Jumat, 06 Juli 2018

Kaum Patah Hati, di Kota Sejuta Kenangan, Jogja



Teruntuk mereka, kaum patah hati di kota sejuta kenangan, Jogja.

“Jatuh cintalah di Jogja dan kamu akan se-jatuh-jatuhnya jatuh cinta dengan Jogja.”
Bagaimana tidak, siapa yang tidak terpikat dengan aura magis kota ini.
Tiap sudutnya, selalu ada rindu.
Tersaji lugu namun selalu berhasil membuat rindu.

“Jogja memang tercipta dari kenangan.”
Siapa yang pernah menginjakkan kaki di tanah Jogja, pasti akan selalu terkenang.
Walau hanya sekelebat.
Rasanya ? Pasti ingin kembali, lagi.

“Jogja berhati mantan.”
Berat pasti, mencintai Jogja yang terbentuk dari patah hati.
Ketika melewati jalan-jalan Jogja yang sendu.
Sembari mendengarkan lagu-lagu nostalgia penuh arti.
Ingin rasanya pergi dari kota ini, tapi bagaimana, sudah terlanjur jatuh hati.

Bertahun-tahun membangun asa.
Menciptakan rasa.
Menjajal kenangan.
Di tiap-tiap sudut kota.
Di gang-gang kecil nan ramah.
Di warung-warung lima ribuan.
Di iring-iringan musik pengamen jalanan.
Di senja yang menutup hari.
Di pasir pantai yang memecah langkah.
Di atas awan penuh ketakjuban.
Di ketinggian yang membuat lupa takut.
Di Jogja yang membuatmu jatuh cinta sekaligus patah hati.
Di hatimu, yang entah.

Jika pernah patah,
Kembalilah suatu saat lagi kemari.
Bernostalgia.
Dengan asamu yang ternyata tidak bisa menjadi nyata.
Dengan rasa yang pernah kamu cipta tapi harus kamu enyahkan.
Dengan kenangan yang pernah kamu jajal meski sekarang harus tetap kamu peluk erat.
Di tiap-tiap sudut kota.
Di gang-gang kecil nan ramah.
Di warung-warung lima ribuan.
Di iring-iringan musik pengamen jalanan.
Di senja yang menutup hari.
Di pasir pantai yang memecah langkah.
Di atas awan penuh ketakjuban.
Di ketinggian yang membuat lupa takut.
Di Jogja yang membuatmu jatuh cinta sekaligus patah hati.
Di hatimu, yang entah.

“Jogja terbentuk dari kenangan.”

Kembalilah suatu saat nanti.
Untuk memeluk erat.
Karena tidak ada yang tidak bisa jatuh cinta dengan Jogja,
Meski telah berkali-kali patah di kota ini.

Kamis, 12 April 2018

Cinta Pertamaku



Katanya,
Ayah itu cinta pertama bagi anak perempuannya.
Benar, kataku.

Laki-laki itu.
Entah ada di usia berapapun, akan tetap selalu berdiri tegak di sampingku.
Entah ada di usia berapapun aku, ia akan tetap membuatku menjadi  sosok anak kecil yang bergelut manja di lengannya.

Aku tidak pernah tidak bisa menangis.
Saat ia menungguku meninggalkannya di stasiun kota kecil itu, hingga keretaku melaju.
Dan aku, hanya mampu meraihnya dalam doa dari balik jendela
sembari berkata, “Aku akan selalu sempat pulang.”

Mereka boleh saja bilang aku perempuan manja
Sudah seperempat abad lebih saja masih tidur di ketiak Ayah
Tapi bagiku, aku perempuan beruntung
Karena jatuh cinta sedalam ini pada laki-laki itu
Laki-laki yang tidak pernah membuatku patah hati
Laki-laki yang selalu menjaga pun mencintaiku
Ia, cinta pertamaku.

