Rabu, 31 Januari 2018

Dilan, Dia adalah Dilanku Tahun 1990


Akhirnya, mungkin setelah hampir delapan tahun tidak menyambangi bioskop, aku memutuskan untuk kembali menonton film. Itupun karena Dilan 1990-ku difilmkan. Iya, salah satu dari tiga series tentang Dilan, karangan Ayah Pidi Baiq, novel yang membuatku memiliki imajinasi tersendiri tentang Dilan.

Ada banyak novel series yang aku baca. Termasuk lima karya Dee Lestari dengan novel terakhirnya yang super tebal menurut aku yang sekarang sudah berminus tinggi ini.
Tapi, Dilan, satu-satunya karakter yang membuat aku jatuh cinta dan berharap di dunia ini masih ada satu sosok Dilan yang diutus Tuhan ke bumi untuk perempuan sepertiku, perempuan yang penuh imajinasi.

Berulang kali novel Dilan aku baca.
Dan berulang kali pula aku jatuh cinta dengannya.
Hanya saja, beberapa kali itu pula aku menggerutu, menyayangkan mengapa Ayah tidak memutar endingnya sesuai keinginan pecinta Dilan dan Milea.

Tahun kemarin, ada kabar yang membuatku bingung. Antara khawatir, takut, tapi juga senang.
Dilan 1990 di-filmkan.
Dan untuk beberapa masa, pemeran Dilan disembunyikan, sehingga membuat para imajiner menerka-nerka siapakah sosok yang badung, “Bandung banget”, tapi manis, lengkap dengan tatapan mata yang dalam.
Dari kolom komentar instagram official Dilan 1990, banyak yang menerka dialah Adipati Dolken, atau Junot, atau bisa saja Vino G. Bastian, dan rentetan nama-nama artis muda nan ganteng pun sedikit “badung”.
Hingga akhirnya tiba masa di mana semua cast Dilan 1990 dan diumumkanlah siapa yang memerankan Dilan.

Iqbaal, sosok yang beberapa tahun silam berjingkrak-jingkrak ala boyband dan ex-CJR ini yang dipercaya Ayah Pidi Baiq untuk menjadi Dilan. Dan seketika, muncul komen-komen netizen yang mungkin lebih banyak tidak percaya dan memandang sebelah mata pilihan Ayah Pidi Baiq itu.
Dan dari situ, jujur, aku takut melihat Dilan. Karena, aku takut imajinasiku tentangnya, yang sudah bertahun-tahun aku bangun akan hilang begitu saja.
Itu terjadi hingga sore itu, Selasa, 30 Januari 2018, aku duduk di posisi tengah paling nyaman di XXI Jogja City Mall untuk mencoba peruntungan melihat bagaimana Dilan 1990 direpresentasikan menjadi sebuah film.
Dan.
Sepanjang film diputar, aku menemukan Dilan dalam tatapan mata Iqbaal yang dalam ke Milea.
Itu kunci utamanya, sebenarnya. Iqbaal mendapatkannya.

Senyum-senyum sepanjang film Dilan 1990 itu memang benar adanya.
Kata-kata manisnya, dengan detail masih ada di film itu dan membuat novel Dilan 1990 masih ada di film Dilan 1990.
Ada beberapa cerita yang tidak diceritakan dalam film, tapi itu bisa dimengerti karena durasi sebuah film tidak mungkin memaparkan semua cerita dalam novelnya.
Justru, aku sedikit menitikkan air mata di tengah-tengah film, karena aku ingat bagaimana Dilan dan Milea di akhir cerita. Iya, bagaimana mungkin Dilan dan Milea memiliki akhir cerita yang sebenarnya bisa diperbaiki ?

“Cinta sejati adalah tentang kenyamanan, kepercayaan, dan dukungan. Kalau kamu tidak setuju, aku tidak peduli”, Milea.
Dan Dilan mencintai Milea dengan hal-hal sederhana.
Bukan dengan boneka besar yang diberikan Nandan saat ulang tahun Milea.
Bukan dengan kue ulang tahun mahal ataupun buket bunga besar dari Benny yang datang jauh-jauh dari Jakarta ke Bandung untuk memberikan surprise ulang tahun Milea tepat tengah malam.
Atau bukan juga dengan kepintaran dan bisa diantar ke-mana-mana naik mobilnya Kang Adi.

Dilan hanya menawarkan hal-hal sederhana penuh tawa.
Bagaimana Dilan selalu menelepon Milea lewat telepon koin di Mars.
Bagaimana Dilan menyerahkan motornya ke Agus dan Dilan memilih naik angkot bersama Milea untuk menjaga Milea pulang sampai ke rumahnya.
Bagaimana Dilan bersusah payah mengisi TTS untuk hadiah ulangtahun Milea sehingga Milea tidak perlu pusing-pusing untuk mengisinya.
Bagaimana Dilan bercerita di atas motor membuat Milea selalu ingin jalan-jalan mengelilingi kota Bandung bersama Dilan.
Bagaimana Dilan mengirimkan cokelat untuk Milea melalui tukang koran langganan Ayah Milea.
Bagaimana Dilan mengirimkan Bibi untuk memijat Milea yang sudah tidak masuk tiga hari karena kecapaian.
Bagaimana Dilan menjaga Milea dari Anhar yang menampar Milea di warung Bi Eem.
Dan hal-hal sederhana yang Dilan lakukan untuk Milea.
Bagaimana semua hal itu tidak membuat Milea jatuh cinta dengan Dilan ?

Dilan-ku tetap menjadi imajinasiku.
Kebaperan-kebaperan saat membaca novel ternyata bisa aku rasakan juga saat melihat filmnya.
Mungkin ketika aku nantinya akan membaca ulang kembali, Dilan imajinasiku sedikit berubah menjadi Iqbaal. Mungkin, tapi entah.

“Dilan tidak hebat, tidak, malah mungkin biasa saja. Tapi bisa membuatku senang hanya dengan hal sederhana”, Milea.

2 komentar:

  1. Yuk Merapat Best Betting Online Hanya Di AREATOTO
    Dalam 1 Userid Dapat Bermain Semua Permainan
    Yang Ada :
    TARUHAN BOLA - LIVE CASINO - SABUNG AYAM - TOGEL ONLINE ( Tanpa Batas Invest )
    Sekedar Nonton Bola ,
    Jika Tidak Pasang Taruhan , Mana Seru , Pasangkan Taruhan Anda Di areatoto
    Minimal Deposit Rp 20.000 Dan Withdraw Rp.50.000
    Proses Deposit Dan Withdraw ( EXPRES ) Super Cepat
    Anda Akan Di Layani Dengan Customer Service Yang Ramah
    Website Online 24Jam/Setiap Hariny

    BalasHapus
  2. Casino of the Week - Mapyro
    Looking 제주도 출장안마 for the BEST 김해 출장안마 casinos in San Diego? Check 김포 출장안마 out 포천 출장마사지 Mapyro's selection of San Diego slot games 김포 출장마사지 for free or for real money at our

    BalasHapus