Senin, 26 Januari 2015

Tuhan yang MahaRomantis


Selamat pagi, siang, sore, ataupun malam, hai Tuhan yang MahaRomantis.
Mungkin aku terlambat menemukan satu sudut keromantisanMu yang luar biasa,
Tapi, bukankah itu jauh lebih baik daripada tidak sama sekali ? 

Aku pernah sangat terpesona dengan keromantisanMu saat senja.
Bagiku, tidak ada yang lebih romantis saat matahari dengan gagahnya menggeser sedikit posisinya agar bulan yang malu-malu mau keluar dari singgasana cantiknya.
Ketika langit biru dan gelap yang mulai akrab, menghasilkan lukisan orange yang mampu membuatku tidak ingin beranjak dari senja.
Aku sangat mencintai senjaMu, karena itu satu bukti autentik, 
Engkau Tuhan yang MahaRomantis

Dan di suatu pagi,
Aku terjebak di satu sisi romantisMu yang lain, Tuhan.
Ternyata, matahari terlalu gagah untuk dibiarkan begitu saja terbangun dari singgasananya tanpa aku nikmati.
Dari sudutnya, ia memecah gelap dan berkas demi berkas sinar ia perlihatkan.
Sungguh satu titik romantis yang baru aku temukan, tanpa pembatas apapun.

Langitpun menyambutnya, bersiap menggantikan yang tadinya hitam, menjadi orange, yang kemudian menumpahkan semua warna biru di langit.
Belum nampak sempurna, tapi sinarnya yang lambat laun memeluk bumi, menyempurnakan pagi dan meninggalkan subuh dengan ribuan harapan baru bagi jiwa-jiwa yang masih hidup.

Subuh dan senjaku, dua waktu yang berbeda,
Tapi menyuguhkan ketakjuban yang sama luar biasanya.
Masih ingin aku cari keromantisanMu yang pasti ribuan banyaknya di semesta.
Bisikkan padaku, Tuhan.

Biar aku cari, 
biar aku teriakkan pada semesta, 
“Subhanalloh, Tuhanku memang MahaRomantis.”

0 komentar:

Posting Komentar