Akhirnya, mungkin setelah hampir
delapan tahun tidak menyambangi bioskop, aku memutuskan untuk kembali menonton
film. Itupun karena Dilan 1990-ku difilmkan. Iya, salah satu dari tiga series
tentang Dilan, karangan Ayah Pidi Baiq, novel yang membuatku memiliki imajinasi
tersendiri tentang Dilan.
Ada banyak novel series yang aku
baca. Termasuk lima karya Dee Lestari dengan novel terakhirnya yang super tebal
menurut aku yang sekarang sudah berminus tinggi ini.
Tapi, Dilan, satu-satunya
karakter yang membuat aku jatuh cinta dan berharap di dunia ini masih ada satu
sosok Dilan yang diutus Tuhan ke bumi untuk perempuan sepertiku, perempuan yang
penuh imajinasi.
Berulang kali novel Dilan aku
baca.
Dan berulang kali pula aku jatuh
cinta dengannya.
Hanya saja, beberapa kali itu
pula aku menggerutu, menyayangkan mengapa Ayah tidak memutar endingnya sesuai
keinginan pecinta Dilan dan Milea.
Tahun kemarin, ada kabar yang
membuatku bingung. Antara khawatir, takut, tapi juga senang.
Dilan 1990 di-filmkan.
Dan untuk beberapa masa, pemeran
Dilan disembunyikan, sehingga membuat para imajiner menerka-nerka siapakah
sosok yang badung, “Bandung banget”, tapi manis, lengkap dengan tatapan mata
yang dalam.
Dari kolom komentar instagram
official Dilan 1990, banyak yang menerka dialah Adipati Dolken, atau Junot,
atau bisa saja Vino G. Bastian, dan rentetan nama-nama artis muda nan ganteng
pun sedikit “badung”.
Hingga akhirnya tiba masa di mana
semua cast Dilan 1990 dan diumumkanlah siapa yang memerankan Dilan.
Iqbaal, sosok yang beberapa tahun
silam berjingkrak-jingkrak ala boyband dan ex-CJR ini yang dipercaya Ayah Pidi
Baiq untuk menjadi Dilan. Dan seketika, muncul komen-komen netizen yang mungkin
lebih banyak tidak percaya dan memandang sebelah mata pilihan Ayah Pidi Baiq
itu.
Dan dari situ, jujur, aku takut
melihat Dilan. Karena, aku takut imajinasiku tentangnya, yang sudah
bertahun-tahun aku bangun akan hilang begitu saja.
Itu terjadi hingga sore itu,
Selasa, 30 Januari 2018, aku duduk di posisi tengah paling nyaman di XXI Jogja
City Mall untuk mencoba peruntungan melihat bagaimana Dilan 1990
direpresentasikan menjadi sebuah film.
Dan.
Sepanjang film diputar, aku
menemukan Dilan dalam tatapan mata Iqbaal yang dalam ke Milea.
Itu kunci utamanya, sebenarnya. Iqbaal
mendapatkannya.
Senyum-senyum sepanjang film
Dilan 1990 itu memang benar adanya.
Kata-kata manisnya, dengan detail
masih ada di film itu dan membuat novel Dilan 1990 masih ada di film Dilan
1990.
Ada beberapa cerita yang tidak
diceritakan dalam film, tapi itu bisa dimengerti karena durasi sebuah film
tidak mungkin memaparkan semua cerita dalam novelnya.
Justru, aku sedikit menitikkan
air mata di tengah-tengah film, karena aku ingat bagaimana Dilan dan Milea di
akhir cerita. Iya, bagaimana mungkin Dilan dan Milea memiliki akhir cerita yang
sebenarnya bisa diperbaiki ?
“Cinta sejati adalah tentang
kenyamanan, kepercayaan, dan dukungan. Kalau kamu tidak setuju, aku tidak
peduli”, Milea.
Dan Dilan mencintai Milea dengan
hal-hal sederhana.
Bukan dengan boneka besar yang
diberikan Nandan saat ulang tahun Milea.
Bukan dengan kue ulang tahun
mahal ataupun buket bunga besar dari Benny yang datang jauh-jauh dari Jakarta
ke Bandung untuk memberikan surprise ulang tahun Milea tepat tengah malam.
Atau bukan juga dengan kepintaran
dan bisa diantar ke-mana-mana naik mobilnya Kang Adi.
Dilan hanya menawarkan hal-hal
sederhana penuh tawa.
Bagaimana Dilan selalu menelepon
Milea lewat telepon koin di Mars.
Bagaimana Dilan menyerahkan
motornya ke Agus dan Dilan memilih naik angkot bersama Milea untuk menjaga
Milea pulang sampai ke rumahnya.
Bagaimana Dilan bersusah payah
mengisi TTS untuk hadiah ulangtahun Milea sehingga Milea tidak perlu
pusing-pusing untuk mengisinya.
Bagaimana Dilan bercerita di atas
motor membuat Milea selalu ingin jalan-jalan mengelilingi kota Bandung bersama
Dilan.
Bagaimana Dilan mengirimkan
cokelat untuk Milea melalui tukang koran langganan Ayah Milea.
Bagaimana Dilan mengirimkan Bibi
untuk memijat Milea yang sudah tidak masuk tiga hari karena kecapaian.
Bagaimana Dilan menjaga Milea
dari Anhar yang menampar Milea di warung Bi Eem.
Dan hal-hal sederhana yang Dilan
lakukan untuk Milea.
Bagaimana semua hal itu tidak
membuat Milea jatuh cinta dengan Dilan ?
Dilan-ku tetap menjadi
imajinasiku.
Kebaperan-kebaperan saat membaca
novel ternyata bisa aku rasakan juga saat melihat filmnya.
Mungkin ketika aku nantinya akan
membaca ulang kembali, Dilan imajinasiku sedikit berubah menjadi Iqbaal.
Mungkin, tapi entah.
“Dilan tidak hebat, tidak, malah
mungkin biasa saja. Tapi bisa membuatku senang hanya dengan hal sederhana”,
Milea.
Yuk Merapat Best Betting Online Hanya Di AREATOTO
BalasHapusDalam 1 Userid Dapat Bermain Semua Permainan
Yang Ada :
TARUHAN BOLA - LIVE CASINO - SABUNG AYAM - TOGEL ONLINE ( Tanpa Batas Invest )
Sekedar Nonton Bola ,
Jika Tidak Pasang Taruhan , Mana Seru , Pasangkan Taruhan Anda Di areatoto
Minimal Deposit Rp 20.000 Dan Withdraw Rp.50.000
Proses Deposit Dan Withdraw ( EXPRES ) Super Cepat
Anda Akan Di Layani Dengan Customer Service Yang Ramah
Website Online 24Jam/Setiap Hariny
Casino of the Week - Mapyro
BalasHapusLooking 제주도 출장안마 for the BEST 김해 출장안마 casinos in San Diego? Check 김포 출장안마 out 포천 출장마사지 Mapyro's selection of San Diego slot games 김포 출장마사지 for free or for real money at our