Rabu, 11 Maret 2015

Kalau Kamu Mengerti, Aku akan Tenang Mempercayakan Putriku Padamu


Menemukan artikel, sebuah surat dari Ayah untuk calon suami putrinya.

Untuk orang yang akan menemani putriku, yang akan menua bersama hingga maut datang menjemput.

Halo, nak. Sebelumnya aku tidak pernah bertemu denganmu, tapi aku tahu bagaimana efek kehadiranmu di hidup putriku karena aku melihat ada perubahan di diri putriku. Tahukah kamu kalau dia jadi lebih lama ketika mandi? Aku tahu setiap kali ia membawa berbagai produk kecantikannya masuk ke kamar mandi, dia pasti akan menghabiskan waktu yang lama di kamar mandi. Tahukah kamu dia menghabiskan waktunya di depan laptop untuk belajar membuat masakan kesukaanmu? Satu kali, dua kali, tiga kali dia mencoba dan aku-serta istriku-dan seisi keluarga sering jadi kelinci percobaannya. Tahukah kamu bahwa dia sering grogi sebelum pergi bersamamu? Dia menghabiskan waktu berjam-jam di kamarnya cuma memilih baju terbaik dan dandan secantik mungkin. Padahal menurutku, apapun yang dipakai putriku, ia selalu terlihat cantik. Tahukah kamu bahwa dia sering pulang, masuk ke rumah dengan senyum yang sangat lebar setiap kali pulang dari pergi bersamamu? Senyum itu dulu cuma jadi milikku dan istriku, ketika kami membelikannya boneka kesukaannya. Senyum itu cuma jadi milikku dan istriku ketika ia tampil di pentas sekolah dan berhasil menemukan kami di tengah keramaian.

Aku tidak marah, aku juga tidak iri. Aku tahu suatu hari, momen ini akan datang. Momen dimana aku akan memegang tangannya untuk yang terakhir kali dan menyerahkannya kepadamu. Momen dimana aku akan pensiun jadi pahlawannya dan kamu yang akan menggantikan peranku itu. Walau aku tahu, dia akan selalu menganggapku sebagai pahlawan nomor satu dalam hidupnya. Tapi, percayalah, nak. Dia juga akan mengandalkan dirimu.
Jadi, aku cuma ingin berpesan. Maafkan kalau aku memang cerewet, tapi percayalah, istriku bisa menulis sebuah novel 1.000 halaman dan aku mungkin hanya akan menulis dua sampai tiga halaman saja. Nak, putriku mungkin bukan perempuan paling sempurna yang akan kamu temui di dunia, dia juga bukan perempuan paling cantik yang mungkin hadir di hidupmu. Tapi kamu harus yakin dan percaya sebelum menghabiskan sisa hidupmu bersama dirinya, dia lah satu-satunya perempuan yang memang pas dan cocok untuk hidup bersamamu setiap hari. Yakinkan dirimu bahwa dia satu-satunya perempuan yang bisa membantumu menjadi lelaki yang lebih kuat, lebih baik dan lebih dewasa setiap hari. Aku tahu, hidup kalian nanti tidak akan selalu penuh dengan tawa seperti yang kalian jalani sekarang, tapi aku ingin kalian berdua tetap memegang erat tangan satu sama lain, jangan pernah lepaskan, sehebat apapun badai yang menerpa kalian.

Tolong pertahankan senyum lebar yang selalu ia pasang setelah bertemu dirimu, karena aku dan istriku tidak akan selalu di sana untuk membuatnya tersenyum.
Tolong bantu dia untuk berdiri dan berjalan, bahkan berlari ketika dia terjatuh seperti yang aku dan istriku lakukan ketika dia masih jadi putri kecil kami.
Tolong tegur dan peringati putriku kalau dia memang berjalan ke arah yang salah, seperti yang aku dan istriku lakukan ketika dia salah mengambil jalan dalam hidup.

Yang terpenting, buat putriku selalu merasa dia berada di rumah ketika bersamamu. Tidak ada yang lebih penting selain rumah karena di sana tempat kalian berteduh, berlindung dan berkumpul bersama. Rumah adalah tempat pelarian terakhirmu. Buat dia nyaman, buat dia bahagia karena aku dan istriku tidak akan selalu di sini untuk membahagiakannya. Aku tidak bisa memberikan cinta seperti yang kamu berikan kepadanya, jadi aku yakin kamu punya kemampuan untuk mengerti dirinya.
Baiklah, aku sekarang sudah terdengar seperti istriku. Terima kasih sudah mendengarkan pesan panjangku ini. Aku sudah lebih lega sekarang seraya melihat kalian berdua menua bersama-sama.

