Rabu, 24 Februari 2016

Sajak Itu



Waktu lalu

Semburat malu-malu

Nampak lidah kelu

Satu-satu

Doa terurai selalu

Sembari mata tersirat pilu

Tuhanku

Aku malu

Seakan tak pantas lagi maaf teradu selalu

Takut marahMu

Padahal aku tanpaMu hanya debu

Tengadah tangan kecilku

Menggapai maafMu

Gapai aku

Yang rindu

Hingga hati gemerutuk menyeru

Sederhanakan pikiranku

Karena aku tahu

Engkau

Tuhanku

Yang Tidak Serumit Pikirku

Bukankah ketika mengingatMu,

Engkau akan jauh lebih menurunkan tanganMu ?

0 komentar:

Posting Komentar