Kini,
Bolehkah aku saja yang menjagamu ?
Jangan makin keras kepala
Karena aku sangat tidak ingin kehilanganmu

Sebentar saja
Rebahkan punggungmu
Usap peluh keringatmu
Duduk dan nikmati teh hangat buatanku

Cukupkan guratan-guratan keras di tanganmu
Cukupkan lelahmu
Dan biarkan aku yang berpeluh

Payung ini biar aku yang pegang
Dan kita berjalan berdua
Tidak lagi, jangan lagi, hanya aku yang mendapat teduh
Dan bajumu basah kuyup
Aku sudah tidak cepat pusing setelah kehujanan, seperti saat aku di Taman Kanak-kanak

Seberuntung ini ternyata rasanya.
Ketika Tuhan memilihkanmu menjadi cinta pertamaku.
Dan aku akan selalu seperti ini
Menjadikanmu satu-satunya cinta pertamaku

Jaga kesehatan.
Jangan keras kepala.
Pintaku.

Senin, 05 Maret 2018

Lima Maret Dua Ribu Delapan Belas



Beberapa bulan sebelum tanggal ini di tahun 2014, ada seseorang yang sepertinya sengaja Tuhan kirimkan padaku untuk menggantikan otak tertawaku yang saat itu mulai menipis karena ada banyak hal yang mengejutkan yang membuatku harus memutuskan untuk berhenti dan belajar melepaskan.

Tidak mudah, sebenarnya.
Tapi Tuhan yang MahaBercanda, sungguh baik karena aku tidak perlu menangis terlalu lama atau menyalahkan keadaan yang tidak berpihak padaku saat itu.
Mungkin salah satu alasannya karena Tuhan mengirimkan seseorang untukku di waktu yang tepat.

Semenjak saat itu, aku seperti seseorang yang tidak pernah tidak bergembira. Seseorang yang tidak lagi kekurangan tawa, atas joke-joke receh yang entah mengapa sesederhana itu membuatku bahagia.
Iya, bahkan hanya dengan melenturkan tangan ke kanan dan ke kiri ala-ala penari Hawai, bisa begitu membekas di ingatanku.

Dan sejak saat itu, semesta sepertinya membentuk jalan kami menjadi arah yang sama.
Dan itu terjadi di tanggal ini, tiga tahun lalu.

Mungkin benar adanya, patah hati di umur dua puluhan memang menyakitkan.
Tetapi, aku lebih meyakini bahwa, jatuh cinta di umur dua puluhan adalah hal yang membahagiakan.
Pasti kalian setuju, jatuh cintamu bukan lagi surat-surat manis ala anak SMP atau pergi kesana kemari ala anak SMA.
Jatuh cintamu lebih untuk saling menguatkan, pun bertahan bersama. Juga, tentang bagaimana saling menemani dan saling membahagiakan.

Suatu hari, aku ingin bercerita pada anak-anak kita, bahwa cinta itu berjuang bersama.
Karena melihat satu sama lain berusaha saling mangalahkan egonya untuk menjadi satu, itu pemahaman cinta tertinggi di umur dua puluhan.

Dan ketika tua nanti, ingatan-ingatan kita semoga masih penuh dengan kisah-kisah bagaimana kita saling menemani, dari kita yang belum menjadi apa-apa, hingga kita yang beruban dan menua bersama nantinya.

Sesederhana itu.
Menua bersamamu pasti sungguh menyenangkan.
Menyeduhkan kopi pagi untukmu.
Berkelakar penuh canda dengan anak-anak kita nantinya.
Menikmati masa penuh uban dan rambut yang mulai rontok pun kulit berkeriput.
Bersenandung entah.
Atau masih menikmati konser-konser band kesukaan kita mungkin empat puluh sampai lima tahun yang akan datang.

