Katanya,
Ayah itu cinta pertama bagi anak perempuannya.
Benar, kataku.
Laki-laki itu.
Entah ada di usia berapapun, akan tetap selalu berdiri
tegak di sampingku.
Entah ada di usia berapapun aku, ia akan tetap membuatku
menjadi sosok anak kecil yang bergelut
manja di lengannya.
Aku tidak pernah tidak bisa menangis.
Saat ia menungguku meninggalkannya di stasiun kota kecil
itu, hingga keretaku melaju.
Dan aku, hanya mampu meraihnya dalam doa dari balik
jendela
sembari berkata, “Aku akan selalu sempat pulang.”
Mereka boleh saja bilang aku perempuan manja
Sudah seperempat abad lebih saja masih tidur di ketiak
Ayah
Tapi bagiku, aku perempuan beruntung
Karena jatuh cinta sedalam ini pada laki-laki itu
Laki-laki yang tidak pernah membuatku patah hati
Laki-laki yang selalu menjaga pun mencintaiku
Ia, cinta pertamaku.
Kini,
Bolehkah aku saja yang menjagamu ?
Jangan makin keras kepala
Karena aku sangat tidak ingin kehilanganmu
Sebentar saja
Rebahkan punggungmu
Usap peluh keringatmu
Duduk dan nikmati teh hangat buatanku
Cukupkan guratan-guratan keras di tanganmu
Cukupkan lelahmu
Dan biarkan aku yang berpeluh
Payung ini biar aku yang pegang
Dan kita berjalan berdua
Tidak lagi, jangan lagi, hanya aku yang mendapat teduh
Dan bajumu basah kuyup
Aku sudah tidak cepat pusing setelah kehujanan, seperti
saat aku di Taman Kanak-kanak
Seberuntung ini ternyata rasanya.
Ketika Tuhan memilihkanmu menjadi cinta pertamaku.
Dan aku akan selalu seperti ini
Menjadikanmu satu-satunya cinta pertamaku
Jaga kesehatan.
Jangan keras kepala.
Pintaku.




