa hidup harus memahami, pemahaman yang tulus

Semua yang terjadi tidak satupun yang sia-sia
Boleh saja kita merencanakan dengan indah
Semua yang kita impikan tertulis rapi dalam kertas putih
Tetapi kita tidak boleh lupa,
Bahwa kita harus membiarkan Tuhan menghapuskan beberapa rencana kita
Yang kemudian digantikanNya dengan rencana yang jauh lebih indah

Ikhlas menerima,
Yang terjadi adalah kehendakNya,
Yang terjadi adalah rencanaNya,
yang bahkan sudah tertuliskan jauh sebelum kita melihat dunia

Angin membawa daun yang terjatuh, kemanapun sesuka hatinya
Daun mengikutinya, tak melawan, ikhlas ikut terbang, mengikuti kemanapun angin berhembus
Karena daun yakin, kemanapun ia dibawanya,
Adalah tempat terbaik yang ditawarkan oleh angin
Karenanya, daun pun tak akan membenci angin


The falling leaf doesnt hate the wind

Selasa, 21 Oktober 2014

"Malaikat"



Selalu ada yang dikirimkan oleh Tuhan pada saat kita dalam keadaan terjatuh
Dan aku menyebutnya, malaikat.

Dia tanpa sayap,
Datang tanpa membawa apapun
Tidak ada yang istimewa
Hanya saja, dia datang di saat yang tepat

Selalu ada sosok seperti dia
Yang tidak akan pernah pergi ketika kita dalam keadaan apapun

Justru terkadang sosok seperti dia terlupakan
Saat kita sedang asyik berbahagia dengan dunia kita

Dan ketika dunia seolah-olah sedang tidak berpihak pada kita
Dia datang, menawarkan bahunya untuk sekedar melepas penat

Dia, yang terlewatkan
Selalu menghapus air mata dengan bijak,
Mengembalikan yang seharusnya tidak boleh pergi, seutas senyum

Dia yang aku sebut malaikat,
Semoga selalu kita sadari keberadaannya,
Setidaknya, jangan terlambat untuk menyadari, bahwa dialah, orang yang pernah datang dan tidak akan pernah pergi.

Sabtu, 18 Oktober 2014

Sudah Tidak Muda Lagikah ?


Sepertinya aku mulai memasuki fase-fase mengejutkan
Di mana timeline facebook-ku tidak lagi meriah dengan postingan teman-teman tentang artis-artis korea yang baru mengeluarkan MVnya
Atau tentang keluh kesah mereka di status facebook atau twitter-nya bagaimana susahnya menyelesaikan skripsi dan berjam-jam menunggu dosen pembimbing hanya untuk melihat skripsinya dicorat-coret,

Apa yang aku lihat sekarang ?

Satu persatu teman dekatku mulai mengubah status relationship facebooknya, dari yang In a Relationship menjadi Engagement
“Akhirnya mereka melangkah satu tahap lebih serius”, pikirku bahagia.

Tidak terlalu mengejutkan, dibandingkan dalam jangka waktu yang tidak terlalu dekat, ada banyak wedding invitation masuk di notifikasi facebookku.
“Weh, dia nikah to ?”
“Pantes nikah sama ini, pacarannya udah lama banget”
“Eh, kok sama yang ini sih ? Kapan pacarannya ? Bukannya dia pacaran lama sama yang ini ya ?”

Begitu kira-kira ekspresiku ketika mendapat wedding invitation dari si A, si B, atau siapapun.
Mulai bermunculanlah foto-foto pernikahan teman-teman seumuranku, seperti jamur di musim hujan mungkin.

Belum lagi, setiap harinya mereka memposting hasil masakan mereka dengan caption “Suami lagi pengen dimasakin ini, coba-coba ah.”
Oh, Tuhan, sudah ada yang mereka sebut suami di timeline mereka.

Ada juga yang mulai rajin memposting tentang “calon dedek” yang sedang mereka tunggu-tunggu. Dari foto hasil USG, atau status-status membahagiakan seperti “suami lagi suka elus-elus perut yang ada calon dedek di dalamnya.”
Oh, Tuhan, semembahagiakan itu sepertinya.

Tapi mungkin, di fase ini juga, aku menemukan ada banyak orang terdekat yang ternyata harus mengakhiri hubungannya setelah bertahun-tahun bercerita bersama.
Ya, realistis, lamanya hubungan tidak menjadi satu patokan mereka akan hidup bersama.