Rasanya, seperti masih muda saja mengingat tanggal di mana kita saling berkata “Iya.”
Sampai nanti porsi kopimu harus aku kurangi karena faktor usiamu, akan aku tanyakan lagi padamu perihal tanggal-tanggal ini.
Agar kita menjadi muda, seperti saat aku menuliskan cerita ini.
Atau akan aku ingatkan lagi, bagaimana hatiku membuncah ketika hujan-hujan saat itu kita bersenandung bersama menyanyikan lagu-lagu Banda Neira.
Atau akan aku rapalkan lagi, lagu-lagu apa yang pernah Sheila on 7 bawakan di konser-konser Sheila on 7 yang tidak pernah kita lewatkan.
Atau, mau bertanding mengingat band-band apa saja yang sudah pernah kita tonton ?
Payung Teduh, Ada Band, Musikimia, Fourtwenty, The Sigit, Endah Rhesa, Mocca, dan masih banyak lagi.
Atau akan aku ceritakan lagi hal-hal membahagiakan saat kita masih muda dulu.

Waktu yang masih sangat sebentar.
Karena, selamanya kita akan seperti ini.
Akan ada empat tahun, lima tahun, sepuluh tahun, lima puluh tahun, bahkan puluh-puluh tahun lainnya.
Semesta, sampaikan pada Tuhan dari kami yang saling menemukan di waktu yang tepat dan sedang sangat berbahagia.

Dan setelah aku menulis cerita ini, semoga Tuhan meng-aamiin-i mimpi-mimpi kami.
Teruslah bersisian.
Sampai nanti.
Nisan kita bersisian.
Sampai nanti.
Kita bersama lagi di surga.

Bertemu Tuhan yang mempertemukan kita.

Senin, 19 Februari 2018

Cemburu



Aku menghela nafas lega.
Akhirnya aku melihat Ayah menjemputku di stasiun kota, setelah satu setengah jam aku mencoba menguatkan diri, melawan panas tubuh yang beberapa hari ini tak kunjung reda.
Terlihat jelas raut muka penuh cemas, memegang gagang payung, dan memberikannya padaku, khawatir aku kehujanan.

Semalaman, aku tidur berselimut hangat, lepas dari malam-malam sebelumnya, sendiri, menikmati perut mual pun kepala pusing.

Tak biasanya, Ayah membangunkanku, iya, karena saat itu pukul 06.30, dan rasa-rasanya aku masih bisa tertidur sepanjang hari.
Katanya, ia khawatir. Aku yang tidak pernah melewatkan subuh, pagi itu masih terlelap hingga pasar pagi akan usai.

Bagaimana cara ia membangunkanku ?
Dengan mengetuk pintu dan membawakan bubur untuk sarapanku pagi itu.
Dan seperti itu, hingga siang, malam, hari berganti, dan panas tubuhku pergi.

Ia selalu seperti itu, bukan karena aku sedang lemah, atau karena aku bergelut manja.
Tapi kali ini,
Aku bercerita padanya.
Kemarin sebelum aku bisa menemui rumah,
ada seseorang yang menjagaku, sedemikian rupa, dan aku tahu, Ayah menyukainya, tapi, ia cemburu.

Ayah tau,
Bagaimana lelaki itu menemaniku.
Bagaimana lelaki itu menjagaku.
Bagaimana lelaki itu membuat aku baik-baik saja.

Dan aku tau,
Bagaimana Ayah cemburu.
Rasanya ingin selalu aku katakan padamu, Ayah.
Kamu, tetaplah cinta pertamaku.
Tidak ada siapapun, sesempurna apapun ia, yang mampu menggantikanmu.
Mau aku mencari lelaki sepertimu,
Aku tak akan pernah menemukannya.

Dan, Ayah,
Aku tetap perempuan kecilmu,
Yang sekuat apapun, berlindung di bawah ketiakmu adalah surga bagiku.

Hanya saja, aku mau, cukupkan khawatirmu untukku.
Aku akan merasa bersalah, ketika membuatmu berkeringat dingin karena mengkhawatirkanku.
Aku cukup kuat untuk menghadapi apapun.
Walau pada akhirnya nanti, lagi-lagi aku hanya bisa kembali padamu.

