Rabu, 20 Mei 2015

Yang Lalu.


Pagi hari kala itu, aku menghela nafas cukup panjang, ada yang sedang ingin aku pikirkan.
Di setiap helaannya, aku bersyukur untuk apa yang sedang terjadi saat ini.
Berterima kasih, untuk semua yang telah terjadi.

Satu detik yang lalu, bukankah itu juga masa lalu ?
Apa yang bisa kita lakukan selain bersyukur pada masa lalu ?

Iya, berterima kasihlah.
Tuhan menempa kita, mendekatkan kita padaNya dengan ujian.
Tanpa pelajaran, mau jadi apa hidup kita ?
Semua yang telah terjadi, membentuk kita menjadi seperti saat ini.

Masa lalu, mau dipikir sedemikian rupa, tidak akan pernah berubah, dan tidak akan pernah kembali.
Yang berlalu, sudahlah.
Kita punya ribuan detik di masa depan, yang harus kita jaga.

Lalu, harus kita letakkan dimana masa lalu kita ?
Tetap letakkan disitu, sebagai kenangan. Sebagai pembentuk. Indah untuk disinggahi tapi tidak untuk ditempati kembali.

Berterima kasihlah pada masa lalu.
Dan, biarkan ia tetap berada disitu. Jangan diusik. Karena ia tidak akan berubah. Karena sekarang dan nanti, lebih berhak kita genggam dan kita jaga.

Dan kamu, yang lalu.
Kamu sudah berlalu, kisahmupun sudah terganti.
Buat cerita barumu, dengan sekarangmu dan nantimu.

Berbahagialah dengan caramu.
dan terima kasih untuk ceritamu.

Senin, 11 Mei 2015

Aku (Bukan) Perempuan Biasa


Aku, perempuan biasa .
Bukan perempuan perkasa yang mampu menaklukkan gunung.
Menempuh jarak berkilo-kilometer untuk mencapai puncak tinggi

Akupun perempuan biasa,
Pintar memasakpun tidak
Sekalipun berkutat di dapur, setengah jam untuk menyiapkan bahan, limabelas menit untuk memasak, setengah jam berikutnya untuk membersihkan berantakannya dapur setelah aku pakai.

Akupun bukan perempuan dengan karir kerja sangat cemerlang,
Laporan keuangan bulanan terkadang tidak tepat waktu, mencari selisih angkapun harus aku bawa pulang ke kos untuk lebih aku cermati
Tidak banyak ide yang aku sampaikan dalam rapat Dinas.

Aku, perempuan biasa.
Yang masih merengek minta kerik Bapak karena angin begitu mudah masuk tubuhku.
Yang masih bergelut manja dengan Mama saat Sabtu-Minggu, kesempatan yang saat ini sangat sulit aku temukan.
Yang masih menangis melihat dari kaca jendela kereta ketika Bapak menunggui kereta keberangkatanku ke Jogja berangkat,
Yang masih memaksa senyum padahal sangat ingin menangis ketika berpamitan dengan Mama untuk kembali ke perantauan.

Akupun hanya perempuan biasa,
Bergelayut manja di lengan terkasih, yang mampu membuatku merasa sangat nyaman
Beradu argumen tak mau kalah, bahkan untuk hal-hal kecil tidak penting, yang terselesaikan dengan pelukan manja

Akupun perempuan biasa,
Tidak tinggi semampai, cenderung kurus dan kuning langsat.
Bukan tipikal cantik dengan rambut terurai, ataupun badan aduhai dambaan laki-laki.

Aku perempuan biasa,
Terlalu sering eyeliner berantakan, lipstickpun tidak merah merona.
Tak banyak heels atau wedges yang aku punya.
Sneaker anti-cuci yang selalu aku andalkan, atau flatshoes nyaman yang baru aku ganti jika sekiranya sudah benar-benar belel.

Seperti inilah aku,
Yang mungkin jauh dari tipikal perempuan dambaan.
Tidak perkasa, masakpun hanya sekedarnya, pakaianpun jauh dari terlihat feminim.

Satu yang aku pastikan bahwa aku bukan perempuan biasa.
Aku sangat mencintai keluarga.
Teruntuk itulah, sebiasa apapun aku sebagai perempuan, sekuat kemampuanku, aku akan menjadi perempuan luar biasa untuk keluargaku.

Tidak usah risaukan anakmu nanti.
Nyawapun, akan aku relakan untuk membahagiakannya.

Jangan takut kehabisan pakaian, ataupun stock makanan harian.
Jangan takut rumah kita berantakan, atau kotoran kucing peliharaan dimana-mana.
Jangan takut anak kita kekurangan ciuman atau pelukan.
Jangan takut pendidikan anak kita tidak lebih tinggi dari kita.
Jangan takut anak kita tidak sering melihat alam.
Aku, perempuan biasa yang akan menjadi luar biasa, untuk kehidupan kita nantinya.
Percayakan padaku.
Aku akan menjadi luar biasa untuk kita.