Masih kuat dalam ingatan, bagaimana aku menangis karena
terjatuh saat belajar menaiki sepeda roda dua.
Pun bagaimana aku mengalami pusing yang hebat saat
mati-matian belajar untuk ujian matematika, memecahkan angka yang aku tahu saat
itu adalah persoalan paling rumit dalam hidupku.
Tidak seperti saat ini.
Saat aku mendengar
dari sana-sini bagaimana orang-orang bergulat dengan persoalan rumit.
Jauh lebih rumit ketimbang menghapus air mata saat
terjatuh dari sepeda,
Menunggu luka di lutut mengering,
Atau berkelut dengan soal matematika.
Persoalan tentang hati.
Terkadang, aku tidak mengerti jalan pikiran orang-orang “dewasa”
itu.
Bagaimana mereka bisa seakan dengan mudah menentukan ini
dan itu.
Hari ini, mereka bisa jatuh cinta sejatuh-jatuhnya.
Dan esoknya mereka bisa patah sejadi-jadinya.
Hari ini, mereka bisa saling bertukar cerita.
Dan esoknya mereka bisa tidak saling bertegur sapa.
Pasti banyak di antara kita merindukan masa di mana
persoalan rumit itu hanya tugas sekolah, bukan lagi persoalan hati.
Atau merindukan bertengkar hanya karena berebut es krim.
Semua terjadi karena memang waktu berkata bahwa sudah
saatnya menjadi dewasa.
Mereka begini, mereka begitu,
Ada alasan yang terkadang tidak perlu untuk diungkapkan.
Hanya mereka dan Tuhan yang MahaMembolak-balikkan hati
yang mengerti,
Mungkin begitu.
Menjadi dewasa itu rumit.
Bisakah kembali saja bermain ayunan dengan satu tangan
memegang es krim ?
Atau pulang kerja segera karena takut ketinggalan satu
episode kartun favorit ?
0 komentar:
Posting Komentar