Selamat pagi,
siang, sore, ataupun malam, hai Tuhan yang MahaRomantis.
Mungkin aku
terlambat menemukan satu sudut keromantisanMu yang luar biasa,
Tapi, bukankah
itu jauh lebih baik daripada tidak sama sekali ?
Aku pernah sangat
terpesona dengan keromantisanMu saat senja.
Bagiku, tidak ada
yang lebih romantis saat matahari dengan gagahnya menggeser sedikit posisinya agar
bulan yang malu-malu mau keluar dari singgasana cantiknya.
Ketika langit
biru dan gelap yang mulai akrab, menghasilkan lukisan orange yang mampu
membuatku tidak ingin beranjak dari senja.
Aku sangat
mencintai senjaMu, karena itu satu bukti autentik,
Engkau Tuhan yang
MahaRomantis
Dan di suatu
pagi,
Aku terjebak di
satu sisi romantisMu yang lain, Tuhan.
Ternyata,
matahari terlalu gagah untuk dibiarkan begitu saja terbangun dari singgasananya
tanpa aku nikmati.
Dari sudutnya, ia
memecah gelap dan berkas demi berkas sinar ia perlihatkan.
Sungguh satu
titik romantis yang baru aku temukan, tanpa pembatas apapun.
Langitpun
menyambutnya, bersiap menggantikan yang tadinya hitam, menjadi orange, yang
kemudian menumpahkan semua warna biru di langit.
Belum nampak
sempurna, tapi sinarnya yang lambat laun memeluk bumi, menyempurnakan pagi dan
meninggalkan subuh dengan ribuan harapan baru bagi jiwa-jiwa yang masih hidup.
Subuh dan
senjaku, dua waktu yang berbeda,
Tapi menyuguhkan
ketakjuban yang sama luar biasanya.
Masih ingin aku
cari keromantisanMu yang pasti ribuan banyaknya di semesta.
Bisikkan padaku,
Tuhan.
Biar aku cari,
biar aku teriakkan pada semesta,
“Subhanalloh, Tuhanku memang MahaRomantis.”
0 komentar:
Posting Komentar