Teruntuk mereka, kaum
patah hati di kota sejuta kenangan, Jogja.
“Jatuh cintalah di Jogja dan kamu akan se-jatuh-jatuhnya
jatuh cinta dengan Jogja.”
Bagaimana tidak, siapa
yang tidak terpikat dengan aura magis kota ini.
Tiap sudutnya, selalu
ada rindu.
Tersaji lugu namun
selalu berhasil membuat rindu.
“Jogja memang tercipta dari kenangan.”
Siapa yang pernah
menginjakkan kaki di tanah Jogja, pasti akan selalu terkenang.
Walau hanya sekelebat.
Rasanya ? Pasti ingin
kembali, lagi.
“Jogja berhati mantan.”
Berat pasti, mencintai
Jogja yang terbentuk dari patah hati.
Ketika melewati
jalan-jalan Jogja yang sendu.
Sembari mendengarkan
lagu-lagu nostalgia penuh arti.
Ingin rasanya pergi dari
kota ini, tapi bagaimana, sudah terlanjur jatuh hati.
Bertahun-tahun membangun
asa.
Menciptakan rasa.
Menjajal kenangan.
Di tiap-tiap sudut kota.
Di gang-gang kecil nan
ramah.
Di warung-warung lima
ribuan.
Di iring-iringan musik
pengamen jalanan.
Di senja yang menutup
hari.
Di pasir pantai yang
memecah langkah.
Di atas awan penuh
ketakjuban.
Di ketinggian yang membuat
lupa takut.
Di Jogja yang membuatmu
jatuh cinta sekaligus patah hati.
Di hatimu, yang entah.
Jika pernah patah,
Kembalilah suatu saat
lagi kemari.
Bernostalgia.
Dengan asamu yang
ternyata tidak bisa menjadi nyata.
Dengan rasa yang pernah
kamu cipta tapi harus kamu enyahkan.
Dengan kenangan yang
pernah kamu jajal meski sekarang harus tetap kamu peluk erat.
Di tiap-tiap sudut kota.
Di gang-gang kecil nan
ramah.
Di warung-warung lima
ribuan.
Di iring-iringan musik
pengamen jalanan.
Di senja yang menutup
hari.
Di pasir pantai yang
memecah langkah.
Di atas awan penuh
ketakjuban.
Di ketinggian yang membuat
lupa takut.
Di Jogja yang membuatmu
jatuh cinta sekaligus patah hati.
Di hatimu, yang entah.
“Jogja terbentuk dari kenangan.”
Kembalilah suatu saat
nanti.
Untuk memeluk erat.
Karena tidak ada yang
tidak bisa jatuh cinta dengan Jogja,
Meski telah berkali-kali
patah di kota ini.




