Kamis, 14 Desember 2017

Dua Hari Setelahmu


Kamis

Dua hari setelahmu

Berbulan-bulan sebelumnya, aku pikir aku tidak mampu menghadapimu

Kalut

Takut

Membayangkan kamu datang menentukanku

Dan pagi itu

Dua hari yang lalu

Semesta menyambutmu, dengan hujan deras di balik jendela kamarku

Semerbak aroma tanah menusuk hidungku

Seakan tahu, hari itu untukmu

Aku menatap nanar langit-langit kamarku

Merangkak naik, menyibak tirai jendela

Menikmati air yang berlarian dari langit, menjatuhkan dirinya ke bumi

Berulang kali aku yakinkan, kamu yang akhirnya datang juga

Dan,

Luruh juga ketakutanku

Bersamaan dengan gemericik air yang semakin tenang

Sejatinya,

Aku hanya perlu berjalan sedikit lebih tegak hari itu

Namun dengan hati penuh syukur

Semesta memang bijaksana

Menghanyutkan ketakutanku akanmu

Berjalan bersisian menyambutmu

Menyampaikan lirihan-lirihan doa untuk Tuhan dariku, menerimamu

Seiring hujan yang meninggalkan pagi

Membekaskan aroma khas setelahnya

Aku menyambutmu

 “Selamat Datang,” ucapku lirih

Selasa, 28 November 2017

Hujan, Jangan Marah


Selamat siang dari balik layar PC ruang kerjaku.
Sesekali, aku tengok ke arah jendela.
Masih saja deras dengan suara yang gaduh.
Aku hela nafas panjang, sembari mencoba menghangatkan tanganku dari suhu dua puluh lima derajat siang ini.
Dua hari menuju bulan basah kesukaanku.
Bulan di mana tiap aku membuka mata, aku bisa mendengarkan gemericik syahdu.
Bulan di mana aroma khas tanah selalu meraba indra penciumanku.
Bulan di mana saat matahari menuju senja, gerimis melengkapi teduhnya.
Bulan di mana aku bisa melihat semesta untuk pertama kalinya.
Bulan di mana banyak doa untukku.
Bagaimana bisa aku tidak jatuh cinta sejatuh-jatuhnya dengan bulan itu ?

Setelah berbulan-bulan aku merindukanmu,
sepertinya kamu sudah mulai datang.
Aku memang memintamu untuk singgah, tapi tidak dengan cara seperti ini.
Jangan membuat orang-orang membencimu, aku mohon.

Datanglah dengan perlahan
dengan gemericik yang dirindukan
dengan suara yang syahdu
dengan pelangi yang kamu tinggalkan setelah kamu pergi

Jangan datang dengan amarahmu.
Jangan meninggalkan luka.
Jangan membuat orang-orang mengingatmu dengan sedih.
Aku mohon, hujan jangan marah.
Aku merindukanmu, yang  syahdu.


Sabtu, 11 November 2017

Siang Itu


Siang itu, setelah terik yang membuatku menghabiskan bergelas-gelas air dingin, aku menengadahkan kepalaku tepat di bawah pohon rimbun.
Sebisa mungkin aku bersembunyi dari matahari yang diam-diam mulai meredup. Untungnya, matahari tak mencariku dengan jeli. Dan aku, merasa menjadi satu-satunya pemilik taman samping danau ini.

Menghela nafas panjang.
Tanpa susah payah, memoriku seperti tepat ada di hadapanku. Tentang siapa-siapa saja yang datang dan pergi, pun tentang siapa-siapa saja yang tetap ada di sisi.
Mereka, yang dahulu ada di sisi, kini entah.
Ada yang pergi dan entah kapan akan kembali.
Ada yang tenggelam dan hilang bersama dokumen-dokumen pekerjaannya.
Ada yang sibuk menjadi teman hidup seseorang.
Ada yang bergelut manja sudah dipanggil “Bunda.”

Mereka, yang dahulu tidak pernah aku tahu, sekarang seakan-akan menjadi orang-orang yang tidak akan lagi aku ijinkan pergi.
Ada yang tidak pernah lepas dari tatapanku.
Ada yang sedikitpun tidak pernah luput menjadi pencerita harinya.
Ada yang entah jika dia pergi, aku akan patah seperti apa.

