Rabu, 28 Januari 2015

Ayah, Mengapa Mereka Tidak Sepertimu ?


Ayah, aku ingin bercerita, tentang mereka yang beberapa kali pernah mengisi hari-hariku.
Aku jauh darimu sekarang, tapi tidak secara perasaan, hanya masalah jarak.
Karenanya, terkadang, aku membutuhkan sosok laki-laki yang menyerupaimu,
Tidak.. tidak, bukan untuk menggantikanmu.
Hanya terkadang, ada beberapa pekerjaan laki-laki yang mungkin tidak bisa aku kerjakan sendiri, saat pindahan kamar kos, misalnya. Bukankah itu pekerjaan yang berat ? Hehe..

Awalnya memang sesimpel itu, tapi ternyata aku juga butuh laki-laki yang mengayomiku, melindungiku, dan memimpinku.
Sepertimu, Ayah.
Bukan.. bukan, bukan untuk menggeser posisimu sebagai pelindungku.
Hanya saja, kadang kejenuhan di rantau, membuatku harus memiliki seseorang yang mampu menopangku, menyemangati, dan berkata semua akan baik-baik saja.

Awalnya, hanya sesederhana itu.
Hingga lambat laun, kami saling berbagi cinta. Ya, aku dengan beberapa sosok laki-laki yang aku anggap mampu menyerupaimu.

Tapi, ternyata tidak semudah itu.
Dan aku ingin menanyakan hal ini padamu, Ayah, mengapa mereka tidak sepertimu ?
kamu memimpinku, tanpa aku merasa terpimpin. kamu melindungiku tanpa aku merasa terpenjara. kamu tiada bosan menyemangati saat aku berada di titik paling bawah, dan kamu selalu ada, tidak pernah pergi sedetikpun dari hidupku.

Aku memang pernah mencintai mereka, begitupun mereka, pernah mencintaiku,
Tapi mereka menyisakan hati yang patah, apakah cinta itu seperti itu ?

Ayah, kamulah laki-laki pertama yang membuatku jatuh cinta,
Dengan segala kesederhanaanmu, dengan segala cinta yang tidak pernah membuatku patah.
Dan kamulah, satu-satunya laki-laki yang mungkin tidak akan pernah membuatku sakit.

Tidak akan ada yang pernah menggantikan sosok sepertimu, Ayah.
Tidak akan pernah ada yang pernah aku cintai, seperti aku mencintaimu.
Tidak akan lagi aku cari laki-laki sepertimu,
Hanya saja, aku masih berharap pada Tuhan, dia memiliki satu laki-laki yang sosoknya tidak jauh darimu.
Dan disimpankannya laki-laki itu untukku, untuk dipertemukan denganku di waktu yang tepat.

Yang aku tahu, siapapun anak perempuan di dunia ini, Ayahnya adalah cinta pertama baginya, dan Ayahnya adalah satu-satunya sosok laki-laki yang tidak akan pernah membuatnya sakit hati.


Senin, 26 Januari 2015

Tuhan yang MahaRomantis


Selamat pagi, siang, sore, ataupun malam, hai Tuhan yang MahaRomantis.
Mungkin aku terlambat menemukan satu sudut keromantisanMu yang luar biasa,
Tapi, bukankah itu jauh lebih baik daripada tidak sama sekali ? 

Aku pernah sangat terpesona dengan keromantisanMu saat senja.
Bagiku, tidak ada yang lebih romantis saat matahari dengan gagahnya menggeser sedikit posisinya agar bulan yang malu-malu mau keluar dari singgasana cantiknya.
Ketika langit biru dan gelap yang mulai akrab, menghasilkan lukisan orange yang mampu membuatku tidak ingin beranjak dari senja.
Aku sangat mencintai senjaMu, karena itu satu bukti autentik, 
Engkau Tuhan yang MahaRomantis

Dan di suatu pagi,
Aku terjebak di satu sisi romantisMu yang lain, Tuhan.
Ternyata, matahari terlalu gagah untuk dibiarkan begitu saja terbangun dari singgasananya tanpa aku nikmati.
Dari sudutnya, ia memecah gelap dan berkas demi berkas sinar ia perlihatkan.
Sungguh satu titik romantis yang baru aku temukan, tanpa pembatas apapun.

Langitpun menyambutnya, bersiap menggantikan yang tadinya hitam, menjadi orange, yang kemudian menumpahkan semua warna biru di langit.
Belum nampak sempurna, tapi sinarnya yang lambat laun memeluk bumi, menyempurnakan pagi dan meninggalkan subuh dengan ribuan harapan baru bagi jiwa-jiwa yang masih hidup.

Subuh dan senjaku, dua waktu yang berbeda,
Tapi menyuguhkan ketakjuban yang sama luar biasanya.
Masih ingin aku cari keromantisanMu yang pasti ribuan banyaknya di semesta.
Bisikkan padaku, Tuhan.

Biar aku cari, 
biar aku teriakkan pada semesta, 
“Subhanalloh, Tuhanku memang MahaRomantis.”

Kamis, 15 Januari 2015

Kamukah Petrichor ?