"Ternyata, aku sudah tidak muda lagi", pikirku
Ya, setiap manusia punya hal-hal yang mereka prioritaskan. Karena hidup itu pilihan. Mereka berhak memilih di umur 20-an ini apa yang akan mereka pilih untuk diprioritaskan. Bukankah begitu ? 

Cukup merasa ikut berbahagia dengan langkah-langkah mengejutkan yang diambil oleh mereka.
Baik langkah mereka yang baru memulai hubungan serius dengan pertunangan, langkah memasuki kehidupan baru dengan memilih teman hidup dalam pernikahan, maupun langkah untuk mengakhiri hubungan yang sudah lama terjalin untuk jalan kehidupan yang lebih lebih baik

Apapun itu, Tuhan sudah menyiapkan skenario terbaik untuk kita
Apapun itu, Tuhan menjanjikan yang terbaik untuk kita

“Boleh jadi yang baik menurut kita itu buruk menurut Tuhan, dan boleh jadi yang buruk menurut kita adalah yang terbaik menurut Tuhan.”

Apapun itu, Tuhan MahaMengetahui apa-apa yang tidak kita ketahui. Tuhan MahaMengetahui apa yang terbaik untuk kita
Berbahagialah untuk apapun, karena semesta berbahagia untuk kita


Senin, 13 Oktober 2014

Jogja (yang katanya) Berhati Mantan


Setelah membaca salah satu artikel yang aku temukan di media sosial tentang “Jogja Berhati Mantan”, memang benar adanya kata-kata itu.
Jogja memang memberikan efek sentimentil dan keromantisan tersendiri bagi mereka yang pernah jatuh cinta, pun patah hati di kota ini.

Tidak ada yang tidak bisa dibuat jatuh cinta oleh Jogja. Tiap sudutnya pasti memberikan daya tarik sendiri untuk membuat kisah cinta yang sederhana tapi sangat sulit untuk dilupakan.

Pernah jatuh cinta, yang kemudian patah hati, dan kembali jatuh cinta, dan patah hati lagi, tidak membuat mereka yang mengalaminya serta-merta merasa kapok untuk kembali lagi jatuh cinta di kota ini.

Kesederhanaan untuk bisa jatuh cinta di sini, sesederhana melewati senja berboncengan di Alun-alun Kidul, atau menelusuri jalan Malioboro yang ramai penuh cerita.
Sesederhana menghabiskan secangkir minuman hangat di angkringan, atau mendengarkan tourguide menjelaskan dengan detail tiap sudut Tamansari.
Sesederhana melihat matahari terbenam di deretan pantai-pantai Yogyakarta, atau melihat bentangan indahnya panorama Yogyakarta dari atas Bukit Bintang.

Jogja terlalu besar untuk dilupakan, terlebih bagi saya.
Mungkin saya yang baru enam tahun tinggal di kota ini, belumlah seberapa dibandingkan mereka yang mungkin sudah berpuluh-puluh tahun menjadi bagian dari kota yang istimewa ini.
Tapi rasanya, enam tahun menjadi proses pendewasaan yang sangat luar biasa. Dan saya merasa beruntung, saya melewati proses itu di kota ini, bukan kota yang lain.

Bagaimana mendapatkan teman yang sama-sama dari perantauan, belajar di dunia perkuliahan, bertemu berbagai macam karakter yang kita harus pintar memilih mana yang harus dipertahankan menjadi kawan, mana yang bukan.
 Bertemu dia yang membawa warna baru, berproses bersama. Kehilangan dia dan sempat merasa kehilangan otak tertawa. Menemukan seseorang yang membantu saya kembali, berproses bersama dari nol, sukses bersama, dan kembali kehilangan “teman hidup seperjuangan”, benar adanya bahwa Jogja tidak akan pernah lepas dari ingatan saya.

Dan terjatuh, tidak lantas membuat saya kapok, dan saya masih punya mimpi untuk kembali jatuh cinta di kota ini, bahkan menghabiskan dunia saya dengan bercerita di kota ini. Siapa tahu ?

Begitu adanya kota ini, jatuh cinta lah di Jogja, maka kamu akan tahu bagaimana istimewanya kota ini.

Jogja, bagaimana bisa pergi, jika hati rasanya ingin terus pulang dan kembali ke kota ini ?


Jumat, 10 Oktober 2014

Mereka yang Memilih untuk Pergi


Mereka yang memilih untuk pergi,
Pasti pernah bertahan sekuat hati
Pernah mencoba untuk selalu ada di sisi,
Biar sendiri,
Setidaknya pernah mencoba untuk tidak pergi.

