Mengapa kamu
datang terlambat ?
Aku
menunggumu, hingga bulan basah itu berakhir.
Tanpa lelah.
Hingga aku
menyadari, aku kehilangan Desemberku.
Bulan di
mana kecanduanku dirayakan.
Yang seharusnya
tiap aku membuka jendela di pagi hari,
Petrichor
semerbak, menusuk hidungku.
Aku hirup dalam-dalam.
Dan
sisa-sisa hawa dingin, menyempurnakan pagi setelah semalaman kamu datang
menyelimuti.
Senja yang
semestinya selalu aku tutup dengan meneguk segelas cokelat hangat,
Pun terlewatkan.
Dan
malam-malam panjang itu,
Semestinya aku
terlelap, dininabobokkan dengan suaramu.
Bukan malah dengan
tidur gelisah menantikanmu tak kunjung datang.
Mengapa kamu
datang terlambat ?
Justru saat
aku sudah terbiasa dengan ketidakhadiranmu.
Dengan payah
merindukanmu,
Yang aku
lampiaskan dengan mencoba tidak lagi mengharapkanmu menyergapiku malam-malam.
Mengapa kamu
datang terlambat ?
Penantianku
mulai terjawab sudah sepertinya.
Kamu,
Mulai datang
perlahan malu-malu.
Menemaniku
yang berselimut tebal.
Dan pergi
meninggalkan Petrichor di pagi hari,
Pun hawa
dingin yang menyegarkan.
Kamu,
Biarpun
terlambat dan membuatku kehilangan Desemberku,
Tetaplah candu
yang tak ingin aku sembuhkan.
Mari
bercinta.
Merayakan penantianku
yang ternyata tak sia-sia.
Jangan
berbesar hati karena dinanti.
Aku
mencintaimu yang bergemiricik riang,
Bukan besar
dan menjadi air mata.
Jadi,
ceritakan padaku,
Mengapa kamu
datang terlambat , hujan ?
0 komentar:
Posting Komentar