Jumat, 19 Februari 2021

Sebagai Cerita, Nanti.

 


Nak, dulu saat jaman sudah modern, bumi ini pernah berada dalam masa pandemi.

Itu terjadi selang beberapa waktu setelah Ayah dan Ibu menikah.

Saat itu, tidak ada yang menyangka kalau keadaan awalnya akan semencekam itu.

Kamu tahu, masker, handsanitizer, alkohol, bahkan sabun yang saat ini jumlahnya melimpah, pernah menjadi barang langka. 

Jalanan sempat sepi. 

Dan saat itu semakin hari, virus itu terasa semakin dekat ketika banyak tetangga dekat, bahkan teman yang Ayah dan Ibu tahu tertular penyakit ini, Nak.

Ayah dan Ibu yang saat itu baru belajar berumah tangga terpisah dari keluarga, harus saling menguatkan. Bahkan ketika momen Idul Fitri yang saat ini kamu tahu menjadi momen di mana keluarga besar berkumpul, tidak dapat dirayakan saat itu.

Berjalan beberapa bulan, Ayah dan Ibu harus kehilangan kakakmu dan kami harus merasakan betapa tidak nyamannya berada di Rumah Sakit saat pandemi.

Sungguh menjadi tahun di mana kami harus belajar banyak berdua. Penerimaan, kebahagiaan, kehilangan, pun harus belajar mengikhlaskan.

Oh iya, kami juga kehilangan satu hal penting.

Ayah sering bercerita sangat menyenangkan menghabiskan malam dengan menonton konser musik kesukaan Ayah dan Ibu. Seperti kesukaanmu saat ini, kamu suka bercerita, betapa gembiranya bisa menikmati konser musik sambil sesekali menari pun melompat kecil.

Dan kami kehilangan momen itu, Nak.

Tidak ada lagi berdesakan, menari bersama, berkeringat, pun suara yang habis setelah menonton konser. Jangankan itu, saat itu, bertemu dengan orang saja, keluargapun, harus berjarak.

Bisa kamu bayangkan, kan Nak ?

Selang satu tahun pandemi berlangsung, orang-orang berkepentingan sudah mulai menemukan Vaksin. Seperti dalam foto ini, Ibu termasuk orang yang mendapat Vaksin di Tahap Pertama karena Ibu saat itu bekerja di Fasilitas Kesehatan.

Tanya saja, Ayahmu, betapa banyak yang Ibu pikirkan saat itu, karena menjadi yang pertama, tentu saja Ibu takut.

Terlebih, Ibu harus menunda satu bulan untuk memilikimu, bagaimana bisa Ibu tidak sedih ?

Akhirnya, Ibu memutuskan untuk mengikutinya, ini untukmu juga, Nak. Ibu tidak mau saat hamil kamu nanti, Ibu tertular penyakit ini. Ibu tidak mau lagi kehilangan buah hati, Nak.

Yah, anggap saja ini adalah ikhtiar, termasuk ikhtiar memilikimu.

Iya, begitulah sepenggal cerita masa pandemi saat itu, Nak.

Bersyukurlah, bahwa Tuhan masih memberi sehat.

Dan apa yang terjadi, menjadi cerita suatu saat nanti.

Seperti saat ini, Ibu bercerita untukmu.

Saat Ibu meulis ini, Ibu berharap suatu saat nanti kamu tidak perlu mengalami ketakutan yang besar.

Dan Ibu juga berharap, semoga bumi akan baik-baik saja.

Selasa, 08 Desember 2020

365 Hari Berlalu

 


365 hari berlalu.

Masih berasa banget hecticnya tanggal 8 Desember 2019.

Dan ternyata, udah setahun yang lalu.

Tahun 2020, yang kata orang-orang isinya Januari, Februari, tiba-tiba udah Desember aja.

Mungkin rasanya gitu, tapi di dalam 365 hari itu, ada begitu banyak hal yang terjadi.

 

365 hari berlalu.

8 Desember 2019, ikrar itu memulai perjalanan panjang kami.

Dimulai dari rasa haru yang benar-benar melingkupi suasana setelah akad.

Tangis yang pecah, pelukan yang erat, doa yang terucap. Suasana yang tidak akan pernah terlupa.

 

365 hari berlalu.

Kami memutuskan untuk “lepas” tinggal di sebuah rumah kontrakan, pertimbangan pekerjaan.

Kebiasaan anak kos yang pulang seminggu sekali masih diterapkan, tentunya berjalan hanya tiga bulan.