Dan, Ayah,
Maaf membuatmu merasa cemburu.
Cemburu itu menyebalkan, pasti.
Tapi tidak akan lagi.
Karena aku tidak akan mencintai lelaki lain lebih besar dari cintaku kepadamu, Ayah, cinta pertamaku.



Rabu, 31 Januari 2018

Dilan, Dia adalah Dilanku Tahun 1990


Akhirnya, mungkin setelah hampir delapan tahun tidak menyambangi bioskop, aku memutuskan untuk kembali menonton film. Itupun karena Dilan 1990-ku difilmkan. Iya, salah satu dari tiga series tentang Dilan, karangan Ayah Pidi Baiq, novel yang membuatku memiliki imajinasi tersendiri tentang Dilan.

Ada banyak novel series yang aku baca. Termasuk lima karya Dee Lestari dengan novel terakhirnya yang super tebal menurut aku yang sekarang sudah berminus tinggi ini.
Tapi, Dilan, satu-satunya karakter yang membuat aku jatuh cinta dan berharap di dunia ini masih ada satu sosok Dilan yang diutus Tuhan ke bumi untuk perempuan sepertiku, perempuan yang penuh imajinasi.

Berulang kali novel Dilan aku baca.
Dan berulang kali pula aku jatuh cinta dengannya.
Hanya saja, beberapa kali itu pula aku menggerutu, menyayangkan mengapa Ayah tidak memutar endingnya sesuai keinginan pecinta Dilan dan Milea.

Tahun kemarin, ada kabar yang membuatku bingung. Antara khawatir, takut, tapi juga senang.
Dilan 1990 di-filmkan.
Dan untuk beberapa masa, pemeran Dilan disembunyikan, sehingga membuat para imajiner menerka-nerka siapakah sosok yang badung, “Bandung banget”, tapi manis, lengkap dengan tatapan mata yang dalam.
Dari kolom komentar instagram official Dilan 1990, banyak yang menerka dialah Adipati Dolken, atau Junot, atau bisa saja Vino G. Bastian, dan rentetan nama-nama artis muda nan ganteng pun sedikit “badung”.
Hingga akhirnya tiba masa di mana semua cast Dilan 1990 dan diumumkanlah siapa yang memerankan Dilan.

Iqbaal, sosok yang beberapa tahun silam berjingkrak-jingkrak ala boyband dan ex-CJR ini yang dipercaya Ayah Pidi Baiq untuk menjadi Dilan. Dan seketika, muncul komen-komen netizen yang mungkin lebih banyak tidak percaya dan memandang sebelah mata pilihan Ayah Pidi Baiq itu.
Dan dari situ, jujur, aku takut melihat Dilan. Karena, aku takut imajinasiku tentangnya, yang sudah bertahun-tahun aku bangun akan hilang begitu saja.
Itu terjadi hingga sore itu, Selasa, 30 Januari 2018, aku duduk di posisi tengah paling nyaman di XXI Jogja City Mall untuk mencoba peruntungan melihat bagaimana Dilan 1990 direpresentasikan menjadi sebuah film.
Dan.
Sepanjang film diputar, aku menemukan Dilan dalam tatapan mata Iqbaal yang dalam ke Milea.
Itu kunci utamanya, sebenarnya. Iqbaal mendapatkannya.

Senyum-senyum sepanjang film Dilan 1990 itu memang benar adanya.
Kata-kata manisnya, dengan detail masih ada di film itu dan membuat novel Dilan 1990 masih ada di film Dilan 1990.
Ada beberapa cerita yang tidak diceritakan dalam film, tapi itu bisa dimengerti karena durasi sebuah film tidak mungkin memaparkan semua cerita dalam novelnya.
Justru, aku sedikit menitikkan air mata di tengah-tengah film, karena aku ingat bagaimana Dilan dan Milea di akhir cerita. Iya, bagaimana mungkin Dilan dan Milea memiliki akhir cerita yang sebenarnya bisa diperbaiki ?

