Rabu, 15 Juli 2020

Sejenak


“Sore itu, sepulang kerja dan membersihkan diri, Ayahmu bercerita, dia menemuimu, mendoakanmu, membersihkan rumahmu, di belakang rumah Akung dan Uti.“


********************************************************* 

Berulang kali mencoba testpack, akhirnya meyakinkan diri, bahwa “Kamu datang, Adek.”

Ibu ingat, itu beberapa hari sebelum Hari Raya tiba. Rasanya, seperti ini Hari Raya terindah yang Ibu pernah rasakan, walaupun ada rasa sedih karena sudah tiga bulan tidak bisa menemui kota kelahiran karena sejak bulan Maret, pandemic Covid-19 merubah banyak hal.

Semua bergembira, mengingatkan harus jauh lebih hati-hati, dan banyak makan.

Sepertinya semua tahu, Ibumu ini tidak bisa diam, dan susah makan tentunya.

Mulailah Ibu membeli banyak stock makanan dan vitamin.

Bolehlah Ibu dulu susah makan, tapi Ibu juga tidak ingin kamu kelaparan.

“Kita berjuang bersama, ya, Dek.” Kalimat itu yang selalu Ibu ucapkan sembari sesekali mengelus perut, walaupun Ibu tahu belum ada perubahan apapun di perut Ibu. Hehe..

 

Senin, 25 Mei 2020, Ibu sempatkan ke rumah Akung dan Uti, membawa kabar gembira.

Semua bergembira. Sampai lupa, besok pagi Ibu sudah bekerja lagi, Dek.

Maklum, Ibumu ini buruh weekend, Dek.

Kerja di fasilitas kesehatan itu anti libur. Hehe..

 

Semua berjalan baik-baik saja, minggu yang menggembirakan.

Rasanya, sama sekali tidak ada rasa sedih.

Ada kekuatan di dalam sana, yang membuat hari-hari jauh lebih baik.

 

Pagi itu, Ibu bangun seperti biasa.

Menyiapkan sarapan untuk Ayahmu.

Belum selesai Ayahmu mandi, Ibu memanggilnya.

Kamis pagi, 28 Mei 2020, sebelum berangkat kerja, Ibu berdarah, Dek

Ayahmu menenangkan Ibu, bahwa itu hal biasa, karena proses penempelan.

“Pasti tidak apa-apa.”

Jam menunjukkan pukul 08.30 WIB dan semakin deras darah Ibu, Dek.

Bergegaslah Ayah Ibu ke Rumah Sakit, dan pulang membawa obat-obatan untuk kita berjuang.

“Kalau sudah berhenti, satu minggu lagi control. Kalau besok masih, kembali ke Rumah Sakit, ya,” kata Dokter Spesialis Kandungan.

 

Hari itu berjalan sangat lama, Dek.

Ibu sama sekali tidak bisa terlelap. Terpejam sedikit, bangun lagi memikirkanmu.

Ayahmu juga, selalu ada di samping Ibu.

 

Ternyata, keesokan harinya, darah Ibu tidak berhenti, Dek.

Tanpa berpikir buruk, Ayah Ibu kembali ke Rumah Sakit.

Ibu harus rawat inap.

Ayah dan Ibu hidup berdua di kota ini, Ibu tahu, Ayahmu pasti bingung, tetapi Ia tetap mencoba menguatkan Ibu dan selalu berkata “Semua baik-baik saja.”

 

Rasanya berantakan, tetapi Ayah Ibu masih memperjuangkanmu.

Jumat, 29 Mei 2020. Ayah Ibu melihatmu.

Adek yang kuat bertemu Ayah Ibu.

Ayah menyimpanmu, dan kami masih berharap, USG esok hari, Adek masih ada di dalam perut Ibu dalam keadaan baik.

 

Tapi, ternyata tidak, Dek.

Adek benar-benar sudah bertemu Tuhan terlebih dahulu.

Ayah Ibu kehilangan Adek sore itu.

Tangis Ibu tidak terbendung, memegang kedua tangan Ayah.

Ayah terlihat sangat lelah dengan mata berkaca-kaca.

 

Adek, terima kasih sudah sempat hadir membawa kebahagiaan yang sempurna walaupun hanya sebentar.

Terima kasih sudah berjuang bersama.

Tuhan lebih sayang Adek, Tuhan ingin Adek sampai surga terlebih dahulu, menunggu Ayah Ibu menyelesaikan kehidupan di dunia dan berkumpul bersama di surga nanti.

Untuk Ayah, terima kasih sudah sangat hebat melewati semua ini.

Ibu tahu, Ayah sangat bersedih, tetapi Ayah menjaga Adek dan Ibu hingga tidak sempat bersedih.

Maaf kalau Ibu masih suka bersedih. Terima kasih sudah menjadi Ayah yang luar biasa.

Ayah Ibu mencintai Adek.

Sampai bertemu di surga nanti, ya Adek.

Al Fatihah.


0 komentar:

Posting Komentar