Kamis, 22 Desember 2016

Selamat Hari Ibu, Mama.


“Udah sholat ?”
“Hari ini mau makan apa ?”
“Bentar, mama cariin dulu.”
“Yang ini lebih cocok warnanya sama bajumu.”
“Tak bikinin teh anget dulu, ya.”
“Udah jam segini, mandinya pakai air anget.”
“Obatnya udah diminum belum ?”
“Kok belum tidur ?”
“Lagi apa ?”
“Yang semangat, ya. Mama selalu doain yang terbaik.”

Dan begitulah, Ia, dengan beribu kata sederhana.
Dan tak pernah berubah, hingga hari ini.

Aku rindu.
Rindu.
Tengah malam dengan mata sulit terpejam, pelan-pelan menuju kamarmu, menyelinap, dan dengan mudahnya mata terpejam, hanya dengan merebahkan tubuh di sampingmu.

Rindu.
Pagi hari tersedia di meja makan, sarapan sederhana. Ia, tidak pernah mengijinkan kami keluar rumah dengan perut kosong tanpa sarapan pagi.

Rindu.
Berkeluh kesah setelah seharian di luar rumah. Bercerita. Dan Ia, mendengarkan.

Rindu.
Berkelakar penuh cerita. Pun tawa. Ia, selalu punya banyak cerita yang selalu dikaitkan dengan nasihat-nasihat yang aku tahu suatu saat nanti aku akan mengingat banyak ceritanya.

Ia, masih sama seperti itu, hari ini.
Yang berbeda, tidak lagi bisa, Ia kutemui setiap hari.

Tenanglah, Ma.
Kemana kakiku ini akan melangkah,
Ke rumah, aku pasti selalu akan sempat pulang.
Di sisimu,
Adalah sebaik-baiknya tempat aku pulang.

Dan aku,
Tetaplah putri kecilmu yang keras kepala.
Yang tidak mau kalah berebut mainan dengan adik kecil perempuanku.
Yang rambut lurusnya selalu rapih dikucir olehmu.
Yang tidak suka jajan sembarangan di sekolah.
Yang selalu rindu masakanmu.

Jangan pernah menua.
Suatu hari nanti,
Rambut lurus anakku ingin juga dikucir olehmu.
Padanan baju yang tak pernah salah, aku ingin engkau memilihnya untuk anakku.
Dan aku ingin,
Anakku tahu, masakanmu adalah masakan terenak di dunia.

Selamat Hari Ibu, Mama.
Yang bisa aku lakukan, hanyalah mengucapkan “Rabbighfirli waliwalidayya warhamhuma kama rabbayani shaghirandi sepanjang doaku, untukmu.


Jumat, 11 November 2016

Dan pada Akhirnya


Aku termenung di sudut salah satu cafe di Yogyakarta, berteman secangkir cokelat hangat yang selalu sama aku pesan setiap aku menyempatkan diri duduk di bangku favoritku. Rasa yang sama dan tidak pernah berubah sejak pertama kali aku mencobanya.

Di luar sana, rintik. Di dalamnya, ribuan kata mencoba aku susun dengan perlahan. Sembari sesekali menghirup nafas dalam-dalam, mencari bau-bau hujan yang selalu membuatku merasa “aku ada di duniaku sendiri”.

Aku tahu, bodoh itu adalah mengeluh akan hidupku padahal aku paham ada banyak orang yang menginginkan hidup yang kadang aku keluhkan ini. Tapi manusiawi. Terlebih, jika ada sekumpulan makhluk yang katanya dewasanya itu tiba-tiba menjadi tidak punya akal dan pura-pura menjadi anak kecil yang hanya bisa menangis jika permen yang diinginkannya tidak kunjung dibelikan Ibu.

Dewasa yang rumit.

Banyak dari mereka yang memiliki banyak muka. Sesekali bermuka manis bak kucing yang menggeliat manja pada pemiliknya meminta makanan. Lain waktu, di belakang, bermuka layak pemeran antagonis di sinetron-sinetron racun yang kadang aku tonton (atau aku yang ditonton ?). Terkadang pula, mereka tertawa terbahal-bahak, padahal di belakang mencoba menancapkan pisau padaku, membunuh (karakter) ku demi kepentingannya.

Bagaimana denganku ?