Ditulis penuh rasa syukur dan bahagia,
Calon Ayah Mertuamu.



Mungkin semua Ayah akan merasakan hal seperti di atas,
Pak, siapapun yang akan mendampingi aku kelak,
Engkaulah cinta pertamaku,
laki-laki yang tidak akan pernah menyakitiku.
laki-laki yang sangat aku cintai.
You're always be my first love, pak :)

Link artikel di atas : http://www.idntimes.com/relationship/dating/248/Nak-Sebelum-Kamu-Hidup-Bersama-Putriku-di-Masa-Depan-Mau-Kah-Kamu-Membaca-Pesanku-Ini

Senin, 02 Maret 2015

Patah Hati


Sejenak aku menghela nafas ketika membaca novel Koala Kumal karangan Raditya Dika.
Ada satu paragraf yang membuatku aku terhenyak,

Kira-kira, begini bunyinya,
Nyokap lalu bertanya, "Dik, kamu tahu gak istilah Mama untuk orang yang sudah pernah merasakan patah hati ?" 
"Apa, Ma ?"
Nyokap menatap mata gue, lalu bilang, "Dewasa".

Iya, satu paragraf itu benar.
Mungkin dewasa tidak selalu kelihatan nyata.
Bahkan justru ketika kita patah hati, kita akan merasa bahwa Tuhan tidak adil memberikan ending cerita yang tidak sesuai dengan keinginan kita.
Dari yang nangis semalaman, merasa semua lagu patah hati itu ditujukan khusus buat kita, curhat sana-sini, dan berbagai cara lain untuk “menenangkan.”
Wajar dan sangat manusiawi.
Dengan begitu, kita jadi tahu, ternyata kita masih punya “perasaan” untuk merasakan sakit.

Tapi, sebenarnya, dari situlah kita berproses menjadi dewasa.
Sekali lagi, mungkin memang tidak nampak.
Coba perhatikan detail-detail kecil.
Mungkin, setelah masa-masa sulit itu, kita akan masuk ke proses penerimaan.
Menerima, karena tidak semua yang kita inginkan harus kita dapatkan.
Dari situlah kita belajar bagaimana ikhlas.
Walaupun mungkin untuk menuju ikhlas itu, kita harus membuat orang yang menyakiti kita terlihat jelek setidaknya di mata kita.

Lalu, kita akan punya banyak waktu untuk mencintai diri kita sendiri.
Berhenti menangis, membesarkan hati, meluangkan banyak waktu untuk memberi penghargaan pada diri sendiri, adalah satu bentuk dewasa untuk mencintai diri sendiri.
Terkadang kita lupa untuk mencintai diri sendiri ketika kita sibuk mencintai orang lain yang mematahkan hati kita.

Setelah proses menerima dan berdamai dengan diri sendiri, setidaknya akan ada banyak pandangan baru tentang kehidupan kita.
Kita mendewasa dengan sendirinya melalui proses patah hati itu.
Kita akan lebih tahu sosok seperti apa yang seharusnya kita pilih nantinya agar kita tidak lagi terjebak pada patah hati yang sama.
Kita akan lebih memahami, masa lalu memang baik untuk dikenang, tapi tidak untuk disinggahi kembali dengan “pribadi” yang sama di masa lalu, tanpa perubahan.
Kita akan lebih menghargai orang-orang di samping kita, yang mungkin sebenarnya dia selalu ada, tapi tidak pernah kita sadari, karena kita terlalu fokus dengan patah hati.
Dan satu yang tidak boleh kita lupakan, percayalah, Tuhan menyelamatkanmu dari orang-orang yang salah dengan mematahkan hatimu.

Selamat menjadi dewasa, kaum yang pernah patah hati.
Berterima kasihlah pada masa lalu yang menguatkanmu. Dan beruntunglah mereka yang menemukanmu setelah proses patah hatimu, karena kamu menjadi pribadi yang baru, yang jauh lebih baik.


Dewasalah.