Selasa, 13 Januari 2015

Hai, 2015-ku.


Hai, 2015-ku.
Ini post pertamaku di tahun 2015. Satu buku tahunan yang tadinya kosong, akhirnya full terisi di tahun 2014.
Ada banyak rencana yang di 2014 aku tuliskan, tapi ternyata, banyak juga diantaranya yang dihapus oleh Tuhan dan digantikan dengan kenyataan yang jauh lebih indah.

2014 buatku, adalah tahun pendewasaan.
Ada banyak hal yang terjadi yang mengharuskan aku beradaptasi. Menjadikan hal yang biasa menjadi tidak biasa dan membiasakannya agar menjadi biasa.
Pendewasaan dari banyak hal.

Di Januari 2014, bulan-bulan pertamaku bekerja. Bisa menghidupi diriku sendiri dengan uang hasil kerjaku, ternyata nikmatnya jauh luar biasa. Tidak lagi menengadah ke orangtua, setidaknya aku merasa beban mereka sedikit berkurang.

Penempatan di daerah Godean, mengharuskanku berpisah dari daerah yang aku huni empat tahun terakhir. Dan memang, tidak ada yang bisa menggantikan kenangan, seperti halnya aku yang harus keluar dari zona nyamanku, Gejayan.
Banyak sudut di sana yang harus aku gantikan dengan merapalkan setiap sudut baru di daerah Godean. Aku yang memiliki kelemahan menghapal jalan, setidaknya sekarang aku mulai bisa beranjak dari titik nyamanku di Gejayan.
ah, tidak pernah terpikirkan olehku akan kehilangan warung-warung makan yang menemaniku, belum lagi pasti banyak quality time dengan teman-temanku di sana yang akan berkurang.
Ya, satu pendewasaan, buatku, sih.
Bertemu banyak orang baru setiap harinya mengharuskan aku untuk lebih cakap. Teman baru, lingkungan baru, partner kerja baru, keluarga baru, semua satu persatu harus aku biasakan.

Dan tak lupa mulai membiasakan mendapat undangan pernikahan dari teman-teman sebaya, atau melihat upload-an foto-foto bayi mereka. Umur memang tidak bisa berbohong. Hehe.

Di tahun ini pula aku mulai belajar berhijab. Setelah perjalanan rohani yang menurutku tidak mudah, semoga dengan hijab ini aku bisa menjadi orang yang lebih baik. Pelan-pelan, semua tujuan memakai proses, bukan ?

Menjelang akhir tahun, ada satu rencana panjang yang harus terkubur dalam. Entah untuk suatu saat, tapi untuk saat ini, Tuhan menginginkan rencana itu tergantikan.
Aku bisa menegaskan apa yang seharusnya aku putuskan. Bisa mengambil pelajaran dari kejadian itu, dan mengerti bahwa satu-satunya cara yang bisa dilakukan adalah menerima, memaafkan, dan mengikhlaskan.
Pembelajaran yang luar biasa, semoga menjadikanku sosok yang jauh lebih baik, dan hanya meyakini kalau Tuhan merencanakan yang jauh lebih indah.

Desember 2014, umurku tepat dua puluh empat tahun. Ada yang hilang di tahun itu. tidak seperti dua tahun sebelumnya ada yang menemani, tapi di hari itu, aku dikelilingi keluarga baruku, dirayakan sederhana dengan keluargaku, dan mendapatkan Musim yang Baik dari dia. 

Aku menolak tua, tapi tidak untuk menolak dewasa

Banyak pengharapan di 2015, semoga semesta mengamininya dan mengantarkan ke Tuhan untuk mengabulkan doa-doa terbaikku.

Tuhan, terima kasih untuk satu buku penuh 2014-ku. Bukuku kembali putih, semoga aku dapat mengisinya dengan cerita indah yang tentu itu adalah rencana indahMu.

0 komentar:

Posting Komentar