Seharusnya, dengan memori-memori yang sudah layaknya foto kamera polaroid, aku bisa mengerti, sejatinya, hidup itu tentang waktu yang tepat.
Waktu, di mana memang sudah saatnya mereka pergi.
Waktu, di mana memang sudah seharusnya mereka tidak akan pernah lagi ada di sisi.
Pun waktu, di mana Tuhan menggantikan yang pergi, dengan mereka yang tidak akan pernah pergi.

Berjuta kalipun aku mendengungkan “Waktu Tuhan adalah Waktu yang Terbaik”, sesakpun tidak bisa dengan mudah aku hilangkan.
Bagaimana bisa, aku yang entah, meminta-minta pada Tuhan untuk memajukan waktu-Nya.
Aku ini siapa ?
Mana ada matahari di malam hari ?
Bagaimana jika waktu matahari tidak tepat ?
Apa matahari akan bersinar dengan terang dan membuat penghidupan di malam hari ?
Lalu, siang berteman dengan siapa ?

Aku tersontak.
Cahaya matahari yang diam-diam menembus dedaunan membuatku menyudahi alam bawah sadarku.
Menghela nafas panjang.
Seharusnya semudah ini aku menerima semua.
Semudah aku menyudahi anganku karena cahaya matahari yang mulai jeli mencariku, dan aku yang sebentar lagi mendapatkan senjaku.
Bukankah,  aku mencintai senja yang selalu datang tepat waktu sesuai kuasa Tuhan ?
Itu yang akan didapatkan jika mengikuti mau Tuhan, bukan ?
Senja yang indah, di waktu Tuhan yang tepat.



Sabtu, 14 Oktober 2017

Buih


Aku ini apa ?

Hanyalah buih ombak di tengah lautan lepas

Masih berani melawan takdir Tuhan ?

Mencoba ke bibir pantai, menenggelamkan diri di pasir pantai

Selamat ?

Tentu saja tidak

Buih hanya bisa mengering, bertahanpun tak akan lama

Takdirmu di sini

Bersatu dengan kawanan ombak

Kesana-kemari bergemericik

Bangun

Bangun dari mimpi indahmu

Selesaikan mimpimu

Peluklah takdirNya

Sia-sialah waktu bermimpi indah

Menangisinya tak akan guna

Cukuplah menjadi buih di lautan


Daripada mati bermimpi indah memeluk daratan

Rabu, 13 September 2017

Kamu yang Tidak Juga Datang


Kamu tidak juga datang
Hanya sekilas terlihat bersenda gurau dengan awan.
Mengintip malu-malu.
Sebentar kemudian, silau matahari membuatmu pergi lagi.

Kamu tidak juga datang
Di tanahku.
Rindu kaki ini tenggelam dalam genanganmu yang bercampur tanah basah.
Yang ketika kamu pergi, tanah mengenangmu dalam udara khas tubuhmu.

Kamu tidak juga datang
Temanmu selalu menemuiku tiba-tiba.
Kencang.
Seakan kamu juga akan segera tiba.
Dan ia membuatku menari-nari, mengibaskan kerudungku.
Membuatku semakin merindukanmu.

Kamu tidak juga datang
Langit masih membiru.
Abu-abupun hanya sekelebat.
Apakah kamu tidak rindu berlarian, menari denganku ?
Masih mampukah kamu menahan tubuhmu untuk tidak jatuh ?

Kamu tidak juga datang
Lalu, aku bagaimana ?
Senduku tidak kamu temani.
Bahagiaku tidak kamu tertawakan.
Seperti inikah kamu sekarang ?

Kamu yang tidak juga datang.
Aku rindu.

Senin, 07 Agustus 2017

Aku Pikir


Aku pikir aku mampu.
tapi Tuhan bilang, "Tunggu dulu."

Aku pikir aku kuat.
tapi Tuhan bilang, "Istirahatlah sejenak."

Aku pikir aku lemah.
tapi Tuhan bilang, "Bertahanlah, karena kamu bisa."

Aku pikir aku kalah.
tapi Tuhan bilang, "Bersyukurlah, kamu memenangkan dirimu."

Aku pikir aku tidak bahagia.
tapi Tuhan bilang, "Berbahagialah."

Aku tahu diriku
tapi Tuhan tahu mana yang terbaik untukku.


