Selasa, 09 Februari 2016

Suatu Pagi yang Tak Biasa



Aku matikan alarmku, pagi ini. 03.45 WIB. Seperti biasanya, kalau pasang alarm, aku pastikan aku akan bangun terlebih dahulu jauh sebelum alarm berdering.


Dengan mata menyipit, aku lihat pesan whatsapp darinya, singkat untuk membangunkanku, karena semalaman aku memaksanya untuk membangunkanku sebelum pukul empat. Ternyata dia bisa, batinku tertawa lucu.


“Selamat pagi. Aku mencintaimu. Seperti biasa.” Aku balas pesan whatsapp-nya. Tapi tidak berharap dia akan membalas dengan cepat. Pasti setelah membangunkanku, dia sudah kembali tidur.


Aku selimutkan tubuhku, rasanya ingin melanjutkan tidur saja, apalagi setelah terdengar di luar sana gerimis.


Dari jendela kamarku yang sedikit terkuak, aku melihat bayangan mama, yang sepertinya ingin membangunkanku. Sebelum mama masuk, dari dalam selimut aku berkata, “Aku udah bangun, Ma.”


Aku lirik jam di handphone-ku, 03.55. Baiklah, cukup malas-malasannya. Waktunya bersiap.


Mama sudah berkutat di dapur, membuatkan teh hangat untukku dan kopi untuk bapak. Bapak sedari tadi sudah sibuk di pelataran rumah. Aku bergegas ke kamar mandi, dan mempersiapkan ini itu.


Setelah semua siap, aku menghangatkan diri dengan minum teh hangat buatan mama. Aku perhatikan mama, sepertinya akan memulai percakapan yang tidak asing lagi di umurku yang saat ini.


“Hati-hati.” Kata pertama yang mama ucapkan di awal pembicaraan yang terlalu pagi ini.
“Iya, Ma.” Jawabku.
“Dinilai sebaik mungkin. Karena untuk seterusnya. Sudah bukan untuk main-main lagi, untuk serius. Bukan cuma karena cinta. Bekal untuk ke depan macam-macam. Mama cuma orangtua yang ingin anaknya bahagia. Jangan jatuh ke lubang yang salah. Pokoknya hati-hati.”
“Iya, Ma.” Aku hanya bisa meneruskan meneguk teh hangat, dengan sedikit menahan air mata yang rasanya sudah ingin terjatuh.
“Mama doakan dilancarkan rejekinya. Yang penting sehat. Mudah jodohnya juga. Hati-hati.”
“Amin. Makasih, Ma.” Lagi-lagi aku hanya bisa menjawabnya dengan singkat. Karena aku tahu, semakin aku banyak bicara, aku akan menangis sejadi-jadinya.


Tepat pukul 04.45 WIB aku berpamitan dengan mama dan adikku yang saat itu masih mengucek-ucek mata karena tentu pukul itu belum waktunya dia untuk bangun.


“Hati-hati.” Kata mama sembari mencium kedua pipiku.


Mobilpun siap, bapak sudah ada di dalam, dan bersiap mengantarkan aku ke stasiun.
Aku menghela nafas panjang.


04.55 WIB, sampailah aku dan bapak di stasiun.
Masih ada sekitar 20 menit untuk ngobrol sana-sini dengan bapak. Aku selalu suka pagi yang seperti ini.


“Gimana, mas serius ?”
Deg.
Bapak membuka percakapan pagi ini dengan kalimat yang to the point.
“Insya Alloh, Pak.” Jawabku.
“Ya yang hati-hati. Dinilai dulu. Dibekali dulu. Kamu fokus pekerjaan aja, kalau mas serius dia juga bakal menunjukkan kalau dia serius.”
“Siap, Pak.”


Dan selama dua puluh menit itu aku dan bapak bercerita panjang lebar tentang hubunganku dengan dia.
Pagi yang berat, pikirku.


Tepat pukul 05.15 WIB kereta yang akan aku tumpangi datang.
Aku bersalaman, dan bapak membalasnya dengan bonus ciuman pipi kanan dan kiri.


“Hati-hati.”
“Ya, Pak.” Senyumku tegas. Harus terlihat sumringah.


Aku menaiki kereta Progo jurusan Pasar Senen-Lempuyangan. Dan di gerbong 5 kursi 4E aku meletakkan tas bawaanku. Aku menghela nafas panjang lagi.


Handphone-ku berbunyi.
Pesan singkat dari bapak. “Udah duduk ya ? Hati-hati.”


Ada yang mengganjal di pagi hari ini.
Kebiasaan berangkat ke rantau pagi hari sebenarnya bukan hal baru bagiku.
Tapi entah pagi ini.
Ada begitu banyak hal yang mengganjal.


Mama selalu menyiapkan ini itu sebelum aku berangkat, aku selalu melihat dari balik jendela kereta, bapak menunggu hingga kereta berangkat yang sebelumnya memastikan bahwa aku sudah duduk di kereta dengan nyaman, dan aku akan berangkat dengan nasihat dan doa ini itu.
Semua berjalan seperti biasanya.


Tetapi, pagi ini. Ada ucapan yang tak tersampaikan. Yang membuatku tak menanggapi mereka seperti biasanya.
Aku hanya menjawab singkat dan mengangguk, pun melemparkan senyum tegas sekedar menyampaikan bahwa aku baik-baik saja.


“Maafin aku, Pak, Ma. Maaf aku salah. Terima kasih. Doakan aku. Jaga kesehatan.” Sent.


Ternyata aku tidak sekuat yang aku pikirkan. Meminta maaf. Iya, aku ingin meminta maaf. Ternyata hal itu yang sedari tadi mengganjal di pagi hari yang seharusnya seperti biasanya.
Entah, untuk maaf yang ini, aku tidak mampu mengucapkannya secara langsung.
Lagi-lagi, tidak seperti biasanya.


Aku dididik untuk mudah meminta maaf bila memang salah. Pun biasanya, aku mampu mengucapkannya dengan mudah dan secara langsung, apalagi kepada kedua orangtuaku.
Tapi kali ini, ternyata aku tidak mampu.


Kereta semakin cepat, dari balik jendela, aku mengusap air mataku, melihat Bapak semakin jauh tidak terlihat.


Sungguh, untuk kali ini, maaf.
Dan maaf tidak bisa menyampaikan maafku secara langsung.
Yang pasti, aku sangat menyayangi kalian.
Doakan semua akan baik-baik saja, dan percayakan semua padaku.


Dan dari headphone yang aku kenakan, terdengar lagu Takkan Pernah Menyesal, menemani perjalananku pagi ini ke tanah rantau.


0 komentar:

Posting Komentar