Tetap di sini, dengan secangkir cokelat hangat dan membayangkan mereka yang dewasa (padahal aku tahu mereka tak lebihnya para pencari kepentingan) dan aku akhiri pikiranku dengan tertawa dan mengernyitkan dahi bergumam bahwa dunia semakin gila dan aku harus cukup gila menghadapi dunia yang seperti itu.
Tetap di sini, menjadi aku yang polos, sama seperti saat Mama bilang kalau baca komik itu tidak baik mending baca buku pelajaran, dan aku mengiyakan padahal kadang sepulang sekolah aku diam-diam pergi ke tempat peminjaman komik dan aku meminjamnya yang kemudian aku baca di rumah diam-diam yang mungkin sampai saat ini Mama tidak tahu di mana aku menyimpan komik-komik pinjamanku itu.
Tetap di sini , menjadi penikmat drama-drama mereka, anggap saja sedang menonton konser, bedanya di konser aku bisa teriak-teriak bernyanyi riang, sedangkan penikmat drama mereka aku harus menyiapkan hati lebih legowo, dan menunjukkan bahwa aku baik-baik saja, hai orang yang berkepentingan.

Rintik semakin deras, dan di luar sana terlihat ibu-ibu sedang menggendong bayinya yang sepertinya tertidur lelap. Ibu itu seperti baru saja pulang dari kantor (baca mengemis di perempatan lampu lalu lintas). Dan ternyata aku cukup bodoh jika hariku hanya dihabiskan dengan memikirkan bagaimana bisa mereka memiliki hati sedangkal itu sedangkan di sana ada Ibu yang berjuang hingga malam-malam demi uang dua ribu perak untuk makan anaknya.

Dan aku cukupkan menyusun pikiranku, sehabisnya cokelat hangat yang aku pesan. Sembari bersyukur, karena ternyata aku tidak gila terbukti cokelat hangat ini masih aku rasakan dengan rasa yang sama, kental, manis, dan menenangkan. Pun bersyukur ternyata aku tidak gila terbukti hujan masih bisa aku nikmati rintikannya walaupun baru saja aku memikirkan hal gila yang kadang membuat hariku cukup buruk tapi tidak dengan hidupku, karena Tuhan memberiku hidup yang banyak orang yang menginginkan hidupku.

Sepertinya aku harus pulang.

Setelah berjam-jam berkelut dengan kedewasaan yang rumit, aku ingin kembali menjadi perempuan biasa yang bergelut manja di peluknya. Aku ingin memeluknya. Dan tersenyum, mengatakan padanya, bahwa aku beruntung. Bukankan begitu, Tuhan ?

Rabu, 21 September 2016

Langit Tidak Perlu Menjelaskan bahwa Dirinya Tinggi


Langit tidak perlu menjelaskan bahwa dirinya tinggi.

Matahari tidak perlu membuktikan bahwa dirinya panas.

Bintang tidak perlu mengatakan bahwa dirinya berpendar.

Laut tidak perlu menyatakan bahwa dirinya dalam.

Dan kamu

Tidak perlu menjelaskan pada siapapun tentang dirimu.

Seperti halnya langit yang tidak perlu menjelaskan bahwa dirinya tinggi.

Seperti halnya matahari yang tidak perlu membuktikan bahwa dirinya panas.

Seperti halnya bintang yang tidak perlu mengatakan bahwa dirinya berpendar.

Seperti halnya laut yang tidak perlu menyatakan bahwa dirinya dalam.

Dan kamu

Jika kamu memang tinggi layaknya langit, kamu akan tetap tinggi.

Jika kamu memang panas layaknya matahari, kamu akan tetap panas.

Jika kamu memang berpendar layaknya bintang, kamu akan tetap berpendar.

Jika kamu memang dalam layaknya laut, kamu akan tetap dalam.


Kamis, 01 September 2016

Jangan Ganggu Rencana Tuhan


Pernahkah,
Di suatu hari, kamu menyiapkan rencana indah.
Dipikirnya masak-masak, semua dipersiapkan dengan sempurna,
Detail, dan dengan memikirkan baik pun buruknya.

Hingga datang satu sahabatmu.
Ia tahu sedemikian rupa rencanamu.
Ia berpikir bahwa rencanamu bukan rencana yang baik untukmu.
Dia datang dengan banyak sugesti negatif untukmu.
Karena ia takut kamu gagal,
Ia tak mau kamu terluka.

