Kamis, 19 Mei 2016

Kita yang Sibuk dan Mereka yang Semakin Menua


Aku terbangun terburu-buru, sisa sulit tidurku semalam membuatku bangun lebih siang dari biasanya.
Sembari bersiap berangkat kerja, aku menghela nafas panjang, tak lupa bersyukur Tuhan masih membangunkanku pagi itu.

Aku kirimkan pesan singkat untuknya, seperti biasanya, “Bangun sayang, selamat pagi.”
Subuh, memasak, sarapan, berakhir dengan mandi dan memoles sedikit make up, rutinitas pagiku, hingga akhirnya aku harus mengejar fingerprint, sebelum pukul 07.30.

Sesampai di kantor, aku kirimkan pesan singkat untuk Bapak dan Mama di rumah. Ah, ini hari Jumat. Sudah terbayang senyuman mereka di rumah yang melihatku memasuki rumah di hari Sabtu nanti.

Seharian, aku berkutat dengan angka, mengejar dateline laporan yang harus segera aku kumpulkan ke Dinas Kesehatan.
Belum lagi, BPK meminta data ini itu, karena satu bulan ini, mereka sedang melakukan tugasnya, dan mengharuskanku mengirimkan data ini itu untuk diperiksa.
Dateline dari BPKPpun sudah melambai-lambaikan tangannya, minta disentuh, sepertinya.

Waktu berlalu cepat hari itu.
Angka menyita perhatianku.
Selalu seperti itu, sampai aku bisa membayar penatku di weekend.
Mengeluh ?
Bosan ?
Lelah ?
Tidak.
Aku melakukannya, karena aku mencintai apa yang aku kerjakan.
Ini yang aku inginkan dari dulu, tidak membiarkan otakku berhenti bekerja.
Tidak membiarkan waktuku habis tanpa membuat kedua orangtuaku tersenyum bangga melihatku.

Sabtupun datang.
Waktu terasa lama.
Pekerjaan sudah selesai aku kerjakan, dan pikiranku sudah entah, di rumah.
Hingga pukul 13.00, waktunya fingerprint, dan bergegas pulang ke kos.
Ada yang harus aku temui sore ini.
Selelah apapun, aku harus menemuinya.

Dengan sneakers dan kaos andalan, pun tas punggung yang aku bawa, aku bersiap ke stasiun Lempuyangan. Aku harus bergegas, mengejar kereta Logawa, pukul 14.30.
Dia berhalangan mengantarku, tak apa.

Kunyalakan motor miniku melewati padatnya jalan raya di Yogyakarta di kala weekend seperti ini.
Masih terkejar.
Hingga akhirnya aku bisa melapangkan nafas ketika sudah duduk manis di kereta ekonomi yang sudah jauh berubah.
Tak ada lagi pedagang asongan, tak ada lagi ketakutan tidak mendapatkan tempat duduk, tidak ada lagi bau-bau tubuh menyengat, dan suara sumbang pengamen seadanya.
Aku teguk minuman penambah ion yang dingin ini, kuletakkan tas punggungku, dan aku nikmati desiran angin AC yang sungguh menjadi penyelamat panasnya kota Yogyakarta siang itu.

Gelap.
Sepertinya aku tertidur.
Hingga pengeras suara memberi tahu keretaku sudah memasuki Stasiun Kutoarjo.
Ah, setengah jam lagi.

Sampailah aku di stasiun tujuan.
Aku melihatnya, seperti biasa.
Bapak dengan senyuman tampannya, yang tidak pernah berubah, menjemputku.
Lega.
Terlebih sesampainya aku di rumah, aku melihat senyuman Mama.
Lega.
Mereka sehat. Dan tidak berubah.

Masih lekat di ingatanku, tujuh tahun yang lalu, hampir dua puluh empat jam aku bisa melihat mereka.
Saat masih kuliah, libur panjangpun, aku lebih suka menghabiskan di rumah.
Bukan karena aku tidak suka bepergian,
Tetapi aku tahu, suatu saat, aku akan sulit mendapatkan waktu menikmati senyuman mereka selama hampir dua puluh empat jam.

Dan,
Itu memang terjadi saat ini.
Aku, dengan rutinitasku yang tidak bisa aku tawar lagi, membuatku harus merelakan banyak waktu.
Pulang dengan waktu terbatas, tapi harus aku sempatkan, walau itu menguras tenagaku yang selama enam hari sudah berkutat dengan dateline ini itu.
Ada yang tidak akan pernah aku lupakan,
Kedua orangtua yang semakin tua.

Iya,
Kita mendewasa.
Sibuk dengan mimpi ini itu.
Bekerja dengan dalih untuk orangtua, yang padahal sebenarnya orangtua tidak membutuhkan uang kita.
Mereka, hanya butuh waktu kita.

Iya,
Berkutat dengan rencana ini itu.
Bahagia dengan kekasih.
Yang tanpa disadari, rambut Bapak dan Mama semakin memutih, lebih sering mengeluh sakit, dan tidak lagi sekuat dahulu.

Lalu apa ?
Selain doa yang tidak pernah berhenti untuk mereka di rumah.
Kesempatan.
Di sela sibuk, sempatkan.
Entah berkirim kabar, atau sebisa mungkin pulang ke rumah.

Ada yang menunggu.
Bukan uangmu dan hasil sibukmu.
Mereka menunggu cerita bahagia, menunggu mengelus lembut rambutmu, mencium keningmu, dan berharap anak mereka tidak “mendewasa” secepat itu, karena di mata mereka, kita tetaplah anak kecil yang suka merengek manja meminta ini itu.

Jaga mereka di rumah, Tuhan.
Mungkin tua tidak bisa tertolak, namun melihat mereka sehat adalah anugerah bagiku.
Anakmu tidak akan sibuk untukmu, Pak, Ma.
Aku akan sempat. Jangan takut aku tidak sempat.

0 komentar:

Posting Komentar