Iya, semenjak pandemi, rindu rumah seakan harus menjadi rutinitas setiap hari.

Masih ingat awal-awal pandemi, ingin pulang, tetapi gak memungkinkan.

Cuma bisa nangis, video call pura-pura kuat.

Iya, kami melewatkan momen Ramadhan, Idul Fitri, Idul Adha, berdua, hal yang tidak pernah terpikirkan sebelumnya.

Apa daya, sampai saat inipun, baru beberapa kali pulang Kebumen.

Selebihnya, masih ada rumah Wates, atau memanfaatkan waktu untuk “me time”.

 

365 hari berlalu.

Ternyata tidak seperti orang kebanyakan, kami tidak menerima banyak pertanyaan “Sudah hamil belum?”

Doa dan keinginan semua orang yang sudah berumah tangga, pasti ingin segera punya anugerah anak.

Sampai saat ini, jika ada pertanyaan itu, selalu kami jawab, “Sudah, tetapi Tuhan lebih sayang. Diambil Tuhan dulu.”

Itu adalah satu momen besar di perjalanan pernikahan kami.

Tidak lama setelah menikah, Tuhan mengirimkan anugerah itu kepada kami.

Pasti bisa membayangkan rasanya, kan ? Iya, bahagia.

Tuhan MahaBaik, tidak perlu menunggu lama untuk mendapat momongan.

Tapi ternyata, Tuhan lebih sayang, beberapa saat kemudian, Tuhan mengambil “Adek.”

Jauh dari orang tua, membuat kita harus kuat berdua.

Masih ingat dalam ingatan, setelah pendarahan yang kedua terjadi, aku diharuskan opname.

Hari di mana Dokter memberi tahu bahwa “Adek” sudah tidak ada adalah hari paling berat bagi kami.

Ketika di ruangan banyak tangisan bayi pecah baru terlahir di dunia, bersamaan kebahagiaan dari keluarga-keluarganya, tangis pecah kami karena kehilangan.

Tapi, Tuhan MahaBaik, Ia mengirimkan suami yang sangat luar biasa.

Pasti dia bersedih, dan sangat kehilangan, tetapi dia sangat kuat, menguatkanku.

Momen kehilangan yang sangat berat bagi kami, dalam 365 hari berlalu.

Esok, dipertemukan kembali, pasti.

 

365 hari berlalu.

Ada kehilangan, Tuhan pasti akan memberikan kebahagiaan lain.

Tahun ini, Tuhan memberikan rejeki pekerjaan yang jauh lebih baik untuk suami.

Lagi-lagi, Tuhan MahaBaik.

Satu doa dikabulkan Tuhan lagi, di tengah kehilangan kami.

 

365 hari berlalu.

Jika ditanya apa bahagia ?

“Pasti”, jawabannya.

Bagaimana tidak, semua dilakukan berdua, dari bangun tidur sampai kembali tidur.

Terbangun tengah malam tidak lagi menakutkan, karena ada dia di sisi.

Suka, duka, masalah, keseharian, semua dihadapi berdua.

Ketika banyak yang berkata, “Kenapa tidak menikah dari dulu ?”

Kami kira, tidak.

Tuhan memberikan sesuatu di waktuNya yang paling tepat.

Belum tentu, jika menikah dari dulu akan se-baik saat ini.

Begitu pula jika tiba-tiba aku sendiri bertanya pada dia “Seharusnya hari ini sudah seperti ini, atau kenapa semua terjadi ?”

Dia selalu menanggapi, “Ya yang seharusnya terjadi ya seperti sekarang. Ini kehendak Tuhan. Yang terjadi bukan yang kita pikirkan –seharusnya seperti ini- , yang terbaik ya yang terjadi saat ini.”

Dia memang selalu menenangkan.

Iya, benar katanya, yang seharusnya terjadi adalah yang saat ini terjadi.

Bukan bayangan-bayangan atau pikiran-pikiran tentang “seharusnya sekarang sudah seperti ini”, atau “kenapa harus seperti ini”.

Dari hal-hal itu, aku mengerti bahwa ada pertanyaan-pertanyaan yang tidak memiliki jawaban. Iya, hanya perlu dipahami, pun disyukuri.

 

365 hari berlalu.

Banyak yang ingin diceritakan, banyak yang ingin disampaikan.

Tapi, cukupkan dulu dengan satu blog ini.

Yang pasti, ada banyak terima kasih yang ingin aku sampaikan.

