Senin, 24 Februari 2014

Aku mencintai duniaku yang baru.



Aku punya dunia baru sejak hari itu, 2 Januari 2014.
Aku yang suka menghabiskan waktu di depan komputer, di dalam kos, atau bercerita dengan dia, memulai rutinitas yang harus aku lakukan mungkin selama berpuluh-puluh tahun kedepan.

Pagiku yang tak biasa.
Mulai bersahabat dengan air dingin pagi hari dan harus mengisi perut pagi itu juga.
Baju-bajuku mungkin akan banyak yang tak terpakai, tergantikan dengan baju seragam, baju olahraga, dan batik-batik yang harus mulai aku koleksi mulai hari itu.
Sneakers-ku, ah, untung ada hari Jumat. Aku masih bisa membawa sneakers ke tempat kerjaku, setidaknya untuk senam setiap hari Jumat, lagi-lagi di pagi hari.
Mulai bercengkerama dengan komputer kantor. Belum lagi dengan laporan-laporan akhir dan awal bulan. Di saat seperti itu, aku sangat merindukan Pak Pardiman, Dosen nyentrik yang selalu memberiku nilai kurang dari A. Ah, merugi kuliahku. Harusnya satu-satunya mata kuliah yang aku dalami adalah mata kuliah beliau, Akuntansi Pengantar. Karena ternyata, mata kuliah itulah yang sebenar-benarnya berguna di duniaku sekarang.
Atau bahkan, aku kadang berpikir, mengapa dulu ngotot masuk jurusan Akuntansi ? Kemana mimpiku menjadi jurnalis atau setidaknya yang berhubungan di dunia komunikasi ? ah, itu sudah terkubur dalam-dalam.

Tuhan memang punya cara paling unik untuk hamba-Nya.
Siapa yang menyangka, sekarang menjadi bagian sebuah kantor Dinas di Kabupaten Sleman. Sepertinya aku memang ditakdirkan untuk tidak meninggalkan Yogyakarta. Kota yang selama empat tahun mendidikku menjadi arum yang seperti saat ini.
Aku mencintai jam kerjaku. Itu aku pikirkan jika kelak aku berkeluarga nantinya. Aku masih bisa mengurus keluarga kecilku di pagi hari, menyiapkan makan siang untuk mereka, sore dan malam tinggal bercengkerama dan berbagi cerita.
Untuk saat ini, soreku masih bisa aku nikmati layaknya sebelum berutinitas baru ini. Begitu pula malamku. Dan keesokan harinya, rejekiku harus aku jemput. Begitu seterusnya. Dan aku mencintainya.

Tuhan, terima kasih memberiku kesempatan mendengarkan Bapak dan Mama mengatakan bahwa mereka bangga padaku. Itu kan yang dicari seorang anak ?
Aku mencintai duniaku, aku melakukannya dengan suka cita, aku merencanakan berbagai cerita indah setiap harinya, tetapi aku tahu, aku harus menyerahkan semuanya ke tangan Tuhan. Karena aku sudah membuktikannya, tangan Tuhan itu jauh lebih indah.

0 komentar:

Posting Komentar