Sabtu, 23 Januari 2016

Mengapa Kamu Datang Terlambat ?


Mengapa kamu datang terlambat ?
Aku menunggumu, hingga bulan basah itu berakhir.
Tanpa lelah.
Hingga aku menyadari, aku kehilangan Desemberku.
Bulan di mana kecanduanku dirayakan.
Yang seharusnya tiap aku membuka jendela di pagi hari,
Petrichor semerbak, menusuk hidungku.
Aku hirup dalam-dalam.
Dan sisa-sisa hawa dingin, menyempurnakan pagi setelah semalaman kamu datang menyelimuti.


Senja yang semestinya selalu aku tutup dengan meneguk segelas cokelat hangat,
Pun terlewatkan.
Dan malam-malam panjang itu,
Semestinya aku terlelap, dininabobokkan dengan suaramu.
Bukan malah dengan tidur gelisah menantikanmu tak kunjung datang.


Mengapa kamu datang terlambat ?
Justru saat aku sudah terbiasa dengan ketidakhadiranmu.
Dengan payah merindukanmu,
Yang aku lampiaskan dengan mencoba tidak lagi mengharapkanmu menyergapiku malam-malam.


Mengapa kamu datang terlambat ?
Penantianku mulai terjawab sudah sepertinya.
Kamu,
Mulai datang perlahan malu-malu.
Menemaniku yang berselimut tebal.
Dan pergi meninggalkan Petrichor di pagi hari,
Pun hawa dingin yang menyegarkan.


Kamu,
Biarpun terlambat dan membuatku kehilangan Desemberku,
Tetaplah candu yang tak ingin aku sembuhkan.


Mari bercinta.
Merayakan penantianku yang ternyata tak sia-sia.
Jangan berbesar hati karena dinanti.
Aku mencintaimu yang bergemiricik riang,
Bukan besar dan menjadi air mata.


Jadi, ceritakan padaku,
Mengapa kamu datang terlambat , hujan ?


Senin, 18 Januari 2016

Dewasa yang Rumit


Masih kuat dalam ingatan, bagaimana aku menangis karena terjatuh saat belajar menaiki sepeda roda dua.
Pun bagaimana aku mengalami pusing yang hebat saat mati-matian belajar untuk ujian matematika, memecahkan angka yang aku tahu saat itu adalah persoalan paling rumit dalam hidupku.


Tidak seperti saat ini.
 Saat aku mendengar dari sana-sini bagaimana orang-orang bergulat dengan persoalan rumit.
Jauh lebih rumit ketimbang menghapus air mata saat terjatuh dari sepeda,
Menunggu luka di lutut mengering,
Atau berkelut dengan soal matematika.
Persoalan tentang hati.


Terkadang, aku tidak mengerti jalan pikiran orang-orang “dewasa” itu.
Bagaimana mereka bisa seakan dengan mudah menentukan ini dan itu.


Hari ini, mereka bisa jatuh cinta sejatuh-jatuhnya.
Dan esoknya mereka bisa patah sejadi-jadinya.


Hari ini, mereka bisa saling bertukar cerita.
Dan esoknya mereka bisa tidak saling bertegur sapa.


Pasti banyak di antara kita merindukan masa di mana persoalan rumit itu hanya tugas sekolah, bukan lagi persoalan hati.
Atau merindukan bertengkar hanya karena berebut es krim.


Semua terjadi karena memang waktu berkata bahwa sudah saatnya menjadi dewasa.
Mereka begini, mereka begitu,
Ada alasan yang terkadang tidak perlu untuk diungkapkan.
Hanya mereka dan Tuhan yang MahaMembolak-balikkan hati yang mengerti,
Mungkin begitu.


Menjadi dewasa itu rumit.


Bisakah kembali saja bermain ayunan dengan satu tangan memegang es krim ?
Atau pulang kerja segera karena takut ketinggalan satu episode kartun favorit ?

Kamis, 14 Januari 2016

Baca Ini, Suatu Hari Nanti


Suatu hari, aku ingin kamu membaca ini.


Teruntuk kamu teman beradu argumenku.
Teruntuk kamu yang lengan pakaiannya sering aku gunakan untuk menghapus air mataku ketika aku menangis.
Teruntuk kamu, seseorang yang sering membuat kesal, tapi selalu aku rindukan.

Ketika kamu membaca ini, aku pastikan perasaanku masih sama, seperti hari ini.
Hari di mana aku mencintaimu dengan sangat.

Aku mengingatnya.
Di beberapa malam sebelum aku bertemu denganmu, aku berada dalam keadaan sangat payah.
Mungkin seperti mendung yang kehilangan hujan.
Dan hingga hari ini,
Kamu masih sama seperti saat aku sedang dalam keadaan sangat payah itu.
Tetap sama. Selalu ada di sisi.

Kamu, seseorang yang aku inginkan di suatu hari nanti.
Ketika membuka mata di pagi hari atau saat aku terbangun di malam hari karena mimpi buruk.

Kamu, seseorang yang aku inginkan di suatu hari nanti.
Menunggu kepulanganmu dari tempatmu berpeluh, mengecup kening ketika tiba di rumah, dan membuatkanmu kopi di sore hari.

Kamu, seseorang yang aku inginkan di suatu hari nanti.
Bercengkerama dengan anak-anak kita.
Bercerita tiada jeda.
Tertawa hingga perut melilit.
Bahkan hingga mata menangis.

Kamu, seseorang yang aku inginkan di suatu hari nanti.
Menjajal semesta.
Membuka kepenatan.
Menggulirkan ketakutan.

Kamu, seseorang yang aku inginkan di suatu hari nanti.
Menghabiskan masa tua.
Dan berharap dipertemukan lagi di dunia yang kekal.

Jika suatu hari nanti kamu sedang membaca ini.
Saat aku menulis ini,
Senja selalu kita tutup dengan pulang ke rumah masing-masing.
Dan kita masih khusyuk berdoa untuk memiliki rumah yang sama, untuk kita pulang, mengakhiri hari.

Dan saat aku menulis ini,
Aku sedang dalam keadaan lebih mencintaimu.
Sama, seperti saat kamu membacanya, suatu saat nanti.

Kamis, 07 Januari 2016

Selamat Datang (2)


Tidak mudah mengucapkan “Selamat Datang” ketika kita belum mengucapkan “Selamat Tinggal” .
Dua ribu lima belas terlalu indah untuk dilewatkan. 
Terbukti tanpa disadari, hari ini, Januari dua ribu enam belaspun sudah menapaki tanggal tujuh.
Tundukkan kepala, berdoa, sembari berharap semesta menguatkan doa-doa kita untuk disampaikan kepada Yang Kuasa perihal rencana-rencana bahagia yang kita susun rapi satu tahun ke depan ini.
Ikutkan rasa ikhlas, karena mungkin ada beberapa doa yang nantinya Tuhan hapus, dan digantikan dengan kenyataan yang jauh lebih indah dari rencana-rencana yang sudah kita susun.

Teruntuk dua ribu lima belas,
Terima kasih untuk senyata-nyatanya kehidupan yang telah terjadi.
Terlalu banyak kejutan yang Tuhan berikan, seakan-akan Dia menyampaikan melalui semesta betapa Dia sangat mencintaiku.
Teruntuk dua ribu enam belas.
Bekerja samalah dengan baik, beriringanlah dengan doa-doa, berkelutlah dengan semesta, untukku.
Selamat Datang.