Aku matikan alarmku, pagi ini. 03.45 WIB. Seperti
biasanya, kalau pasang alarm, aku pastikan aku akan bangun terlebih dahulu jauh
sebelum alarm berdering.
Dengan mata menyipit, aku lihat pesan whatsapp darinya, singkat untuk membangunkanku,
karena semalaman aku memaksanya untuk membangunkanku sebelum pukul empat. Ternyata
dia bisa, batinku tertawa lucu.
“Selamat pagi. Aku mencintaimu. Seperti biasa.” Aku balas
pesan whatsapp-nya. Tapi tidak
berharap dia akan membalas dengan cepat. Pasti setelah membangunkanku, dia
sudah kembali tidur.
Aku selimutkan tubuhku, rasanya ingin melanjutkan tidur
saja, apalagi setelah terdengar di luar sana gerimis.
Dari jendela kamarku yang sedikit terkuak, aku melihat
bayangan mama, yang sepertinya ingin membangunkanku. Sebelum mama masuk, dari dalam
selimut aku berkata, “Aku udah bangun, Ma.”
Aku lirik jam di handphone-ku,
03.55. Baiklah, cukup malas-malasannya. Waktunya bersiap.
Mama sudah berkutat di dapur, membuatkan teh hangat
untukku dan kopi untuk bapak. Bapak sedari tadi sudah sibuk di pelataran rumah.
Aku bergegas ke kamar mandi, dan mempersiapkan ini itu.
Setelah semua siap, aku menghangatkan diri dengan minum
teh hangat buatan mama. Aku perhatikan mama, sepertinya akan memulai percakapan
yang tidak asing lagi di umurku yang saat ini.
“Hati-hati.” Kata pertama yang mama ucapkan di awal
pembicaraan yang terlalu pagi ini.
“Iya, Ma.” Jawabku.
“Dinilai sebaik mungkin. Karena untuk seterusnya. Sudah
bukan untuk main-main lagi, untuk serius. Bukan cuma karena cinta. Bekal untuk
ke depan macam-macam. Mama cuma orangtua yang ingin anaknya bahagia. Jangan jatuh
ke lubang yang salah. Pokoknya hati-hati.”
“Iya, Ma.” Aku hanya bisa meneruskan meneguk teh hangat,
dengan sedikit menahan air mata yang rasanya sudah ingin terjatuh.
“Mama doakan dilancarkan rejekinya. Yang penting sehat.
Mudah jodohnya juga. Hati-hati.”
“Amin. Makasih, Ma.” Lagi-lagi aku hanya bisa menjawabnya
dengan singkat. Karena aku tahu, semakin aku banyak bicara, aku akan menangis
sejadi-jadinya.
Tepat pukul 04.45 WIB aku berpamitan dengan mama dan adikku
yang saat itu masih mengucek-ucek mata karena tentu pukul itu belum waktunya
dia untuk bangun.
“Hati-hati.” Kata mama sembari mencium kedua pipiku.
Mobilpun siap, bapak sudah ada di dalam, dan bersiap
mengantarkan aku ke stasiun.
Aku menghela nafas panjang.
04.55 WIB, sampailah aku dan bapak di stasiun.
Masih ada sekitar 20 menit untuk ngobrol sana-sini dengan
bapak. Aku selalu suka pagi yang seperti ini.
“Gimana, mas serius ?”
Deg.
Bapak membuka percakapan pagi ini dengan kalimat yang to the point.
“Insya Alloh, Pak.” Jawabku.
“Ya yang hati-hati. Dinilai dulu. Dibekali dulu. Kamu fokus
pekerjaan aja, kalau mas serius dia juga bakal menunjukkan kalau dia serius.”
“Siap, Pak.”
Dan selama dua puluh menit itu aku dan bapak bercerita
panjang lebar tentang hubunganku dengan dia.
Pagi yang berat, pikirku.
Tepat pukul 05.15 WIB kereta yang akan aku tumpangi
datang.
Aku bersalaman, dan bapak membalasnya dengan bonus ciuman
pipi kanan dan kiri.
“Hati-hati.”
“Ya, Pak.” Senyumku tegas. Harus terlihat sumringah.
Aku menaiki kereta Progo jurusan Pasar Senen-Lempuyangan.
Dan di gerbong 5 kursi 4E aku meletakkan tas bawaanku. Aku menghela nafas
panjang lagi.
Handphone-ku
berbunyi.
Pesan singkat dari bapak. “Udah duduk ya ? Hati-hati.”
Ada yang mengganjal di pagi hari ini.
Kebiasaan berangkat ke rantau pagi hari sebenarnya bukan
hal baru bagiku.
Tapi entah pagi ini.
Ada begitu banyak hal yang mengganjal.
Mama selalu menyiapkan ini itu sebelum aku berangkat, aku
selalu melihat dari balik jendela kereta, bapak menunggu hingga kereta berangkat
yang sebelumnya memastikan bahwa aku sudah duduk di kereta dengan nyaman, dan
aku akan berangkat dengan nasihat dan doa ini itu.
Semua berjalan seperti biasanya.
Tetapi, pagi ini. Ada ucapan yang tak tersampaikan. Yang
membuatku tak menanggapi mereka seperti biasanya.
Aku hanya menjawab singkat dan mengangguk, pun
melemparkan senyum tegas sekedar menyampaikan bahwa aku baik-baik saja.
“Maafin aku, Pak, Ma. Maaf aku salah. Terima kasih. Doakan
aku. Jaga kesehatan.” Sent.
Ternyata aku tidak sekuat yang aku pikirkan. Meminta maaf.
Iya, aku ingin meminta maaf. Ternyata hal itu yang sedari tadi mengganjal di
pagi hari yang seharusnya seperti biasanya.
Entah, untuk maaf yang ini, aku tidak mampu
mengucapkannya secara langsung.
Lagi-lagi, tidak seperti biasanya.
Aku dididik untuk mudah meminta maaf bila memang salah.
Pun biasanya, aku mampu mengucapkannya dengan mudah dan secara langsung,
apalagi kepada kedua orangtuaku.
Tapi kali ini, ternyata aku tidak mampu.
Kereta semakin cepat, dari balik jendela, aku mengusap
air mataku, melihat Bapak semakin jauh tidak terlihat.
Sungguh, untuk kali ini, maaf.
Dan maaf tidak bisa menyampaikan maafku secara langsung.
Yang pasti, aku sangat menyayangi kalian.
Doakan semua akan baik-baik saja, dan percayakan semua
padaku.
Dan dari headphone
yang aku kenakan, terdengar lagu Takkan Pernah Menyesal, menemani perjalananku
pagi ini ke tanah rantau.
0 komentar:
Posting Komentar