Kamukah petrichor ?
bau tanah selepas hujan deras semalam,
Yang mungkin hanya hilang, jika matahari bersinar terang seharian, menggantikan rintikan hujan, melepas kerinduan yang tak tersampaikan.

Seakan kamu memang tak bisa hilang,
Meninggalkan jejak, rekaman cerita yang tidak mungkin bisa direka ulang kembali,
Kecuali jika tiba-tiba hujan memeluk bumi,
Semesta merayakannya,
Dan pikiranku menjelajahi tiap sudut masa lalu

Tapi, bukankah petrichor-pun bisa sedikit demi sedikit menguap ?
Menghilang tanpa bekas,
Tak ada lagi bebauan khasnya

Aku membutuhkanmu, matahari.
Untuk menguapkan petrichor,
Menghilangkan bebauan sisa hujan semalam
Melenyapkan sisa-sisa air hujan,
Tak berbekas, tak berjejak

Kamu mungkin memang petrichor,
Tapi sepekat baunya, matahari bisa menghapus baumu,
Seberkas demi seberkas sinar yang ia pancarkan,
Sabar sedikit demi sedikit ia menunggu,
Tetap memberikan sinarnya,
Hingga petrichor-pun pergi, hilang, dan tak ada lagi bebauan tanah sisa hujan semalam.


Selasa, 13 Januari 2015

Hai, 2015-ku.


Hai, 2015-ku.
Ini post pertamaku di tahun 2015. Satu buku tahunan yang tadinya kosong, akhirnya full terisi di tahun 2014.
Ada banyak rencana yang di 2014 aku tuliskan, tapi ternyata, banyak juga diantaranya yang dihapus oleh Tuhan dan digantikan dengan kenyataan yang jauh lebih indah.

2014 buatku, adalah tahun pendewasaan.
Ada banyak hal yang terjadi yang mengharuskan aku beradaptasi. Menjadikan hal yang biasa menjadi tidak biasa dan membiasakannya agar menjadi biasa.
Pendewasaan dari banyak hal.

Di Januari 2014, bulan-bulan pertamaku bekerja. Bisa menghidupi diriku sendiri dengan uang hasil kerjaku, ternyata nikmatnya jauh luar biasa. Tidak lagi menengadah ke orangtua, setidaknya aku merasa beban mereka sedikit berkurang.

Penempatan di daerah Godean, mengharuskanku berpisah dari daerah yang aku huni empat tahun terakhir. Dan memang, tidak ada yang bisa menggantikan kenangan, seperti halnya aku yang harus keluar dari zona nyamanku, Gejayan.
Banyak sudut di sana yang harus aku gantikan dengan merapalkan setiap sudut baru di daerah Godean. Aku yang memiliki kelemahan menghapal jalan, setidaknya sekarang aku mulai bisa beranjak dari titik nyamanku di Gejayan.
ah, tidak pernah terpikirkan olehku akan kehilangan warung-warung makan yang menemaniku, belum lagi pasti banyak quality time dengan teman-temanku di sana yang akan berkurang.
Ya, satu pendewasaan, buatku, sih.
Bertemu banyak orang baru setiap harinya mengharuskan aku untuk lebih cakap. Teman baru, lingkungan baru, partner kerja baru, keluarga baru, semua satu persatu harus aku biasakan.

Dan tak lupa mulai membiasakan mendapat undangan pernikahan dari teman-teman sebaya, atau melihat upload-an foto-foto bayi mereka. Umur memang tidak bisa berbohong. Hehe.

Di tahun ini pula aku mulai belajar berhijab. Setelah perjalanan rohani yang menurutku tidak mudah, semoga dengan hijab ini aku bisa menjadi orang yang lebih baik. Pelan-pelan, semua tujuan memakai proses, bukan ?

Menjelang akhir tahun, ada satu rencana panjang yang harus terkubur dalam. Entah untuk suatu saat, tapi untuk saat ini, Tuhan menginginkan rencana itu tergantikan.
Aku bisa menegaskan apa yang seharusnya aku putuskan. Bisa mengambil pelajaran dari kejadian itu, dan mengerti bahwa satu-satunya cara yang bisa dilakukan adalah menerima, memaafkan, dan mengikhlaskan.
Pembelajaran yang luar biasa, semoga menjadikanku sosok yang jauh lebih baik, dan hanya meyakini kalau Tuhan merencanakan yang jauh lebih indah.

Desember 2014, umurku tepat dua puluh empat tahun. Ada yang hilang di tahun itu. tidak seperti dua tahun sebelumnya ada yang menemani, tapi di hari itu, aku dikelilingi keluarga baruku, dirayakan sederhana dengan keluargaku, dan mendapatkan Musim yang Baik dari dia. 

Aku menolak tua, tapi tidak untuk menolak dewasa

Banyak pengharapan di 2015, semoga semesta mengamininya dan mengantarkan ke Tuhan untuk mengabulkan doa-doa terbaikku.

Tuhan, terima kasih untuk satu buku penuh 2014-ku. Bukuku kembali putih, semoga aku dapat mengisinya dengan cerita indah yang tentu itu adalah rencana indahMu.