Dan ,
Pada akhirnya ,
Kamu menurutinya .
Kamu takut gagal ,
Padahal rencanamu sudah tertata dengan baik.
Dan, sekarang, tinggal angan-angan belaka saja,
Tanpa kamu tahu, seandainya rencanamu terlaksana, apakah kamu bahagia,
atau memang kamu seperti apa yang kamu takutkan , gagal .

Mungkin seperti itu.
Jika suatu hari,
Kamu gelisah.
Karena maumu, tidak dikabul-kabulkan Tuhan.

Tuhan menyusun rencana untukmu dengan sangat indah.
Di pertengahan,
Kamu takut ,
Dan kamu,
Dengan pikiran-pikiran negatifmu,
Dengan ketakutan-ketakutanmu,
Mengambil alih rencana Tuhan.
Dan membuat skenariomu sendiri.
Yang tanpa kamu tahu,
Justru rencana Tuhan jauh lebih indah dari rencanamu,
Hanya saja kamu tidak sabar,
Menunggu.

Tuhanpun butuh waktu.
Untuk membuatmu belajar apa arti menunggu,
Untuk melihat seberapa kuat doamu,
Untuk memperhitungkan seberapa keras usahamu.

Kamu tidak suka rencanamu terganggu , bukan ?
Jangan ganggu rencana Tuhan,
Dengan pikiran negatifmu.
Dengan hati yang gelisah.
Dengan kesusahan yang kamu anggap bahwa kamu objek yang paling menderita.

Ganggu Ia.
Dengan doa-doa terindahmu.
Dengan usaha kerasmu.
Dengan pikiran positifmu.
Dengan kesabaranmu untuk menunggu.


Karena yang terbaik selalu membutuhkan waktu.

Sabtu, 23 Juli 2016

Ya ?


Tidak semua mau kita, Tuhan berkata “Ya”
Terkadang,
Ia berkata “Tunggu”
Karena menurutNya, waktu kita belum tepat.
Dan terkadang,
Ia berkata “Tidak”
Karena menurutNya, ada yang lebih baik dari mau kita

Entah seberapa detail kita menjelaskan pada Tuhan tentang rencana kita
Entah seberapa keras hingga lelah kita berjuang mewujudkannya
Entah seberapa panjang doa yang kita panjatkan untukNya
Tapi kuasa Tuhan di atas segalanya

Menerima
Berlapang dada
Mengikhlaskan
Pun memahami
Bahwa Tuhan tahu waktu yang terbaik
Bahwa Tuhan tahu nyata yang baik
Bahwa Tuhan tahu , jauh lebih tahu dari kita yang mengetahui rencana kita

Tiada yang tahu kapan Tuhan berkata “Ya”
Mungkin esok Senin, atau mungkin Rabu,

Atau mungkin berkata “Tunggu” atau akankah berkata “Tidak” ?

Jumat, 01 Juli 2016

Ketika Tangan Tuhan Bekerja


Tidak ada yang pernah bisa menebak kapan tangan Tuhan bekerja.
Kiranya,
Kamu, merasa peluhmu sudah habis.
Sampai rasanya, kamu tidak sanggup memejamkan mata karena terlalu lelah.


Kiranya,
Kamu, merasa air matamu sudah kering.
Sampai rasanya, kamu tidak sanggup menangis lagi karena terlalu pedih.


Kadang, memang sudah seharusnya.
Setiap jengkal langkah usaha,
Setiap doa yang diucap ke langit,
Harus ada satu ruang, di mana kamu membiarkan tangan Tuhan bekerja.


Tuhan bekerja untuk mengabulkan doamu dalam diam.
Semesta membantu doamu melangit.
Dan kamu yang tidak pernah berhenti, membuat keajaiban itu ada di akhir lelahmu.


Aku tahu Tuhan akan berkata “Ya” .
Di waktu yang menurut Tuhan tepat.
Di waktu di mana keajaiban membuatku sadar,

bahwa dalam diamNya, Tuhan selalu ada menolongmu.

