Selasa, 28 Oktober 2014

The Falling Leaf doesn't Hate The Wind


Daun jatuh tak pernah membenci angin,
Dia membiarkan dirinya jatuh begitu saja,
Tak melawan, mengikhlaskan semuanya

Bahwa hidup harus menerima, penerimaan yang indah
Bahwa hidup harus mengerti, pengertian yang benar
Bahwa hidup harus memahami, pemahaman yang tulus

Semua yang terjadi tidak satupun yang sia-sia
Boleh saja kita merencanakan dengan indah
Semua yang kita impikan tertulis rapi dalam kertas putih
Tetapi kita tidak boleh lupa,
Bahwa kita harus membiarkan Tuhan menghapuskan beberapa rencana kita
Yang kemudian digantikanNya dengan rencana yang jauh lebih indah

Ikhlas menerima,
Yang terjadi adalah kehendakNya,
Yang terjadi adalah rencanaNya,
yang bahkan sudah tertuliskan jauh sebelum kita melihat dunia

Angin membawa daun yang terjatuh, kemanapun sesuka hatinya
Daun mengikutinya, tak melawan, ikhlas ikut terbang, mengikuti kemanapun angin berhembus
Karena daun yakin, kemanapun ia dibawanya,
Adalah tempat terbaik yang ditawarkan oleh angin
Karenanya, daun pun tak akan membenci angin


The falling leaf doesnt hate the wind

Selasa, 21 Oktober 2014

"Malaikat"



Selalu ada yang dikirimkan oleh Tuhan pada saat kita dalam keadaan terjatuh
Dan aku menyebutnya, malaikat.

Dia tanpa sayap,
Datang tanpa membawa apapun
Tidak ada yang istimewa
Hanya saja, dia datang di saat yang tepat

Selalu ada sosok seperti dia
Yang tidak akan pernah pergi ketika kita dalam keadaan apapun

Justru terkadang sosok seperti dia terlupakan
Saat kita sedang asyik berbahagia dengan dunia kita

Dan ketika dunia seolah-olah sedang tidak berpihak pada kita
Dia datang, menawarkan bahunya untuk sekedar melepas penat

Dia, yang terlewatkan
Selalu menghapus air mata dengan bijak,
Mengembalikan yang seharusnya tidak boleh pergi, seutas senyum

Dia yang aku sebut malaikat,
Semoga selalu kita sadari keberadaannya,
Setidaknya, jangan terlambat untuk menyadari, bahwa dialah, orang yang pernah datang dan tidak akan pernah pergi.

Sabtu, 18 Oktober 2014

Sudah Tidak Muda Lagikah ?


Sepertinya aku mulai memasuki fase-fase mengejutkan
Di mana timeline facebook-ku tidak lagi meriah dengan postingan teman-teman tentang artis-artis korea yang baru mengeluarkan MVnya
Atau tentang keluh kesah mereka di status facebook atau twitter-nya bagaimana susahnya menyelesaikan skripsi dan berjam-jam menunggu dosen pembimbing hanya untuk melihat skripsinya dicorat-coret,

Apa yang aku lihat sekarang ?

Satu persatu teman dekatku mulai mengubah status relationship facebooknya, dari yang In a Relationship menjadi Engagement
“Akhirnya mereka melangkah satu tahap lebih serius”, pikirku bahagia.

Tidak terlalu mengejutkan, dibandingkan dalam jangka waktu yang tidak terlalu dekat, ada banyak wedding invitation masuk di notifikasi facebookku.
“Weh, dia nikah to ?”
“Pantes nikah sama ini, pacarannya udah lama banget”
“Eh, kok sama yang ini sih ? Kapan pacarannya ? Bukannya dia pacaran lama sama yang ini ya ?”

Begitu kira-kira ekspresiku ketika mendapat wedding invitation dari si A, si B, atau siapapun.
Mulai bermunculanlah foto-foto pernikahan teman-teman seumuranku, seperti jamur di musim hujan mungkin.

Belum lagi, setiap harinya mereka memposting hasil masakan mereka dengan caption “Suami lagi pengen dimasakin ini, coba-coba ah.”
Oh, Tuhan, sudah ada yang mereka sebut suami di timeline mereka.

Ada juga yang mulai rajin memposting tentang “calon dedek” yang sedang mereka tunggu-tunggu. Dari foto hasil USG, atau status-status membahagiakan seperti “suami lagi suka elus-elus perut yang ada calon dedek di dalamnya.”
Oh, Tuhan, semembahagiakan itu sepertinya.

Tapi mungkin, di fase ini juga, aku menemukan ada banyak orang terdekat yang ternyata harus mengakhiri hubungannya setelah bertahun-tahun bercerita bersama.
Ya, realistis, lamanya hubungan tidak menjadi satu patokan mereka akan hidup bersama.

"Ternyata, aku sudah tidak muda lagi", pikirku
Ya, setiap manusia punya hal-hal yang mereka prioritaskan. Karena hidup itu pilihan. Mereka berhak memilih di umur 20-an ini apa yang akan mereka pilih untuk diprioritaskan. Bukankah begitu ? 

