Jumat, 11 November 2016

Dan pada Akhirnya


Aku termenung di sudut salah satu cafe di Yogyakarta, berteman secangkir cokelat hangat yang selalu sama aku pesan setiap aku menyempatkan diri duduk di bangku favoritku. Rasa yang sama dan tidak pernah berubah sejak pertama kali aku mencobanya.

Di luar sana, rintik. Di dalamnya, ribuan kata mencoba aku susun dengan perlahan. Sembari sesekali menghirup nafas dalam-dalam, mencari bau-bau hujan yang selalu membuatku merasa “aku ada di duniaku sendiri”.

Aku tahu, bodoh itu adalah mengeluh akan hidupku padahal aku paham ada banyak orang yang menginginkan hidup yang kadang aku keluhkan ini. Tapi manusiawi. Terlebih, jika ada sekumpulan makhluk yang katanya dewasanya itu tiba-tiba menjadi tidak punya akal dan pura-pura menjadi anak kecil yang hanya bisa menangis jika permen yang diinginkannya tidak kunjung dibelikan Ibu.

Dewasa yang rumit.

Banyak dari mereka yang memiliki banyak muka. Sesekali bermuka manis bak kucing yang menggeliat manja pada pemiliknya meminta makanan. Lain waktu, di belakang, bermuka layak pemeran antagonis di sinetron-sinetron racun yang kadang aku tonton (atau aku yang ditonton ?). Terkadang pula, mereka tertawa terbahal-bahak, padahal di belakang mencoba menancapkan pisau padaku, membunuh (karakter) ku demi kepentingannya.

Bagaimana denganku ?

Tetap di sini, dengan secangkir cokelat hangat dan membayangkan mereka yang dewasa (padahal aku tahu mereka tak lebihnya para pencari kepentingan) dan aku akhiri pikiranku dengan tertawa dan mengernyitkan dahi bergumam bahwa dunia semakin gila dan aku harus cukup gila menghadapi dunia yang seperti itu.
Tetap di sini, menjadi aku yang polos, sama seperti saat Mama bilang kalau baca komik itu tidak baik mending baca buku pelajaran, dan aku mengiyakan padahal kadang sepulang sekolah aku diam-diam pergi ke tempat peminjaman komik dan aku meminjamnya yang kemudian aku baca di rumah diam-diam yang mungkin sampai saat ini Mama tidak tahu di mana aku menyimpan komik-komik pinjamanku itu.
Tetap di sini , menjadi penikmat drama-drama mereka, anggap saja sedang menonton konser, bedanya di konser aku bisa teriak-teriak bernyanyi riang, sedangkan penikmat drama mereka aku harus menyiapkan hati lebih legowo, dan menunjukkan bahwa aku baik-baik saja, hai orang yang berkepentingan.

Rintik semakin deras, dan di luar sana terlihat ibu-ibu sedang menggendong bayinya yang sepertinya tertidur lelap. Ibu itu seperti baru saja pulang dari kantor (baca mengemis di perempatan lampu lalu lintas). Dan ternyata aku cukup bodoh jika hariku hanya dihabiskan dengan memikirkan bagaimana bisa mereka memiliki hati sedangkal itu sedangkan di sana ada Ibu yang berjuang hingga malam-malam demi uang dua ribu perak untuk makan anaknya.

Dan aku cukupkan menyusun pikiranku, sehabisnya cokelat hangat yang aku pesan. Sembari bersyukur, karena ternyata aku tidak gila terbukti cokelat hangat ini masih aku rasakan dengan rasa yang sama, kental, manis, dan menenangkan. Pun bersyukur ternyata aku tidak gila terbukti hujan masih bisa aku nikmati rintikannya walaupun baru saja aku memikirkan hal gila yang kadang membuat hariku cukup buruk tapi tidak dengan hidupku, karena Tuhan memberiku hidup yang banyak orang yang menginginkan hidupku.

Sepertinya aku harus pulang.

Setelah berjam-jam berkelut dengan kedewasaan yang rumit, aku ingin kembali menjadi perempuan biasa yang bergelut manja di peluknya. Aku ingin memeluknya. Dan tersenyum, mengatakan padanya, bahwa aku beruntung. Bukankan begitu, Tuhan ?

0 komentar:

Posting Komentar