Tentunya, untuk Tuhan yang MahaBaik, memberikan anugerah pernikahan pun anugerah anak yang esok akan dipertemukan kembali.


365 hari berlalu.

Teruntuk teman sepanjang hariku.

Terima kasih sudah menemaniku tumbuh.

Terima kasih sudah menjadi kelinci percobaan masakan-masakanku yang entah, tidak ada satu kalipun kamu tidak menghabiskan masakanku, semoga memang karena enak ya, hehe..

Terima kasih sudah sangat membantu pekerjaan rumah, seperti saat tiba-tiba malam terasa lelah aku berbisik “Yang, shift malam, ya.” Dan dapurpun tidak ada lagi piring-piring kotor.

Terima kasih sudah selalu menguatkan aku yang super lemah ini.

Kecengenganku, ketakutanku, selalu kamu tanggapi dengan bijaksana.

Tuhan memang mengirimkan paket lengkapmu buat aku, lagi-lagi, terima kasih Tuhan yang MahaBaik.

 

365 hari berlalu.

Masih ada berjuta-juta hari akan kita lalui bercerita.

Tetap sehat, tetap tertawa, tetap bodoh bersama, agar kita bisa hidup waras.

Maaf untuk ketidaksempurnaan yang aku punya, terima kasih sudah menerimanya.

Mari bekerja sama lebih baik lagi.

Mari terus berbahagia.

Aku mencintaimu, selalu, dan tidak akan pernah tidak.

Rabu, 15 Juli 2020

Sejenak


“Sore itu, sepulang kerja dan membersihkan diri, Ayahmu bercerita, dia menemuimu, mendoakanmu, membersihkan rumahmu, di belakang rumah Akung dan Uti.“


********************************************************* 

Berulang kali mencoba testpack, akhirnya meyakinkan diri, bahwa “Kamu datang, Adek.”

Ibu ingat, itu beberapa hari sebelum Hari Raya tiba. Rasanya, seperti ini Hari Raya terindah yang Ibu pernah rasakan, walaupun ada rasa sedih karena sudah tiga bulan tidak bisa menemui kota kelahiran karena sejak bulan Maret, pandemic Covid-19 merubah banyak hal.

Semua bergembira, mengingatkan harus jauh lebih hati-hati, dan banyak makan.

Sepertinya semua tahu, Ibumu ini tidak bisa diam, dan susah makan tentunya.

Mulailah Ibu membeli banyak stock makanan dan vitamin.

Bolehlah Ibu dulu susah makan, tapi Ibu juga tidak ingin kamu kelaparan.

“Kita berjuang bersama, ya, Dek.” Kalimat itu yang selalu Ibu ucapkan sembari sesekali mengelus perut, walaupun Ibu tahu belum ada perubahan apapun di perut Ibu. Hehe..

 

Senin, 25 Mei 2020, Ibu sempatkan ke rumah Akung dan Uti, membawa kabar gembira.

Semua bergembira. Sampai lupa, besok pagi Ibu sudah bekerja lagi, Dek.

Maklum, Ibumu ini buruh weekend, Dek.

Kerja di fasilitas kesehatan itu anti libur. Hehe..

 

Semua berjalan baik-baik saja, minggu yang menggembirakan.

Rasanya, sama sekali tidak ada rasa sedih.

Ada kekuatan di dalam sana, yang membuat hari-hari jauh lebih baik.

 

Pagi itu, Ibu bangun seperti biasa.

Menyiapkan sarapan untuk Ayahmu.

Belum selesai Ayahmu mandi, Ibu memanggilnya.

Kamis pagi, 28 Mei 2020, sebelum berangkat kerja, Ibu berdarah, Dek

Ayahmu menenangkan Ibu, bahwa itu hal biasa, karena proses penempelan.

“Pasti tidak apa-apa.”

Jam menunjukkan pukul 08.30 WIB dan semakin deras darah Ibu, Dek.

Bergegaslah Ayah Ibu ke Rumah Sakit, dan pulang membawa obat-obatan untuk kita berjuang.

“Kalau sudah berhenti, satu minggu lagi control. Kalau besok masih, kembali ke Rumah Sakit, ya,” kata Dokter Spesialis Kandungan.

 

Hari itu berjalan sangat lama, Dek.

Ibu sama sekali tidak bisa terlelap. Terpejam sedikit, bangun lagi memikirkanmu.

Ayahmu juga, selalu ada di samping Ibu.

 

Ternyata, keesokan harinya, darah Ibu tidak berhenti, Dek.

Tanpa berpikir buruk, Ayah Ibu kembali ke Rumah Sakit.

