Aku termenung di sudut salah satu cafe di Yogyakarta, berteman secangkir
cokelat hangat yang selalu sama aku pesan setiap aku menyempatkan diri duduk di
bangku favoritku. Rasa yang sama dan tidak pernah berubah sejak pertama kali
aku mencobanya.
Di luar sana, rintik. Di dalamnya, ribuan kata mencoba aku susun dengan
perlahan. Sembari sesekali menghirup nafas dalam-dalam, mencari bau-bau hujan
yang selalu membuatku merasa “aku ada di duniaku sendiri”.
Aku tahu, bodoh itu adalah mengeluh akan hidupku padahal aku paham ada
banyak orang yang menginginkan hidup yang kadang aku keluhkan ini. Tapi
manusiawi. Terlebih, jika ada sekumpulan makhluk yang katanya dewasanya itu
tiba-tiba menjadi tidak punya akal dan pura-pura menjadi anak kecil yang hanya
bisa menangis jika permen yang diinginkannya tidak kunjung dibelikan Ibu.
Dewasa yang rumit.
Banyak dari mereka yang memiliki banyak muka. Sesekali bermuka manis bak
kucing yang menggeliat manja pada pemiliknya meminta makanan. Lain waktu, di
belakang, bermuka layak pemeran antagonis di sinetron-sinetron racun yang
kadang aku tonton (atau aku yang ditonton ?). Terkadang pula, mereka tertawa
terbahal-bahak, padahal di belakang mencoba menancapkan pisau padaku, membunuh
(karakter) ku demi kepentingannya.
Bagaimana denganku ?
Tetap di sini, dengan secangkir cokelat hangat dan membayangkan mereka yang
dewasa (padahal aku tahu mereka tak lebihnya para pencari kepentingan) dan aku akhiri
pikiranku dengan tertawa dan mengernyitkan dahi bergumam bahwa dunia semakin
gila dan aku harus cukup gila menghadapi dunia yang seperti itu.
Tetap di sini, menjadi aku yang polos, sama seperti saat Mama bilang kalau baca
komik itu tidak baik mending baca buku pelajaran, dan aku mengiyakan padahal
kadang sepulang sekolah aku diam-diam pergi ke tempat peminjaman komik dan aku
meminjamnya yang kemudian aku baca di rumah diam-diam yang mungkin sampai saat
ini Mama tidak tahu di mana aku menyimpan komik-komik pinjamanku itu.
Tetap di sini , menjadi penikmat drama-drama mereka, anggap saja sedang
menonton konser, bedanya di konser aku bisa teriak-teriak bernyanyi riang,
sedangkan penikmat drama mereka aku harus menyiapkan hati lebih legowo, dan
menunjukkan bahwa aku baik-baik saja, hai orang yang berkepentingan.
Rintik semakin deras, dan di luar sana terlihat ibu-ibu sedang menggendong
bayinya yang sepertinya tertidur lelap. Ibu itu seperti baru saja pulang dari
kantor (baca mengemis di perempatan lampu lalu lintas). Dan ternyata aku cukup
bodoh jika hariku hanya dihabiskan dengan memikirkan bagaimana bisa mereka
memiliki hati sedangkal itu sedangkan di sana ada Ibu yang berjuang hingga
malam-malam demi uang dua ribu perak untuk makan anaknya.
Dan aku cukupkan menyusun pikiranku, sehabisnya cokelat hangat yang aku
pesan. Sembari bersyukur, karena ternyata aku tidak gila terbukti cokelat
hangat ini masih aku rasakan dengan rasa yang sama, kental, manis, dan
menenangkan. Pun bersyukur ternyata aku tidak gila terbukti hujan masih bisa
aku nikmati rintikannya walaupun baru saja aku memikirkan hal gila yang kadang
membuat hariku cukup buruk tapi tidak dengan hidupku, karena Tuhan memberiku
hidup yang banyak orang yang menginginkan hidupku.
Sepertinya aku harus pulang.
Setelah berjam-jam berkelut dengan kedewasaan yang rumit, aku ingin kembali
menjadi perempuan biasa yang bergelut manja di peluknya. Aku ingin memeluknya.
Dan tersenyum, mengatakan padanya, bahwa aku beruntung. Bukankan begitu, Tuhan ?
0 komentar:
Posting Komentar