Rabu, 15 Februari 2017

Aku Hanya Pulang dalam Keadaan Baik-baik Saja


Pukul 16.20, keretaku datang. Hiruk pikuk penumpang yang tidak sabar turun dari kereta dan penumpang yang tidak sabar naik kereta terlihat Sabtu sore ini. Raut bahagia terpancar, menutupi kelelahan sepanjang perjalanan tadi. Terbayar dengan bahagianya berkumpul dengan keluarga.

Dengan tas ransel di punggungku, aku menunggu sampai semua penumpang yang turun pun naik, habis. Tubuh kecilku mulai merangsek masuk ke dalam kereta. Tertuju di mataku, gerbong 5, kursi 16A. Kubenahkan ranselku dan posisi dudukku. Menenggak beberapa teguk minuman penambah ion, memasang headset, memakai masker – sengaja agar merasa “hanya aku” yang ada di kereta itu.

Aku pulang.
Dengan perasaan yang sebenarnya banyak ingin aku sampaikan. Jogja, akhir-akhir ini, membuatku merasa aku harus pulang, tapi tidak bisa. Jogja yang bersahabat, tapi tidak dengan kepenatanku.

Perjalanan pulang aku terdiam. Lagu-lagu di playlist handphoneku terus terputar. Pikiranku menerawang jauh, sejauh Jogja yang pelan-pelan aku tinggalkan di belakang. Sembari memejamkan mata, berharap bisa tertidur pulas karena lelah seharian bekerja, tapi tidak bisa.

Sesampainya di rumah, ada perasaan lega, melihat mereka, tetap menyambutku dengan ciuman mesra pun pelukan hangat. Ingin tahu mereka baik-baik saja, sangat cukup menjadi alasanku selalu ingin pulang setiap minggunya. Dan mengetahui mereka memang baik-baik saja, sangat cukup menjadi penawar kepenatanku akan dunia yang semakin aku tidak mengerti.

Aku.
Dengan perasaan carut marut, pulang. “Dunia” sedang tidak berpihak padaku. Dan memang benar, rumah, adalah satu-satunya tempat di mana aku bisa jadi diri sendiri dan merasa bahwa “dunia” kembali memelukku.
Aku hanya ingin pulang, dengan keyakinan mereka, yang yakin bahwa aku, baik-baik saja jauh dari rumah. Cukuplah, delapan belas tahun mereka mendengarkan keluhku. Menyelesaikan setiap masalahku. Membuatku selalu merasa aku menang dan baik-baik saja.

Dan sekarang, bagaimanapun perasaanku, aku akan tetap pulang, dan tetap akan membuat mereka merasa yakin, aku baik-baik saja.
Maaf untuk aku yang tidak bisa sepenuhnya bersama. Yang setiap minggunya hanya bisa menatap nanar, melihat waktu berlalu begitu cepatnya.

Sungguh, aku baik-baik saja. Semua bisa aku selesaikan. Hatiku bisa aku tata. Setidaknya saat aku pulang. Saat menghabiskan waktu yang tidak sampai dua puluh empat jam di rumah.

Yakinlah, walaupun aku masih saja menjadi anak kecil yang manja, aku sudah dewasa sekarang. Tidak usahlah khawatir aku meninggalkan kewajiban lima waktu sholatku. Tidak usahlah khawatir aku kehujanan naik motor sendirian, masuk angin, dan tidak ada yang mengeroki. Tidak usahlah khawatir maagku kumat karena kelaparan atau malas cari makan. Tidak usahlah khawatir, ada yang menyakitiku. Tidak usahlah khawatir aku menangis karena beberapa laki-laki pernah membuat kalian khawatir waktu itu karena aku patah hati. Tidak usahlah khawatir. Aku pasti baik-baik saja. Perasaanku pasti baik-baik saja.

Tidak akan lagi aku menangis, merajuk. Secarut-marut apapun hatiku. Tapi berjanjilah, tetaplah sehat untuk aku. Aku tidak akan baik-baik saja tanpa pelukan itu.

Akhirnya, Minggu, 18.15, keretaku datang, yang akan membawaku pergi lagi. Menghadapi dunia yang terkadang memang kejam. Tapi, aku akan tetap jadi orang baik saja, karena itu pesan kalian, bukankah memang harus begitu ?

Dan dari balik jendela kereta, aku lihat tangan melambai-lambai, seakan berharap aku harus pulang lagi Sabtu ini dalam keadaan baik-baik saja. Aku menangis. Membatin, “Tenang, aku pasti baik-baik saja. Semesta, peluklah aku.”