Mereka yang memilih untuk pergi,
Pasti mengerti apa arti sabar,
Tidak membagi beban,
Dan mencoba memahaminya, sendiri

Mereka yang memilih untuk pergi
Tahu apa itu ikhlas
Ketika apa yang mereka pertahankan tidak kunjung dihargai
Mereka tahu, satu-satunya cara untuk bertahan adalah dengan ikhlas menerima
Setidaknya, mereka pernah melalukan yang terbaik,
Semampu mereka

Mereka yang memilih untuk pergi
Tidak akan pernah tergantikan oleh siapapun,
Karena yang terbaik, adalah mereka yang pernah berjuang dengan tulus,

Dan ikhlas menerima, hingga akhirnya mereka memilih untuk pergi.

Selasa, 09 September 2014

aku menemukanMu


Aku menemukanMu,
Di tengah persimpangan jalan yang baru aku temui
Seakan menemukan cahaya dalam gelap
Menjadikan aku yang hanya sekedar mengenalMu, kini tak henti-hentinya berikhtiar untuk lebih dekat denganMu

Tuhan MahaUnik
Dengan apa yang kini terjadi, aku merasakan Engkau lebih dekat denganku,
Dekat, lebih dekat, dan tanpa jarak

Bukan lagi sujud menangis meminta pertolongan,
Tetapi sujud syukur, menangis, menerima bahwa ini jalanMu

Karena mungkin tanpa fase ini,
Aku hanyalah kaumMu yang alpa, hambaMu yang apa, dan ciptaanMu yang bukanlah apa-apa

Bukankah tidak ada kata terlambat untuk lebih dekat denganMu ?

Aku mungkin belum sanggup seperti mereka yang menghabiskan malam untuk menyanjungMu,
Seperti mereka yang seutuhnya menutup auratnya,
Seperti mereka yang hafal dan fasih melafalkan ayat-ayat suciMu, bahkan mentafsirkannya dengan luar biasa
Seperti mereka yang rutin meluangkan waktunya untuk mendengarkan tausiyah, atau berpindah dari kajian satu ke kajian yang lain
Atau seperti mereka yang hanya mengenal taaruf , menikah tanpa terlebih dahulu mengenal calon teman hidup

Temani aku selalu,
Berproses, selangkah demi selangkah mendekat kepadaMu,
Dengan caraku,

Aku tak ingin terjatuh lagi, aku tak ingin merasakan kehilangan lagi

Aku hanya ingin Engkau,
Dzat yang tidak mungkin membuat aku terjatuh,
Dan Dzat yang tidak mungkin meninggalkan aku ,

Tuhan, terima kasih untuk kesempatanku berproses,

Aku menyayangiMu . 

Sabtu, 23 Agustus 2014

Sedang Menjalani Skenario Tuhan


Seperti sedang ada di persimpangan jalan
Yang aku sendiri tak tahu mengapa baru saat ini harus aku pahami
Ini bukan lagi tentang aku yang menangis karena kamu sibuk bekerja,
Atau aku yang gelisah karena kamu yang entah kemana tak ada kabar,
Bukan juga tentang mood yang tiba-tiba berubah karena datang bulanku
Atau bukan juga tentang gagalnya rencana-rencana main kita karena alasan ini dan itu

Mungkin Tuhan membiarkan kita diam sejenak
Menelaah dan memahami setiap apa-apa yang terjadi pada kita
Ini tidak lagi bisa kita selesaikan dengan debat dan marah-marah yang pada akhirnya kita akhiri dengan pelukan mesra

Mungkin Tuhan membiarkan kita bersemangat berdoa
Mencoba mangikuti skenario Tuhan yang ternyata sangat sulit untuk dipahami
Bukan karena kita berpasrah,
Tapi karena kita sama-sama tahu kita saling mencintai, kita sama-sama sedang berjuang, namun kita juga tidak bisa memungkiri bahwa kita belum bisa beranjak dari tempat kita terdiam

“Aku yakin jika kita bisa melewati satu cobaan ini, tidak akan ada lagi cobaan yang lebih besar dari ini, kalaupun ada, kita pasti bisa melewatinya, berdua.”
Itu katamu, dan itu yang bisa aku pegang saat ini .

Yang aku tahu, kita sudah berproses bersama, dan kita akan selalu berproses bersama, bukankah seperti itu ?

Biarkan Tuhan memberi kita pelajaran tentang keikhlasan. Entah ikhlas untuk melepaskan atau ikhlas untuk tetap saling menggenggam erat.
Dunia kita berbeda, sepertinya.