“Cinta sejati adalah tentang kenyamanan, kepercayaan, dan dukungan. Kalau kamu tidak setuju, aku tidak peduli”, Milea.
Dan Dilan mencintai Milea dengan hal-hal sederhana.
Bukan dengan boneka besar yang diberikan Nandan saat ulang tahun Milea.
Bukan dengan kue ulang tahun mahal ataupun buket bunga besar dari Benny yang datang jauh-jauh dari Jakarta ke Bandung untuk memberikan surprise ulang tahun Milea tepat tengah malam.
Atau bukan juga dengan kepintaran dan bisa diantar ke-mana-mana naik mobilnya Kang Adi.

Dilan hanya menawarkan hal-hal sederhana penuh tawa.
Bagaimana Dilan selalu menelepon Milea lewat telepon koin di Mars.
Bagaimana Dilan menyerahkan motornya ke Agus dan Dilan memilih naik angkot bersama Milea untuk menjaga Milea pulang sampai ke rumahnya.
Bagaimana Dilan bersusah payah mengisi TTS untuk hadiah ulangtahun Milea sehingga Milea tidak perlu pusing-pusing untuk mengisinya.
Bagaimana Dilan bercerita di atas motor membuat Milea selalu ingin jalan-jalan mengelilingi kota Bandung bersama Dilan.
Bagaimana Dilan mengirimkan cokelat untuk Milea melalui tukang koran langganan Ayah Milea.
Bagaimana Dilan mengirimkan Bibi untuk memijat Milea yang sudah tidak masuk tiga hari karena kecapaian.
Bagaimana Dilan menjaga Milea dari Anhar yang menampar Milea di warung Bi Eem.
Dan hal-hal sederhana yang Dilan lakukan untuk Milea.
Bagaimana semua hal itu tidak membuat Milea jatuh cinta dengan Dilan ?

Dilan-ku tetap menjadi imajinasiku.
Kebaperan-kebaperan saat membaca novel ternyata bisa aku rasakan juga saat melihat filmnya.
Mungkin ketika aku nantinya akan membaca ulang kembali, Dilan imajinasiku sedikit berubah menjadi Iqbaal. Mungkin, tapi entah.

“Dilan tidak hebat, tidak, malah mungkin biasa saja. Tapi bisa membuatku senang hanya dengan hal sederhana”, Milea.

Sabtu, 27 Januari 2018

Titik


Aku mencari akhir dari kalimat ini
Katanya, semua kata bermakna pasti memiliki akhir
Dan kini, aku sibuk untuk membuka lembar demi lembar
Sembari menelaah semua cerita dalam novel yang sedang aku baca

Mudah saja,
Hanya dengan membuka lembar akhir, aku baca, pasti aku akan menemukannya
Tapi,
Aku hanya akan mendapatkan kekosongan
Bukan cerita yang dari awal aku imajinasikan

Aku mencemburui mereka-mereka yang dengan mudah menemukannya
Dengan jahatnya, aku berpikir mereka mengambil jalan tengah
Mengambil beberapa lembar yang kemudian langsung mereka baca bagian akhirnya
Dan tanpa peduli cerita, mereka menemukan akhir

Sedangkan aku,
Bergulat dengan imajinasi
Menelaah kata demi kata
Karena aku tidak ingin kehilangan makna
Hanya untuk menemukan akhir cerita

Kemudian
Ketika imajinasiku mulai terhenti
Ketika mata sembab mengurai kata-kata yang aku rasa tidak ada ujungnya ini
Dan kelelahan mencoba menghentikanku
Akhirnya aku berada di ujung cerita

Benar, bergejolak rasanya
Tidak dengan merapal cepat
Atau tergesa membuka lembar akhir
Aku justru mencintai bagaimana aku menemukan akhirnya

Beribu kata, apapun maknanya
Titik adalah akhir dari semuanya
Kalimat terurai
Titik adalah keusaian
Dan aku menemukannya
Di lembar paling akhir novel ini

Titik.

