Tidak semua yang ada di
dunia ini selalu berjalan seperti semestinya.
Ia yang selalu tepat
waktu, kadang terlambat karena menemukan halangan di tengah jalan.
Ia yang berjalan cepat,
kadang menyempitkan langkahnya karena tanah yang ia lewati berlumpur.
Ia yang selalu di depan,
kadang melambat karena harus bersisian dengan lainnya.
Ia yang penuh ambisi,
kadang harus melemahkan ego agar tetap berdiri.
Ia yang tidak pernah
lelah, kadang duduk tersungkur, berkeringat, lelah.
Ia yang menebarkan tawa,
kadang ingin menyendiri karena butuh ruang untuk mengusap air mata.
Tidak ada yang salah
dengan kadang menjadi tidak semestinya.
Selagi ia tidak mematikan
waktu dan berhenti.
Berdamai dengan diri
sendiri.
Tetap berjalan biar
melambat.
Tetap tegak biar tersungkur.
Bersisian dengan “kata
mereka” yang mencaci dan menumbangkan.
Setidaknya ada cahaya
yang tidak pernah padam dan akan terus ada di sisi.
Tidak mengapa.
Ia akan menemukan
perjalanannya sendiri.
Bukan lagi tentang ia
akan menjadi “semestinya kata mereka.”
Ia akan semestinya,
seperti semestinya Ia.




