Aku terbangun terburu-buru, sisa sulit tidurku semalam
membuatku bangun lebih siang dari biasanya.
Sembari bersiap berangkat kerja, aku menghela nafas
panjang, tak lupa bersyukur Tuhan masih membangunkanku pagi itu.
Aku kirimkan pesan singkat untuknya, seperti biasanya, “Bangun
sayang, selamat pagi.”
Subuh, memasak, sarapan, berakhir dengan mandi dan
memoles sedikit make up, rutinitas
pagiku, hingga akhirnya aku harus mengejar fingerprint,
sebelum pukul 07.30.
Sesampai di kantor, aku kirimkan pesan singkat untuk
Bapak dan Mama di rumah. Ah, ini hari Jumat. Sudah terbayang senyuman mereka di
rumah yang melihatku memasuki rumah di hari Sabtu nanti.
Seharian, aku berkutat dengan angka, mengejar dateline laporan yang harus segera aku
kumpulkan ke Dinas Kesehatan.
Belum lagi, BPK meminta data ini itu, karena satu bulan
ini, mereka sedang melakukan tugasnya, dan mengharuskanku mengirimkan data ini
itu untuk diperiksa.
Dateline dari BPKPpun sudah
melambai-lambaikan tangannya, minta disentuh, sepertinya.
Waktu berlalu cepat hari itu.
Angka menyita perhatianku.
Selalu seperti itu, sampai aku bisa membayar penatku di weekend.
Mengeluh ?
Bosan ?
Lelah ?
Tidak.
Aku melakukannya, karena aku mencintai apa yang aku
kerjakan.
Ini yang aku inginkan dari dulu, tidak membiarkan otakku
berhenti bekerja.
Tidak membiarkan waktuku habis tanpa membuat kedua
orangtuaku tersenyum bangga melihatku.
Sabtupun datang.
Waktu terasa lama.
Pekerjaan sudah selesai aku kerjakan, dan pikiranku sudah
entah, di rumah.
Hingga pukul 13.00, waktunya fingerprint, dan bergegas pulang ke kos.
Ada yang harus aku temui sore ini.
Selelah apapun, aku harus menemuinya.
Dengan sneakers
dan kaos andalan, pun tas punggung yang aku bawa, aku bersiap ke stasiun
Lempuyangan. Aku harus bergegas, mengejar kereta Logawa, pukul 14.30.
Dia berhalangan mengantarku, tak apa.
Kunyalakan motor miniku melewati padatnya jalan raya di
Yogyakarta di kala weekend seperti
ini.
Masih terkejar.
Hingga akhirnya aku bisa melapangkan nafas ketika sudah
duduk manis di kereta ekonomi yang sudah jauh berubah.
Tak ada lagi pedagang asongan, tak ada lagi ketakutan
tidak mendapatkan tempat duduk, tidak ada lagi bau-bau tubuh menyengat, dan
suara sumbang pengamen seadanya.
Aku teguk minuman penambah ion yang dingin ini,
kuletakkan tas punggungku, dan aku nikmati desiran angin AC yang sungguh
menjadi penyelamat panasnya kota Yogyakarta siang itu.
Gelap.
Sepertinya aku tertidur.
Hingga pengeras suara memberi tahu keretaku sudah
memasuki Stasiun Kutoarjo.
Ah, setengah jam lagi.
Sampailah aku di stasiun tujuan.
Aku melihatnya, seperti biasa.
Bapak dengan senyuman tampannya, yang tidak pernah
berubah, menjemputku.
Lega.
Terlebih sesampainya aku di rumah, aku melihat senyuman Mama.
Lega.
Mereka sehat. Dan tidak berubah.
Masih lekat di ingatanku, tujuh tahun yang lalu, hampir
dua puluh empat jam aku bisa melihat mereka.
Saat masih kuliah, libur panjangpun, aku lebih suka
menghabiskan di rumah.
Bukan karena aku tidak suka bepergian,
Tetapi aku tahu, suatu saat, aku akan sulit mendapatkan
waktu menikmati senyuman mereka selama hampir dua puluh empat jam.
Dan,
Itu memang terjadi saat ini.
Aku, dengan rutinitasku yang tidak bisa aku tawar lagi,
membuatku harus merelakan banyak waktu.
Pulang dengan waktu terbatas, tapi harus aku sempatkan,
walau itu menguras tenagaku yang selama enam hari sudah berkutat dengan dateline ini itu.
Ada yang tidak akan pernah aku lupakan,
Kedua orangtua yang semakin tua.
Iya,
Kita mendewasa.
Sibuk dengan mimpi ini itu.
Bekerja dengan dalih untuk orangtua, yang padahal
sebenarnya orangtua tidak membutuhkan uang kita.
Mereka, hanya butuh waktu kita.
Iya,
Berkutat dengan rencana ini itu.
Bahagia dengan kekasih.
Yang tanpa disadari, rambut Bapak dan Mama semakin
memutih, lebih sering mengeluh sakit, dan tidak lagi sekuat dahulu.
Lalu apa ?
Selain doa yang tidak pernah berhenti untuk mereka di
rumah.
Kesempatan.
Di sela sibuk, sempatkan.
Entah berkirim kabar, atau sebisa mungkin pulang ke
rumah.
Ada yang menunggu.
Bukan uangmu dan hasil sibukmu.
Mereka menunggu cerita bahagia, menunggu mengelus lembut
rambutmu, mencium keningmu, dan berharap anak mereka tidak “mendewasa” secepat
itu, karena di mata mereka, kita tetaplah anak kecil yang suka merengek manja
meminta ini itu.
Jaga mereka di rumah, Tuhan.
Mungkin tua tidak bisa tertolak, namun melihat mereka
sehat adalah anugerah bagiku.
Anakmu tidak akan sibuk untukmu, Pak, Ma.
Aku akan sempat. Jangan takut aku tidak sempat.
0 komentar:
Posting Komentar