Ibu harus rawat inap.

Ayah dan Ibu hidup berdua di kota ini, Ibu tahu, Ayahmu pasti bingung, tetapi Ia tetap mencoba menguatkan Ibu dan selalu berkata “Semua baik-baik saja.”

 

Rasanya berantakan, tetapi Ayah Ibu masih memperjuangkanmu.

Jumat, 29 Mei 2020. Ayah Ibu melihatmu.

Adek yang kuat bertemu Ayah Ibu.

Ayah menyimpanmu, dan kami masih berharap, USG esok hari, Adek masih ada di dalam perut Ibu dalam keadaan baik.

 

Tapi, ternyata tidak, Dek.

Adek benar-benar sudah bertemu Tuhan terlebih dahulu.

Ayah Ibu kehilangan Adek sore itu.

Tangis Ibu tidak terbendung, memegang kedua tangan Ayah.

Ayah terlihat sangat lelah dengan mata berkaca-kaca.

 

Adek, terima kasih sudah sempat hadir membawa kebahagiaan yang sempurna walaupun hanya sebentar.

Terima kasih sudah berjuang bersama.

Tuhan lebih sayang Adek, Tuhan ingin Adek sampai surga terlebih dahulu, menunggu Ayah Ibu menyelesaikan kehidupan di dunia dan berkumpul bersama di surga nanti.

Untuk Ayah, terima kasih sudah sangat hebat melewati semua ini.

Ibu tahu, Ayah sangat bersedih, tetapi Ayah menjaga Adek dan Ibu hingga tidak sempat bersedih.

Maaf kalau Ibu masih suka bersedih. Terima kasih sudah menjadi Ayah yang luar biasa.

Ayah Ibu mencintai Adek.

Sampai bertemu di surga nanti, ya Adek.

Al Fatihah.


Kamis, 28 Februari 2019

Semestinya



Tidak semua yang ada di dunia ini selalu berjalan seperti semestinya.

Ia yang selalu tepat waktu, kadang terlambat karena menemukan halangan di tengah jalan.
Ia yang berjalan cepat, kadang menyempitkan langkahnya karena tanah yang ia lewati berlumpur.
Ia yang selalu di depan, kadang melambat karena harus bersisian dengan lainnya.
Ia yang penuh ambisi, kadang harus melemahkan ego agar tetap berdiri.
Ia yang tidak pernah lelah, kadang duduk tersungkur, berkeringat, lelah.
Ia yang menebarkan tawa, kadang ingin menyendiri karena butuh ruang untuk mengusap air mata.

Tidak ada yang salah dengan kadang menjadi tidak semestinya.
Selagi ia tidak mematikan waktu dan berhenti.

Berdamai dengan diri sendiri.
Tetap berjalan biar melambat.
Tetap tegak biar tersungkur.
Bersisian dengan “kata mereka” yang mencaci dan menumbangkan.
Setidaknya ada cahaya yang tidak pernah padam dan akan terus ada di sisi.

Tidak mengapa.
Ia akan menemukan perjalanannya sendiri.
Bukan lagi tentang ia akan menjadi “semestinya kata mereka.”
Ia akan semestinya, seperti semestinya Ia.

"Menuju Rumah"



Mengawali Tahun 2019 dengan bertemu seseorang yang membuat salah satu mimpi kecilku terwujud.

Sore itu, 18 Januari 2019, berteman deretan buku di salah satu sudut Balai Bahasa Yogyakarta, seseorang membawa tumpukan buku bersampul plastik.
Kukembangkan senyum dan menjabat erat tangannya.
Berulang kali senyumku melebar dan berulang kali itu pula aku mengucapkan terima kasih.

Iya.
Akhirnya.
“Menuju Rumah” dibukukan.
Kumpulan dari kata-kata yang entah.
Kumpulan dari perasaan yang berkecamuk.
Menjadi sebuah perjalanan dalam satu buku itu.

Perjalanan panjangku menujumu.
Melewati pintu yang berdecit.
Meneduhkan dari matahari yang menyengat.
Dan kutemukan yang tidak pernah lekang oleh waktu.
Karena engkaulah rumah, tempat aku akan selalu pulang.

19.01.19
Selamat menikmati perjalanan “Menuju Rumah” , sebuah Antologi Puisi karya Arum Putri Yurista.
Dan beribu terima kasih untuk mereka yang mengapresiasi, membaca dan menikmati perjalanan “Menuju Rumah.”
Mari sama-sama suka hujan.