Rabu, 01 Juni 2016

Aku Jatuh Cinta dengan Mudahnya


Aku jatuh cinta dengan mudahnya
Hanya dengan berkelakar denganmu, 
menghabiskan ribuan detik yang rasanya seperti sekejap

Aku jatuh cinta dengan mudahnya
Hanya dengan mencium aroma tubuhmu,
Mengepit manja di ketiakmu, dengan tanganmu terlingkar melindungiku

Aku jatuh cinta dengan mudahnya
Hanya dengan berjalan tanpa arah, entah kemana, menyusuri kota
Dengan tangan menggenggam erat, seakan tidak dapat terlepas

Aku jatuh cinta dengan mudahnya
Hanya dengan kamu ada di sisi, menepiskan takut, menghapus air mata
Ketika dunia sedang tidak berpihak padaku

Aku jatuh cinta dengan mudahnya
Hanya dengan bercerita hal tidak penting,
dengan gerakanmu yang ngalor-ngidul, entah,

Aku jatuh cinta dengan mudahnya
Hanya dengan duduk di teras samping rumahmu,
Bercanda, tertawa, dengan mereka, keluargamu, sederhana, tapi aku suka

Aku jatuh cinta dengan mudahnya
Hanya dengan kedinginan, kehujanan, sepanjang jalan menerobos ramainya jalan raya
Dan hujan yang seakan merayakan perasaan ini

Aku jatuh cinta dengan mudahnya
Hanya dengan menyanyikan lagu-lagu favorit kita di konser musik ini-itu
Sesekali saling menatap seakan lagu itu untuk kita

Aku jatuh cinta dengan mudahnya
Denganmu
Seseorang yang membuatku mencintai dengan sederhana
Seseorang yang mencintaiku dengan sederhana
Aku jatuh cinta dengan mudahnya



Luruh


Semua seperti lalu lalang di depanku
Sedangkan itu tatapanku kosong, hanya pikiran yang seolah memutar waktu,
Entah ke beberapa tahun lalu
Sendiku luruh
Bersamaan dengan memori yang seakan baru saja terjadi
Padahal mungkin tidak akan ada lagi yang mengingatnya
Seharusnya sudah enyah
Dan tidak mungkin nampak, walau sekilas
Pergilah
Karena memang sudah seharusnya
Cukupkan menghantuiku
Dengan cerita yang seharusnya sudah bisa kutebak jauh sebelum luka itu ada
Dunia yang lucu
Berakhirlah
Dan aku buka mataku
Yang aku lihat nyata

Bukan lalu

Kamis, 19 Mei 2016

Kita yang Sibuk dan Mereka yang Semakin Menua


Aku terbangun terburu-buru, sisa sulit tidurku semalam membuatku bangun lebih siang dari biasanya.
Sembari bersiap berangkat kerja, aku menghela nafas panjang, tak lupa bersyukur Tuhan masih membangunkanku pagi itu.

Aku kirimkan pesan singkat untuknya, seperti biasanya, “Bangun sayang, selamat pagi.”
Subuh, memasak, sarapan, berakhir dengan mandi dan memoles sedikit make up, rutinitas pagiku, hingga akhirnya aku harus mengejar fingerprint, sebelum pukul 07.30.

Sesampai di kantor, aku kirimkan pesan singkat untuk Bapak dan Mama di rumah. Ah, ini hari Jumat. Sudah terbayang senyuman mereka di rumah yang melihatku memasuki rumah di hari Sabtu nanti.

Seharian, aku berkutat dengan angka, mengejar dateline laporan yang harus segera aku kumpulkan ke Dinas Kesehatan.
Belum lagi, BPK meminta data ini itu, karena satu bulan ini, mereka sedang melakukan tugasnya, dan mengharuskanku mengirimkan data ini itu untuk diperiksa.
Dateline dari BPKPpun sudah melambai-lambaikan tangannya, minta disentuh, sepertinya.

Waktu berlalu cepat hari itu.
Angka menyita perhatianku.
Selalu seperti itu, sampai aku bisa membayar penatku di weekend.
Mengeluh ?
Bosan ?
Lelah ?
Tidak.
Aku melakukannya, karena aku mencintai apa yang aku kerjakan.
Ini yang aku inginkan dari dulu, tidak membiarkan otakku berhenti bekerja.
Tidak membiarkan waktuku habis tanpa membuat kedua orangtuaku tersenyum bangga melihatku.

Sabtupun datang.
Waktu terasa lama.
Pekerjaan sudah selesai aku kerjakan, dan pikiranku sudah entah, di rumah.
Hingga pukul 13.00, waktunya fingerprint, dan bergegas pulang ke kos.
Ada yang harus aku temui sore ini.
Selelah apapun, aku harus menemuinya.

Dengan sneakers dan kaos andalan, pun tas punggung yang aku bawa, aku bersiap ke stasiun Lempuyangan. Aku harus bergegas, mengejar kereta Logawa, pukul 14.30.
Dia berhalangan mengantarku, tak apa.

