Aku punya dunia
baru sejak hari itu, 2 Januari 2014.
Aku yang suka
menghabiskan waktu di depan komputer, di dalam kos, atau bercerita dengan dia,
memulai rutinitas yang harus aku lakukan mungkin selama berpuluh-puluh tahun
kedepan.
Pagiku yang tak
biasa.
Mulai bersahabat
dengan air dingin pagi hari dan harus mengisi perut pagi itu juga.
Baju-bajuku
mungkin akan banyak yang tak terpakai, tergantikan dengan baju seragam, baju
olahraga, dan batik-batik yang harus mulai aku koleksi mulai hari itu.
Sneakers-ku, ah,
untung ada hari Jumat. Aku masih bisa membawa sneakers ke tempat kerjaku,
setidaknya untuk senam setiap hari Jumat, lagi-lagi di pagi hari.
Mulai
bercengkerama dengan komputer kantor. Belum lagi dengan laporan-laporan akhir
dan awal bulan. Di saat seperti itu, aku sangat merindukan Pak Pardiman, Dosen
nyentrik yang selalu memberiku nilai kurang dari A. Ah, merugi kuliahku.
Harusnya satu-satunya mata kuliah yang aku dalami adalah mata kuliah beliau,
Akuntansi Pengantar. Karena ternyata, mata kuliah itulah yang sebenar-benarnya
berguna di duniaku sekarang.
Atau bahkan, aku
kadang berpikir, mengapa dulu ngotot masuk jurusan Akuntansi ? Kemana mimpiku
menjadi jurnalis atau setidaknya yang berhubungan di dunia komunikasi ? ah, itu
sudah terkubur dalam-dalam.
Tuhan memang
punya cara paling unik untuk hamba-Nya.
Siapa yang
menyangka, sekarang menjadi bagian sebuah kantor Dinas di Kabupaten Sleman.
Sepertinya aku memang ditakdirkan untuk tidak meninggalkan Yogyakarta. Kota
yang selama empat tahun mendidikku menjadi arum yang seperti saat ini.
Aku mencintai jam
kerjaku. Itu aku pikirkan jika kelak aku berkeluarga nantinya. Aku masih bisa
mengurus keluarga kecilku di pagi hari, menyiapkan makan siang untuk mereka,
sore dan malam tinggal bercengkerama dan berbagi cerita.
Untuk saat ini,
soreku masih bisa aku nikmati layaknya sebelum berutinitas baru ini. Begitu
pula malamku. Dan keesokan harinya, rejekiku harus aku jemput. Begitu
seterusnya. Dan aku mencintainya.
Tuhan, terima
kasih memberiku kesempatan mendengarkan Bapak dan Mama mengatakan bahwa mereka
bangga padaku. Itu kan yang dicari seorang anak ?
Aku mencintai
duniaku, aku melakukannya dengan suka cita, aku merencanakan berbagai cerita
indah setiap harinya, tetapi aku tahu, aku harus menyerahkan semuanya ke tangan
Tuhan. Karena aku sudah membuktikannya, tangan Tuhan itu jauh lebih indah.
0 komentar:
Posting Komentar