Sabtu, 13 Januari 2018

Bulan Basah Kala Itu (Cerpen)


Bulan Basah Kala Itu
By Arumyurista

Selamat pagi, dengan langit pekat, dan gerimis kecil yang malu-malu turun ke bumi. Semerbak bau tanah sisa hujan semalam yang selalu menjadi candu. Itu mengapa aku sangat mencintai bulan basah. Terlebih Desemberku.
Di balik selimut, rasanya tidak mau aku beranjak. Mata yang masih aku pejamkan, telinga yang aku pasang erat-erat demi menikmati gerimis yang bersenandung di luaran sana. Kalau saja, aku tidak ingat jadwal kuliahku yang padat dari pagi hingga petang nanti, aku pasti lebih memilih berdiam diri, syahdu menikmati hari. Tapi, lagi-lagi hanya menjadi angan saja. Akhirnya, dengan perasaan yang tidak menentu, aku ambil handuk untuk memulai semua aktivitas hari ini. Tuhan, bersamalah denganku hari ini.
Aku susuri jalan kota Jogja yang mulai ramai. Rasanya, baru kemarin kota ini tidak penuh sesak seperti ini. Sepagi ini, untuk melalui lampu perempatan itu saja harus melewati beberapa kali lampu merah. Semua orang mengeluarkan mobil-mobil mewahnya. Melesat maju, membiarkan genangan air di jalanan mengenai baju kuliahku. Sial. Sesekali aku melihat pasangan muda-mudi berbaju seragam putih abu-abu tampak tertawa riang meski baju seragamnya jelas sudah basah. Bagaimana rasanya mengikuti pelajaran dengan baju basah ? Pasti rasanya bahagia, terlihat dari tawa sumringah tidak mempedulikan hujan pagi ini.
Sampailah aku di kelas pagi yang ribut ini. Ada yang sibuk mengibaskan rambutnya sisa kehujanan tadi. Ada yang meneguk sebotol teh hangat demi menghangatkan tubuh. Dan ada yang tersenyum simpul memperhatikan bangku kosong belakang, tempat seseorang selalu mendudukinya. Orang yang pernah tidak pernah tidak hadir di dalam hari-hariku. Orang yang sedang tersenyum itu, aku.

“Pagi, sayang, tiga puluh menit lagi aku sampai di rumah, ya. Dandan yang cantik !”
Pesan whatsapp darinya aku terima seusai mandi.
Kusiapkan bekal nasi goreng bakso kesukaannya, karena aku selalu tahu, dia tidak pernah menyempatkan sarapan, karena katanya, dia tidak akan sarapan kalau tidak dari bekal makanan yang aku buatkan.
Sayup terdengar motor matic terparkir di halaman depan. Aku berlari menujunya. Dia membuka helm retro kesukaannya. Pagi ini, dengan hem biru, celana jeans, dan sneakers hitamnya. Dia selalu tampak ceria menjemputku.
“Bapak, Ibu, ada ? Aku mau pamit.”, katanya.
“Bapak, Ibu udah berangkat kerja, kita langsung ngampus aja.”
Selalu seperti ini, pagi yang aku suka. Kupeluk erat tubuhnya, sembirit angin wangi parfum dari tubuhnya yang selalu aku rindukan. Menyusuri jalanan kota Jogja yang masih sepi, membuat Jogja seakan-akan memang kota penuh cerita.
Tidak pernah kita kehabisan cerita selama di jalan, hingga tanpa disadari, sampailah kita di kampus. Memasuki kelas dengan genggaman tangan yang tidak pernah lepas dan dia duduk di bangku kesukaannya. Aku memilih untuk duduk di depan, minus tinggiku membuatku tidak bisa melihat dengan jelas layar proyektor kelas ini.
Seperti biasanya, sesekali aku tengok ke belakang, tersenyum simpul. Tapi ada yang berbeda. Aku tidak menemukan diriku dalam matanya. Sendu. Ini bukan kamu. Kamu di mana ?
Usai kelas, aku lingkarkan tanganku di lengannya.
“Kamu baik-baik aja ?”, kataku memastikannya baik-baik saja.
“Kita nggak selamanya bareng-bareng. Kalau kamu pulang sendiri, nggak apa-apa, kan ? Aku pesenin ojek ya, sekarang.”
Kuliah hari ini hanya satu mata kuliah. Usai sangat pagi. Biasanya, setelah menghabiskan bekal, kita berdua akan ribut menentukan akan menonton film apa, pergi ke taman mana, atau mau mencari buku dan CD apa. Tapi, tidak dengan hari ini.
Hari kemudian, aku sampai di kampus, sendirian. Setelah pagi kemarin hingga detik ini, aku tidak menemukannya, baik di handphone-ku maupun di bangku kelas kesukaannya. Tidak ada respon balik, berulang kali aku whatsapp, centang satu, aku telepon, handphone-nya tidak aktif.
Kamu kemana ?
Setidaknya, apa kamu tidak bisa memberiku kabar bahwa kamu baik-baik saja ?
Itu sudah lebih dari cukup.

