Bagaimana jika,
di suatu malam tak sedetikpun aku bisa memejamkan mata,
Kantuk terasa
kuat, matapun sulit untuk terbuka,
Tetapi tak
sedetikpun aku bisa tertidur,
Yang biasanya
hanya dengan memejamkan mata sekejap, aku bisa merengkuh duniaku dalam mimpi
Bagaimana jika,
di suatu pagi, sesegar apapun udara yang aku hirup, terasa sesak di dada
Pagi yang baru,
seakan masih pagi yang kemarin
Ingin melangkah,
tapi ada yang tertinggal
Ingin terjaga,
tetapi tidurpun tidak
Bagaimana jika,
di suatu senja aku tak lagi merasakan empat puluh tujuh detik yang menakjubkan
saat matahari menari di orange-nya
langit
Semua berlalu
begitu saja,
Terang tiba-tiba
menjadi gelap, terik tiba-tiba menjadi gelap, tanpa aku merasakan senja
Bagaimana jika,
semua itu aku hancurkan saja ?
Malam tanpa
memejamkan mata
Pagi dengan sesak
di dada
Senja tanpa empat
puluh tujuh detik yang menakjubkan.
Bagaimana jika,
Aku melangkah
tanpa ada yang tertinggal
Aku terjaga
setelah tidurku yang nyenyak
Bukankah bahagia
itu pilihan ?
Apakah kita ingin
berbahagia ? Atau membiarkan kebahagiaan kita pergi karena kita memilih untuk
tidak bahagia ?
Bagaimana jika,
aku memilih untuk berbahagia ?
Mudah kan ?
Hanya memejamkan
mata, menerima, memaafkan, dan tidak melupakan.
Bukankah Tuhan
menjanjikan langkah ke depan yang baik ?
Dan sesulit
apapun kita mengembalikannya, nafasku satu detik yang lalu tidak akan pernah
kembali ?
Bagaimana jika,
aku memilih untuk mengakhiri tulisan ini,
Dan membiarkan
Tuhan menjalankan tugasNya untuk membahagiakanku dengan caranya ?
Mudah, bukan ?
0 komentar:
Posting Komentar