Jumat, 06 Juli 2018

Kaum Patah Hati, di Kota Sejuta Kenangan, Jogja



Teruntuk mereka, kaum patah hati di kota sejuta kenangan, Jogja.

“Jatuh cintalah di Jogja dan kamu akan se-jatuh-jatuhnya jatuh cinta dengan Jogja.”
Bagaimana tidak, siapa yang tidak terpikat dengan aura magis kota ini.
Tiap sudutnya, selalu ada rindu.
Tersaji lugu namun selalu berhasil membuat rindu.

“Jogja memang tercipta dari kenangan.”
Siapa yang pernah menginjakkan kaki di tanah Jogja, pasti akan selalu terkenang.
Walau hanya sekelebat.
Rasanya ? Pasti ingin kembali, lagi.

“Jogja berhati mantan.”
Berat pasti, mencintai Jogja yang terbentuk dari patah hati.
Ketika melewati jalan-jalan Jogja yang sendu.
Sembari mendengarkan lagu-lagu nostalgia penuh arti.
Ingin rasanya pergi dari kota ini, tapi bagaimana, sudah terlanjur jatuh hati.

Bertahun-tahun membangun asa.
Menciptakan rasa.
Menjajal kenangan.
Di tiap-tiap sudut kota.
Di gang-gang kecil nan ramah.
Di warung-warung lima ribuan.
Di iring-iringan musik pengamen jalanan.
Di senja yang menutup hari.
Di pasir pantai yang memecah langkah.
Di atas awan penuh ketakjuban.
Di ketinggian yang membuat lupa takut.
Di Jogja yang membuatmu jatuh cinta sekaligus patah hati.
Di hatimu, yang entah.

Jika pernah patah,
Kembalilah suatu saat lagi kemari.
Bernostalgia.
Dengan asamu yang ternyata tidak bisa menjadi nyata.
Dengan rasa yang pernah kamu cipta tapi harus kamu enyahkan.
Dengan kenangan yang pernah kamu jajal meski sekarang harus tetap kamu peluk erat.
Di tiap-tiap sudut kota.
Di gang-gang kecil nan ramah.
Di warung-warung lima ribuan.
Di iring-iringan musik pengamen jalanan.
Di senja yang menutup hari.
Di pasir pantai yang memecah langkah.
Di atas awan penuh ketakjuban.
Di ketinggian yang membuat lupa takut.
Di Jogja yang membuatmu jatuh cinta sekaligus patah hati.
Di hatimu, yang entah.

“Jogja terbentuk dari kenangan.”

Kembalilah suatu saat nanti.
Untuk memeluk erat.
Karena tidak ada yang tidak bisa jatuh cinta dengan Jogja,
Meski telah berkali-kali patah di kota ini.