Kunyalakan motor miniku melewati padatnya jalan raya di Yogyakarta di kala weekend seperti ini.
Masih terkejar.
Hingga akhirnya aku bisa melapangkan nafas ketika sudah duduk manis di kereta ekonomi yang sudah jauh berubah.
Tak ada lagi pedagang asongan, tak ada lagi ketakutan tidak mendapatkan tempat duduk, tidak ada lagi bau-bau tubuh menyengat, dan suara sumbang pengamen seadanya.
Aku teguk minuman penambah ion yang dingin ini, kuletakkan tas punggungku, dan aku nikmati desiran angin AC yang sungguh menjadi penyelamat panasnya kota Yogyakarta siang itu.

Gelap.
Sepertinya aku tertidur.
Hingga pengeras suara memberi tahu keretaku sudah memasuki Stasiun Kutoarjo.
Ah, setengah jam lagi.

Sampailah aku di stasiun tujuan.
Aku melihatnya, seperti biasa.
Bapak dengan senyuman tampannya, yang tidak pernah berubah, menjemputku.
Lega.
Terlebih sesampainya aku di rumah, aku melihat senyuman Mama.
Lega.
Mereka sehat. Dan tidak berubah.

Masih lekat di ingatanku, tujuh tahun yang lalu, hampir dua puluh empat jam aku bisa melihat mereka.
Saat masih kuliah, libur panjangpun, aku lebih suka menghabiskan di rumah.
Bukan karena aku tidak suka bepergian,
Tetapi aku tahu, suatu saat, aku akan sulit mendapatkan waktu menikmati senyuman mereka selama hampir dua puluh empat jam.

Dan,
Itu memang terjadi saat ini.
Aku, dengan rutinitasku yang tidak bisa aku tawar lagi, membuatku harus merelakan banyak waktu.
Pulang dengan waktu terbatas, tapi harus aku sempatkan, walau itu menguras tenagaku yang selama enam hari sudah berkutat dengan dateline ini itu.
Ada yang tidak akan pernah aku lupakan,
Kedua orangtua yang semakin tua.

Iya,
Kita mendewasa.
Sibuk dengan mimpi ini itu.
Bekerja dengan dalih untuk orangtua, yang padahal sebenarnya orangtua tidak membutuhkan uang kita.
Mereka, hanya butuh waktu kita.

Iya,
Berkutat dengan rencana ini itu.
Bahagia dengan kekasih.
Yang tanpa disadari, rambut Bapak dan Mama semakin memutih, lebih sering mengeluh sakit, dan tidak lagi sekuat dahulu.

Lalu apa ?
Selain doa yang tidak pernah berhenti untuk mereka di rumah.
Kesempatan.
Di sela sibuk, sempatkan.
Entah berkirim kabar, atau sebisa mungkin pulang ke rumah.

Ada yang menunggu.
Bukan uangmu dan hasil sibukmu.
Mereka menunggu cerita bahagia, menunggu mengelus lembut rambutmu, mencium keningmu, dan berharap anak mereka tidak “mendewasa” secepat itu, karena di mata mereka, kita tetaplah anak kecil yang suka merengek manja meminta ini itu.

Jaga mereka di rumah, Tuhan.
Mungkin tua tidak bisa tertolak, namun melihat mereka sehat adalah anugerah bagiku.
Anakmu tidak akan sibuk untukmu, Pak, Ma.
Aku akan sempat. Jangan takut aku tidak sempat.

Selasa, 12 April 2016

Selamat Ulang Tahun, Cinta Pertamaku


Selamat pagi, untukmu, seseorang yang sedang berulangtahun hari ini.


Maaf.
Hari ini aku tidak bisa datang menemuimu.
Aku sudah merencanakannya, sungguh.
Untuk menemuimu pagi-pagi sekali. Dengan tangan kanan membawa kue tart. Dan tangan kiri membawa kado untukmu.
Itu sudah aku rencanakan jauh bulan.
Tapi apa daya, tempatku bekerja tidak memberikannya untukku.
Mungkin alasanku terlalu klasik.
Aku cuti karena ingin bersamamu di hari yang istimewa ini.
Sekali lagi, maaf.
Sungguh bukan karena aku tidak mencintaimu lagi. Aku sangat ingin.


