Selasa, 28 November 2017

Hujan, Jangan Marah


Selamat siang dari balik layar PC ruang kerjaku.
Sesekali, aku tengok ke arah jendela.
Masih saja deras dengan suara yang gaduh.
Aku hela nafas panjang, sembari mencoba menghangatkan tanganku dari suhu dua puluh lima derajat siang ini.
Dua hari menuju bulan basah kesukaanku.
Bulan di mana tiap aku membuka mata, aku bisa mendengarkan gemericik syahdu.
Bulan di mana aroma khas tanah selalu meraba indra penciumanku.
Bulan di mana saat matahari menuju senja, gerimis melengkapi teduhnya.
Bulan di mana aku bisa melihat semesta untuk pertama kalinya.
Bulan di mana banyak doa untukku.
Bagaimana bisa aku tidak jatuh cinta sejatuh-jatuhnya dengan bulan itu ?

Setelah berbulan-bulan aku merindukanmu,
sepertinya kamu sudah mulai datang.
Aku memang memintamu untuk singgah, tapi tidak dengan cara seperti ini.
Jangan membuat orang-orang membencimu, aku mohon.

Datanglah dengan perlahan
dengan gemericik yang dirindukan
dengan suara yang syahdu
dengan pelangi yang kamu tinggalkan setelah kamu pergi

Jangan datang dengan amarahmu.
Jangan meninggalkan luka.
Jangan membuat orang-orang mengingatmu dengan sedih.
Aku mohon, hujan jangan marah.
Aku merindukanmu, yang  syahdu.


Sabtu, 11 November 2017

Siang Itu


Siang itu, setelah terik yang membuatku menghabiskan bergelas-gelas air dingin, aku menengadahkan kepalaku tepat di bawah pohon rimbun.
Sebisa mungkin aku bersembunyi dari matahari yang diam-diam mulai meredup. Untungnya, matahari tak mencariku dengan jeli. Dan aku, merasa menjadi satu-satunya pemilik taman samping danau ini.

Menghela nafas panjang.
Tanpa susah payah, memoriku seperti tepat ada di hadapanku. Tentang siapa-siapa saja yang datang dan pergi, pun tentang siapa-siapa saja yang tetap ada di sisi.
Mereka, yang dahulu ada di sisi, kini entah.
Ada yang pergi dan entah kapan akan kembali.
Ada yang tenggelam dan hilang bersama dokumen-dokumen pekerjaannya.
Ada yang sibuk menjadi teman hidup seseorang.
Ada yang bergelut manja sudah dipanggil “Bunda.”

Mereka, yang dahulu tidak pernah aku tahu, sekarang seakan-akan menjadi orang-orang yang tidak akan lagi aku ijinkan pergi.
Ada yang tidak pernah lepas dari tatapanku.
Ada yang sedikitpun tidak pernah luput menjadi pencerita harinya.
Ada yang entah jika dia pergi, aku akan patah seperti apa.

Seharusnya, dengan memori-memori yang sudah layaknya foto kamera polaroid, aku bisa mengerti, sejatinya, hidup itu tentang waktu yang tepat.
Waktu, di mana memang sudah saatnya mereka pergi.
Waktu, di mana memang sudah seharusnya mereka tidak akan pernah lagi ada di sisi.
Pun waktu, di mana Tuhan menggantikan yang pergi, dengan mereka yang tidak akan pernah pergi.

Berjuta kalipun aku mendengungkan “Waktu Tuhan adalah Waktu yang Terbaik”, sesakpun tidak bisa dengan mudah aku hilangkan.
Bagaimana bisa, aku yang entah, meminta-minta pada Tuhan untuk memajukan waktu-Nya.
Aku ini siapa ?
Mana ada matahari di malam hari ?
Bagaimana jika waktu matahari tidak tepat ?
Apa matahari akan bersinar dengan terang dan membuat penghidupan di malam hari ?
Lalu, siang berteman dengan siapa ?

Aku tersontak.
Cahaya matahari yang diam-diam menembus dedaunan membuatku menyudahi alam bawah sadarku.
Menghela nafas panjang.
Seharusnya semudah ini aku menerima semua.
Semudah aku menyudahi anganku karena cahaya matahari yang mulai jeli mencariku, dan aku yang sebentar lagi mendapatkan senjaku.
Bukankah,  aku mencintai senja yang selalu datang tepat waktu sesuai kuasa Tuhan ?
Itu yang akan didapatkan jika mengikuti mau Tuhan, bukan ?
Senja yang indah, di waktu Tuhan yang tepat.