.......
Pagi dengan perasaan yang lebih baik dari satu bulan yang lalu.
Sepertinya matahari ingin ikut menemaniku hari ini. Berbekal jaket, sarung tangan, dan masker, aku telusuri jalan kota Jogja menuju kampus.
Jogja sepertinya memang diciptakan dari rindu. Beberapa meter saja aku keluar dari rumahku, selalu ada bayang-bayang gelak tawa saat itu. Angkringan berjejeran tersaji manis di pinggir jalan dekat rumah. Makan di angkringan dan kamu yang selalu menghabiskan nasi sambal teri tiga buah dan aku yang hanya cukup dengan nasi sambal tempe dua buah. Becak yang beriringan, mengingatkanku pada kita yang pernah iseng ke kampus naik becak karena motor kesayanganmu tiba-tiba macet karena lupa diservis. Jogja memang terbuat dari rindu, bagi mereka yang pernah bercerita di jalanan kota Jogja.

Sesampainya di kampus pagi itu.
Aku letih, mendengar teman-teman yang seakan-akan peduli dengan hatiku. Peduli ? Atau hanya ingin tahu dan melebih-lebihkannya dari mulut ke mulut.
Kalau saja aku tahu mengapa, sudah aku susun kata-kata dengan baik, sudah aku kuatkan hatiku, untuk menjawab cecaran pertanyaan mereka.
Untuk tahu jawabannya saja aku tidak, bagaimana untuk menguatkan hati.
Iya, sudah satu bulan yang lalu, kamu menjemputku di depan rumah, kita pergi ke kampus, menjalani semua dengan sangat baik-baik saja. Hingga usai kuliah pagi itu, kamu pergi dan entah. Se-entah perasaanku berminggu-minggu setelah kamu pergi.
Dan saat itu juga, ingin aku pastikan bahwa aku sudah tidak apa-apa. Walaupun jauh di alam bawah sadarku, aku ingin tahu, kamu kemana ?

.........
“Selamat pagi.”
Deg.
Suara dosen Komunikasi Dasar membuyarkan lamunanku pada bangku kosong kesukaan seseorang yang pernah ada mengisi hari-hariku.
Tepat dua bulan sudah, hari ini, bulan basah kesukaanku, pagi yang sendu waktu itu, aku duduk lemas menaburkan bunga di gundukan tanah itu. Lamat-lamat aku mencoba menguatkan diri, memastikan bukan namamu yang ada di nisan itu. Tapi, semakin aku  coba, namamu semakin jelas di situ.
Kamu pergi, dengan rasa sakit yang lebih karena kamu menjagaku. Membuatku untuk tidak tahu apa-apa tentang sakitmu.
Kamu pergi, dengan umpatan-umpatanku karena kamu pergi begitu saja sejak pagi itu usai kelas pagi.