Pagi ini, aku rapalkan doa lebih kencang dari hari biasanya.
Jangan salah, setiap hari, tanpa kamu minta pun aku mendoakan.
Tapi karena hari ini, hari yang istimewa untukmu, aku panjangkan doaku. Sepagian tadi.
Aku kirimkan pesan singkat, mengucapkan selamat ulang tahun, memanjatkan doa, dan tak lupa ucapan “aku sangat menyayangimu.”
Maaf, baru itu yang bisa aku lakukan. Sekali lagi, sungguh bukan karena aku tidak mencintaimu.
Aku sungguh sangat mencintaimu.


Teruntuk kamu, seseorang yang sedang berulangtahun hari ini.
Waktu berlalu begitu cepat.
Masih lekat di ingatanku, dari aku bangun tidur, pun hingga akan beranjak tidur, setiap harinya aku bisa melihatmu.
Bergulat manja denganmu. Bergurau hingga perut perih. Bahkan tak jarang aku menangis karena kita berbeda pendapat.
Tapi satu yang aku ingat. Hingga aku menuliskan cerita ini, kamu sama sekali belum pernah membentakku, memarahiku, mengeluarkan kata kasar di depanku, bahkan bermain tangan padaku.
Aku hanya tahu, kamu menjagaku selalu.
Memenuhi keinginanku, mengantarkanku kemana aku mau, menjadikanku ratu kecilmu.


Bahkan, ketika aku sudah sebesar saat ini, ketika aku pulang, kamu masih dengan setia menjemputku.
Menunggu dengan sabar ketika keretaku belum sampai.
Dan ketika aku harus berangkat kembali meninggalkanmu, kamu pun masih dengan setia menemaniku, hingga keretaku datang.
Menungguku hingga kereta datang. Dan memastikan aku sudah duduk dengan mengirimkanku pesan singkat.
Dan selalu ada yang menetes dari mataku, melihatmu berdiri di ruang tunggu, hingga keretaku melaju.


Dan sekarang.
Maaf. Aku tidak bisa ada di sampingmu di hari ini.
Sungguh, bukan berarti aku tidak mencintaimu lagi.


Kamu, laki-laki yang membuat aku selalu jatuh cinta.
Maaf. Selalu membuatmu cemburu karena membawa laki-laki lain datang ke rumah.
Beberapa kali membuatmu ikut sakit hati,
Karena ternyata laki-laki yang aku pilih dulu, yang aku pikir bisa sepertimu, membuat aku harus merasakan bagaimana rasanya patah hati.


Dan sekarang,
Akupun sudah memilih kembali dia. Seseorang yang aku percayakan untuk bersamaku, kelak.
Bukan, sungguh bukan untuk menggantikanmu.
Sungguh bukan karena aku tidak lagi mencintaimu.
Karena sebenar-benarnya, kamulah cinta pertamaku.
Dia, orang yang aku percaya akan sangat menyayangimu,
Dan dia orang yang aku percaya tidak akan mencemburuimu ketika aku mengagung-agungkan cintaku kepadamu.


Selamat ulangtahun, Ayah.
Selamat ulangtahun, cinta pertamaku.

Aku akan selalu mencintaimu. Tidak akan pernah berhenti.

Kamis, 07 April 2016

Akan Tiba Masanya


Akan tiba masanya.
Masa di mana semua pikiran menjadi satu.
Tidak melulu tentang pekerjaan dengan dateline yang sama.
Tidak melulu tentang rencana ini itu yang Tuhan hapus
dan tergantikan dengan rencana Tuhan yang lebih baik.

Ternyata ketika pikiran dan hati sedang tidak baik,
Hal-hal kecil yang semestinya tidak terpikirkan justru datang.
Bukan membaikkan.
Namun membuat aku sedikit kehilangan otak tertawaku.

Akan tiba masanya.
Hari terasa terbebani.
Air mata jatuh tanpa alasan.
Nanar mata kosong. Entah sedang menatap apa pun siapa.

Namun.
Akan tiba masanya.
Semua yang terpikirkan sebelumnya
hilang
Tanpa perlu aku mencemaskan ini itu.
Tanpa perlu aku minta untuk pergi.

Akan tiba masanya.
Menghela nafas panjang nan lega.
Ketika aku mengagungkan penerimaan di atas segalanya.
Semudah itu seharusnya.
Bahwa hidup itu seharusnya menerima.

Tuhan tidak menjanjikan semua mudah.
Tetapi Tuhan menjanjikan semua akan baik-baik saja. Di waktuNya.

Teruntuk pagi yang membuatku merasa semua baik-baik saja.

Terima kasih.