Cukup merasa ikut berbahagia dengan langkah-langkah mengejutkan yang diambil oleh mereka.
Baik langkah mereka yang baru memulai hubungan serius dengan pertunangan, langkah memasuki kehidupan baru dengan memilih teman hidup dalam pernikahan, maupun langkah untuk mengakhiri hubungan yang sudah lama terjalin untuk jalan kehidupan yang lebih lebih baik

Apapun itu, Tuhan sudah menyiapkan skenario terbaik untuk kita
Apapun itu, Tuhan menjanjikan yang terbaik untuk kita

“Boleh jadi yang baik menurut kita itu buruk menurut Tuhan, dan boleh jadi yang buruk menurut kita adalah yang terbaik menurut Tuhan.”

Apapun itu, Tuhan MahaMengetahui apa-apa yang tidak kita ketahui. Tuhan MahaMengetahui apa yang terbaik untuk kita
Berbahagialah untuk apapun, karena semesta berbahagia untuk kita


Senin, 13 Oktober 2014

Jogja (yang katanya) Berhati Mantan


Setelah membaca salah satu artikel yang aku temukan di media sosial tentang “Jogja Berhati Mantan”, memang benar adanya kata-kata itu.
Jogja memang memberikan efek sentimentil dan keromantisan tersendiri bagi mereka yang pernah jatuh cinta, pun patah hati di kota ini.

Tidak ada yang tidak bisa dibuat jatuh cinta oleh Jogja. Tiap sudutnya pasti memberikan daya tarik sendiri untuk membuat kisah cinta yang sederhana tapi sangat sulit untuk dilupakan.

Pernah jatuh cinta, yang kemudian patah hati, dan kembali jatuh cinta, dan patah hati lagi, tidak membuat mereka yang mengalaminya serta-merta merasa kapok untuk kembali lagi jatuh cinta di kota ini.

Kesederhanaan untuk bisa jatuh cinta di sini, sesederhana melewati senja berboncengan di Alun-alun Kidul, atau menelusuri jalan Malioboro yang ramai penuh cerita.
Sesederhana menghabiskan secangkir minuman hangat di angkringan, atau mendengarkan tourguide menjelaskan dengan detail tiap sudut Tamansari.
Sesederhana melihat matahari terbenam di deretan pantai-pantai Yogyakarta, atau melihat bentangan indahnya panorama Yogyakarta dari atas Bukit Bintang.

Jogja terlalu besar untuk dilupakan, terlebih bagi saya.
Mungkin saya yang baru enam tahun tinggal di kota ini, belumlah seberapa dibandingkan mereka yang mungkin sudah berpuluh-puluh tahun menjadi bagian dari kota yang istimewa ini.
Tapi rasanya, enam tahun menjadi proses pendewasaan yang sangat luar biasa. Dan saya merasa beruntung, saya melewati proses itu di kota ini, bukan kota yang lain.

Bagaimana mendapatkan teman yang sama-sama dari perantauan, belajar di dunia perkuliahan, bertemu berbagai macam karakter yang kita harus pintar memilih mana yang harus dipertahankan menjadi kawan, mana yang bukan.
 Bertemu dia yang membawa warna baru, berproses bersama. Kehilangan dia dan sempat merasa kehilangan otak tertawa. Menemukan seseorang yang membantu saya kembali, berproses bersama dari nol, sukses bersama, dan kembali kehilangan “teman hidup seperjuangan”, benar adanya bahwa Jogja tidak akan pernah lepas dari ingatan saya.

Dan terjatuh, tidak lantas membuat saya kapok, dan saya masih punya mimpi untuk kembali jatuh cinta di kota ini, bahkan menghabiskan dunia saya dengan bercerita di kota ini. Siapa tahu ?

Begitu adanya kota ini, jatuh cinta lah di Jogja, maka kamu akan tahu bagaimana istimewanya kota ini.

Jogja, bagaimana bisa pergi, jika hati rasanya ingin terus pulang dan kembali ke kota ini ?


Jumat, 10 Oktober 2014

Mereka yang Memilih untuk Pergi


Mereka yang memilih untuk pergi,
Pasti pernah bertahan sekuat hati
Pernah mencoba untuk selalu ada di sisi,
Biar sendiri,
Setidaknya pernah mencoba untuk tidak pergi.

Mereka yang memilih untuk pergi,
Pasti mengerti apa arti sabar,
Tidak membagi beban,
Dan mencoba memahaminya, sendiri

Mereka yang memilih untuk pergi
Tahu apa itu ikhlas
Ketika apa yang mereka pertahankan tidak kunjung dihargai
Mereka tahu, satu-satunya cara untuk bertahan adalah dengan ikhlas menerima
Setidaknya, mereka pernah melalukan yang terbaik,
Semampu mereka

Mereka yang memilih untuk pergi
Tidak akan pernah tergantikan oleh siapapun,
Karena yang terbaik, adalah mereka yang pernah berjuang dengan tulus,

Dan ikhlas menerima, hingga akhirnya mereka memilih untuk pergi.