Tapi semoga tidak untuk cinta kita.

Jumat, 20 Juni 2014

Saat Aku Lanjut Usia (by So7)




Saat aku lanjut usia
Saat ragaku terasa tua
Tetaplah kau s’lalu di sini
Menemani, aku bernyanyi

Saat rambutku mulai rontok
Yakinlah ku tetap setia
Memijit pundakmu,
hingga kau tertidur pulas

Saat perutku mulai buncit
Yakinlah ku tetap yang terseksi, 
Dan tetaplah kau s’lalu menanti
Nyanyianku, dimalam hari

Genggam tanganku saat tubuhku terasa linu
Ku peluk erat tubuhmu saat dingin menyerangmu
Kita lawan bersama, dingin dan panas dunia
Saat kaki t’lah lemah, kita saling menopang
Hingga nanti di suatu pagi, salah satu dari kita mati
Sampai jumpa, dikehidupan yang lain

Sabtu, 14 Juni 2014

Ini tentang (mimpi)


Aku takut bermimpi, sungguh kali ini begitu adanya.
Mungkin karena aku takut terjatuh,

Kamu selalu berusaha menghapuskan mimpi-mimpiku,
Dan mengubah sudut pandangku menjadi lebih realistis
Entah karena kamu tidak menyematkan namaku dalam mimpimu esok,
Atau mungkin memang karena kamu tidak suka bermimpi.

Aku hanya mencoba untuk selalu berpikir,
Kamu mengajariku bagaimana melihat sesuatu yang nyata,
Tidak dengan menuliskan rencana, atau merangkainya dalam angan-angan.

Tuhan satu-satunya tempat berharap.
Hanya itu yang selalu aku andalkan, untuk mengganti mimpi-mimpiku.
Dengan berdoa dan berharap.

Kita adalah satu.

Sabtu, 15 Maret 2014

Aku Punya Mereka, Sekarang.



Aku punya mereka, orang-orang baru yang memang baru aku temui dan harus aku temui setiap harinya.
Akan aku perkenalkan mereka satu persatu

Pagi sekitar pukul 07.30, aku mulai berangkat dari kosku menuju Puskesmas Gamping II yang terletak di Patran, Banyuraden, Gamping, Sleman. Disitulah Dinas Kesehatan Kabupaten Sleman menempatkanku.

Memasuki area halaman, selalu disambut sapaan “Pagi, dek Arum”, dari Pak No, penjaga sekaligus tukang parkir Puskesmas.
Masih sepi seperti biasanya, aku memasuki ruangan Tata Usaha dan meletakkan tas serta jaketku, mulai menghadap komputer yang sebelumnya harus absen dulu.
Di ruangan itu, ada Ibu Evi, sang kepala sub bagian TU. Di ruangan itulah aku mengenal Pak Bagyo, Pak Agus, Bu Nur Im (panutan pekerjaanku karena Beliau bendaharawati, dan Dini, satu-satunya teman sebayaku, dia seorang nutrisionis.

Kepala Puskesmasku seorang wanita yang cerdas, Bu Niken namanya. Dokter gigi. Ruang sebelah Tata Usaha adalah ruang Pelayanan Gizi, disitu ada Pak Muji dan Mbak Tiwi.

Ruang sebelahnya ada ruang Pelayanan Psikologi, ada psikolog cantik, panggil saja Bu Dewi. Selain ada aula, dapur, dan dua kamar mandi karyawan, di lantai atas ada juga Ruang Sanitarian. Kalau konsultasi tentang sanitasi, ketemu aja sama Pak Fadli.

Turun ke bawah, dari tangga ada Pojok Asi, Pojok Bermain, Gudang, dan Musholla. Ada tiga ruang pelayanan utama. Ada Pelayanan BP Umum, BP Gigi, dan KIA. Di BP Umum ada tiga dokter yang Inshaa Alloh selalu siap siaga, dr. Novi, dr. Laila, dan dr. Rahyuni. Perawat-perawatnya, ada Bu Pur, Bu Yuni, Bu Tuti, Mba Dwi, dan Mbak Ana.

Di BP Gigi, ada dr. Erna dengan dua perawat gigi, Bu Waran dan Bu Alif.

Di KIA, ada Bu Yayuk dan bidan-bidan muda seperti Mbak Femi, Mbak Ridha, Mbak Eni, dan Mbak Dewi.

