Rabu, 17 Desember 2014

Bagaimana Jika ?


Bagaimana jika, di suatu malam tak sedetikpun aku bisa memejamkan mata,
Kantuk terasa kuat, matapun sulit untuk terbuka,
Tetapi tak sedetikpun aku bisa tertidur,
Yang biasanya hanya dengan memejamkan mata sekejap, aku bisa merengkuh duniaku dalam mimpi

Bagaimana jika, di suatu pagi, sesegar apapun udara yang aku hirup, terasa sesak di dada
Pagi yang baru, seakan masih pagi yang kemarin
Ingin melangkah, tapi ada yang tertinggal
Ingin terjaga, tetapi tidurpun tidak

Bagaimana jika, di suatu senja aku tak lagi merasakan empat puluh tujuh detik yang menakjubkan saat matahari menari di orange-nya langit
Semua berlalu begitu saja,
Terang tiba-tiba menjadi gelap, terik tiba-tiba menjadi gelap, tanpa aku merasakan senja

Bagaimana jika, semua itu aku hancurkan saja ?
Malam tanpa memejamkan mata
Pagi dengan sesak di dada
Senja tanpa empat puluh tujuh detik yang menakjubkan.

Bagaimana jika,
Aku melangkah tanpa ada yang tertinggal
Aku terjaga setelah tidurku yang nyenyak

Bukankah bahagia itu pilihan ?
Apakah kita ingin berbahagia ? Atau membiarkan kebahagiaan kita pergi karena kita memilih untuk tidak bahagia ?

Bagaimana jika, aku memilih untuk berbahagia ?
Mudah kan ?
Hanya memejamkan mata, menerima, memaafkan, dan tidak melupakan.

Bukankah Tuhan menjanjikan langkah ke depan yang baik ?
Dan sesulit apapun kita mengembalikannya, nafasku satu detik yang lalu tidak akan pernah kembali ?

Bagaimana jika, aku memilih untuk mengakhiri tulisan ini,
Dan membiarkan Tuhan menjalankan tugasNya untuk membahagiakanku dengan caranya ?

Mudah, bukan ? 

0 komentar:

Posting Komentar