Dan sejak dua bulan yang lalu, aku tidak akan pernah menyesal pernah mencintaimu dengan sangat. Tenanglah di sana, kamu, seseorang yang pergi saat bulan basah kesukaan kita.

Kamis, 11 Januari 2018

Zona Waktu


Sudah beberapa hari berlalu setelah sorak sorai kembang api di langit gelap malam hari itu.
Gegap gempita yang hanya berlangsung paling lama tiga jam itu, menyisakan pikiran-pikiran yang tak karuan persis ributnya suara terompet masuk dari telinga kanan pun kiri yang riuh.
Rasanya baru kemarin menghitung mundur waktu merayakan pergantian angka tahun sama seperti malam itu. Sekarang sudah mulai melanjutkan langkah untuk mengisi hari, menelaah kembali mimpi yang tertunda, pun menyiapkan diri menghadapi cecaran-cecaran omongan orang yang tidak tahu menahu tentang berproses.

Hingga suatu pagi, aku tertegun pada sebuah kiriman video singkat di media sosial.
“New York, tiga jam lebih awal dari California, tapi tidak berarti California lambat.”
“Ada orang yang masih sendiri, ada juga orang yang sudah menikah.”
“Ada orang yang lulus kuliah di usia 22 tahun, tetapi menunggu lima tahun untuk bekerja.”
“Yang lainnya, lulus di usia 27 tahun, tetapi ia langsung bekerja.”
“Seseorang menjadi CEO di usia 25 tahun, tetapi meninggal di usia 50 tahun.”
“Yang lain menjadi CEO di usia 50 tahun, tetapi hidup hingga usia 90 tahun.”
“Obama pensiun di usia 55 tahun, sedangkan Trump maju di usia 70 tahun.”

Seperti itulah yang dimaksud “setiap orang memiliki zona waktunya masing-masing.”
Tidak ada yang bisa mengatakan “Kamu terlambat” ketika kamu sudah bekerja di zona waktumu sendiri.

Menyingkirkan pertanyaan-pertanyaan kolot semacam “Kapan lulus ?”, “Kapan menikah?”, “Kapan punya anak ?”, “Kapan menambah momongan?” dari orang-orang yang sudah lulus, sudah menikah, ataupun sudah memiliki momongan tidak akan sesederhana kamu menghabiskan segelas es jeruk di terik siang.
Hanya saja,
Kamu hanya perlu mendiamkan mereka, dan tetap bekerja di zona waktumu.

“California mungkin akan menjadi tidak semaju saat ini ketika ia tiga jam lebih lama dari New York.”
“Belum tentu orang yang sudah menikah memiliki kebahagiaan lebih dibandingkan orang yang masih sendiri di usia yang sama.”
“Lulus di usia 27 tahun tetapi langsung bekerja, tidak membuang waktu banyak dibandingkan lulus di usia 22 tahun tetapi menunggu lima tahun untuk mendapatkan pekerjaan.”

Dan dengan berbagai perbandingan-perbandingan zona waktu lainnya, sudah semestinya proseslah yang diagung-agungkan, bukan hanya kemudahan jawaban atas pertanyaan-pertanyaan kolot yang seringkali ingin aku balas dengan lemparan senyum sebatas bibir kiri mengangkat sedikit.
Tuhan tidak mungkin memberatkan kaum-Nya untuk bekerja di zona waktu orang lain.

Dan kita, sejatinya hanyalah kaum-Nya yang sudah diberi zona waktu sendiri untuk merangkak, berdiri, berjalan, pun berlari menuju mimpi.

Dan mereka, seharusnya merenungi diri sebelum mengumpat, apakah berada di zona waktu yang tepat ?

Iya, setiap orang memiliki zona waktunya masing-masing dan mulailah merajut mimpi sebelum datang lagi keriuhan pesta kembang api pengingat pergantian angka tahun.