Siang itu, setelah terik yang membuatku menghabiskan
bergelas-gelas air dingin, aku menengadahkan kepalaku tepat di bawah pohon
rimbun.
Sebisa mungkin aku bersembunyi dari matahari yang
diam-diam mulai meredup. Untungnya, matahari tak mencariku dengan jeli. Dan
aku, merasa menjadi satu-satunya pemilik taman samping danau ini.
Menghela nafas panjang.
Tanpa susah payah, memoriku seperti tepat ada di
hadapanku. Tentang siapa-siapa saja yang datang dan pergi, pun tentang
siapa-siapa saja yang tetap ada di sisi.
Mereka, yang dahulu ada di sisi, kini entah.
Ada yang pergi dan entah kapan akan kembali.
Ada yang tenggelam dan hilang bersama dokumen-dokumen
pekerjaannya.
Ada yang sibuk menjadi teman hidup seseorang.
Ada yang bergelut manja sudah dipanggil “Bunda.”
Mereka, yang dahulu tidak pernah aku tahu, sekarang seakan-akan menjadi orang-orang yang tidak akan lagi aku ijinkan pergi.
Ada yang tidak pernah lepas dari tatapanku.
Ada yang sedikitpun tidak pernah luput menjadi pencerita
harinya.
Ada yang entah jika dia pergi, aku akan patah seperti
apa.
Seharusnya, dengan memori-memori yang sudah layaknya foto kamera polaroid, aku bisa mengerti, sejatinya, hidup itu tentang waktu yang tepat.
Waktu, di mana memang sudah saatnya mereka pergi.
Waktu, di mana memang sudah seharusnya mereka tidak akan
pernah lagi ada di sisi.
Pun waktu, di mana Tuhan menggantikan yang pergi, dengan
mereka yang tidak akan pernah pergi.
Berjuta kalipun aku mendengungkan “Waktu Tuhan adalah Waktu yang Terbaik”, sesakpun tidak bisa dengan mudah aku hilangkan.
Bagaimana bisa, aku yang entah, meminta-minta pada Tuhan
untuk memajukan waktu-Nya.
Aku ini siapa ?
Mana ada matahari di malam hari ?
Bagaimana jika waktu matahari tidak tepat ?
Apa matahari akan bersinar dengan terang dan membuat
penghidupan di malam hari ?
Lalu, siang berteman dengan siapa ?
Aku tersontak.
Cahaya matahari yang diam-diam menembus dedaunan
membuatku menyudahi alam bawah sadarku.
Menghela nafas panjang.
Seharusnya semudah ini aku menerima semua.
Semudah aku menyudahi anganku karena cahaya matahari yang
mulai jeli mencariku, dan aku yang sebentar lagi mendapatkan senjaku.
Bukankah, aku
mencintai senja yang selalu datang tepat waktu sesuai kuasa Tuhan ?
Itu yang akan didapatkan jika mengikuti mau Tuhan, bukan
?
Senja yang indah, di waktu Tuhan yang tepat.
0 komentar:
Posting Komentar