Di depan ruang KIA, ada kasir, tempat Pak Sugeng selalu berbagi banyak cerita dan makanan tentunya. Di situ juga aku biasa membantu Bendahara Penerima Pembantu kalau kerjaanku di atas lagi selo. Di samping kasir ada ruang obat. Ruang ternyaman menurutku. Ada Bu Ken dan Mbak Rahma yang baiiiikkkk hatinya. Ruang obat juga sering dijadikan kantin dadakan di Puskesmas Gamping II, khusus karyawan tentunya, hehe.

Ketika masuk lewat pintu utama, yang pertama ditemui kalau gak UGD, ya pendaftaran. Di pendaftaran itu ada Pak Har, Pak Parna, Bu Nurkhayatun, dan Mbak Ambar.
Ahhhh, sepertinya semua sudah masuk list.
Terlihat Mbak Nani, si Cleaning Service, mulai membersihkan ruang kerja, jam menunjukkan pukul dua belas tiga puluh menit. Sudah hampir jam pulang ternyata.

Setelah semua pekerjaan aku tuntaskan, komputer pun sudah aku matikan, aku bergegas ke ruang obat. Di sanalah tempat transitku sebelum beranjak pulang. Akan ada banyak cerita di tempat obat.
Aku sekarang punya mereka, keluarga baruku di Dinas Kesehatan Kabupaten Sleman, khususnya Puskesmas Gamping II. Aku mensyukurinya, karena Tuhan membuatku sangat bahagia memiliki mereka untuk berproses. Terima kasih, Tuhan.

Senin, 24 Februari 2014

Aku mencintai duniaku yang baru.



Aku punya dunia baru sejak hari itu, 2 Januari 2014.
Aku yang suka menghabiskan waktu di depan komputer, di dalam kos, atau bercerita dengan dia, memulai rutinitas yang harus aku lakukan mungkin selama berpuluh-puluh tahun kedepan.

Pagiku yang tak biasa.
Mulai bersahabat dengan air dingin pagi hari dan harus mengisi perut pagi itu juga.
Baju-bajuku mungkin akan banyak yang tak terpakai, tergantikan dengan baju seragam, baju olahraga, dan batik-batik yang harus mulai aku koleksi mulai hari itu.
Sneakers-ku, ah, untung ada hari Jumat. Aku masih bisa membawa sneakers ke tempat kerjaku, setidaknya untuk senam setiap hari Jumat, lagi-lagi di pagi hari.
Mulai bercengkerama dengan komputer kantor. Belum lagi dengan laporan-laporan akhir dan awal bulan. Di saat seperti itu, aku sangat merindukan Pak Pardiman, Dosen nyentrik yang selalu memberiku nilai kurang dari A. Ah, merugi kuliahku. Harusnya satu-satunya mata kuliah yang aku dalami adalah mata kuliah beliau, Akuntansi Pengantar. Karena ternyata, mata kuliah itulah yang sebenar-benarnya berguna di duniaku sekarang.
Atau bahkan, aku kadang berpikir, mengapa dulu ngotot masuk jurusan Akuntansi ? Kemana mimpiku menjadi jurnalis atau setidaknya yang berhubungan di dunia komunikasi ? ah, itu sudah terkubur dalam-dalam.

Tuhan memang punya cara paling unik untuk hamba-Nya.
Siapa yang menyangka, sekarang menjadi bagian sebuah kantor Dinas di Kabupaten Sleman. Sepertinya aku memang ditakdirkan untuk tidak meninggalkan Yogyakarta. Kota yang selama empat tahun mendidikku menjadi arum yang seperti saat ini.
Aku mencintai jam kerjaku. Itu aku pikirkan jika kelak aku berkeluarga nantinya. Aku masih bisa mengurus keluarga kecilku di pagi hari, menyiapkan makan siang untuk mereka, sore dan malam tinggal bercengkerama dan berbagi cerita.
Untuk saat ini, soreku masih bisa aku nikmati layaknya sebelum berutinitas baru ini. Begitu pula malamku. Dan keesokan harinya, rejekiku harus aku jemput. Begitu seterusnya. Dan aku mencintainya.

Tuhan, terima kasih memberiku kesempatan mendengarkan Bapak dan Mama mengatakan bahwa mereka bangga padaku. Itu kan yang dicari seorang anak ?
Aku mencintai duniaku, aku melakukannya dengan suka cita, aku merencanakan berbagai cerita indah setiap harinya, tetapi aku tahu, aku harus menyerahkan semuanya ke tangan Tuhan. Karena aku sudah membuktikannya, tangan Tuhan itu jauh lebih indah.